Legendabuana’s Weblog

hanya sekedar kata dan kalimat yang merupakan buah pikiranku

Warna Kenangan itu Putih

Posted by legendabuana on February 13, 2009

Rumah itu berwarna putih. Secara keseluruhan berwarna putih. Pagarnya hingga keramik lantainya berwarna putih. Tidak terlalu besar, tetapi cukup besar untuk tempat tinggal keluarga beranak satu. Ditambah paviliun kecil yang juga berwarna putih di bagian belakang rumah serta halaman depan dan samping yang cukup luas. Rumah itu lebih dari cukup bagi keluarga kami.

Dibangun sejak tahun 1930-an, unsur-unsur arsitektur Belanda masih lekat di bangunan itu. Mulai dari bentuk atap limas hingga bentuk jendela serta pintunya. Nenekku lahir di situ. Ibuku lahir di situ. Aku pun lahir di situ. Pada saat nenek lahir, warnanya pun sudah putih. Nenek menikah, warna bangunan itu mulai kelabu. Dicat kembali, mungkin dengan permintaan nenek buyutku. Pada saat ibuku lahir warna bangunan itu kembali putih. Ibuku menikah, warna bangunannya jadi kelabu. Dengan permintaan nenekku, pada saat aku lahir, warna bangunan itu pun putih kembali.

Saat itu aku masih duduk di sekolah dasar, ketika ibuku memutuskan pindah ke rumah lain yang dekat dengan kantornya di daerah Blok M.

“Jauh dari kantorku, Bang,” serunya kepada ayahku, pada suatu malam ketika rasa kantukku belum datang. Aku bangun dan duduk di pinggir ranjang mendengarkan. Ayah dan ibuku di ruang tengah tepat di depan kamarku.

“Tapi rumah ini sudah jadi sanggar teaterku. Dekat dengan pusat kesenian. Kalau ada pertunjukan kan anak-anak juga cepat beristirahat,” kata ayahku pelan.

“Sudah, jadikan saja rumah ini sanggarmu. Kita pindah ke daerah Blok M,” seru ibuku.

“Carilah rumah yang kau mau dekat kantormu. Biar rumah ini jadi sanggar teaterku,” lanjut ayah.

“Rumah ini saja jadi sanggar teatermu. Paviliunnya kontrakkan saja, lumayan juga untuk dana kebersihan rumah, bagaimana?” tanya ibu setelah beberapa saat terdiam.

“Baiklah, kalau itu maumu,” ayah berkata pelan.

“Aku akan beli cat putih besok, kita cat paviliunnya supaya lebih bersih dan orang mau menyewa. Sudah mulai kelabu warna paviliun itu.”

Atau permintaan ibu, rumah itu pun dicat putih kembali, tetapi hanya paviliun belakang. Bukan karena aku akan menikah, tetapi untuk orang yang akan menyewa tempat itu.

***

Di hari Minggu, aku diajak ibu jalan-jalan ke daerah Blok M, makan Bakmi Boy, dan melihat-lihat rumah di daerah yang dekat dengan kantor ibu.

“Lihat, Gadis, lihat rumah itu,” seru ibu menunjuk rumah warna pastel dan halamannya kecil. “Bagus ya? Itu akan jadi rumah kita,” seru ibu senang.

Aku tidak suka melihatnya. Krem. Aku heran dengan selera ibu. Warna krem? Yang benar saja. Bagiku warna rumah yang sempurna adalah putih. Putih merupakan warna dasar dan aku bisa menaruh berbagai macam warna lain di dalamnya. Seperti rumah putihku. Aku bisa memasukkan bermacam barang berwarna-warni dan “warna” kenangan ke dalamnya tapi tetap menjadikan rumah itu apik. Aku selalu seperti itu, setiap kenangan selalu aku identikan dengan warna dan aku menyebutnya “warna kenangan”.

Warna krem pasti hanya warna-warna cokelat saja bisa masuk ke dalamnya. Aku tidak suka cokelat. Suram, bagiku. Ibuku menanyakan aku lagi, “Bagus kan rumahnya, Gadis?”

Aku hanya diam. Aku tak suka. Aku suka rumah putihku. Kemudian aku menggeleng.

“Kenapa, Gadis?”

Aku tetap diam dan melihat halamannya. “Dimana aku bisa bermain? Halamannya kecil. Aku tidak bisa berlari mengejar Pak Pong,” seruku menyebut nama anggota teater ayahku yang kerap mengajakku berlari sambil bermain bola. Pak Pong ramah dan menyenangkan. Badannya besar, langkahnya pun lebar. Aku berlari beberapa langkah, dia bisa menangkapku hanya dalam sekali langkah.

“Pak Pong ada di rumah Menteng, rumah itu jadi sanggar ayah. Rumah kita nanti di sini. Kamu tetap bisa berlarian di rumah Menteng, kok,” kata ibu.

“Tapi rumah ini berwarna krem, bukan putih,” seruku.

“Kita bisa mencatnya jadi putih.” Aku pun terdiam.

Beberapa minggu setelah aku dan ibu mengunjungi rumah itu, kami pindah. Lebih kecil dari rumah putihku. Lebih sepi pula. Hanya beberapa barang yang dipindahkan. Sekolahku pun pindah.

Sekian tahun aku tinggal di rumah krem itu. Warnanya pun tetap krem, tidak dicat putih seperti mauku. Terkadang aku datang ke rumah putihku dan melihat beberapa barang tempatnya berubah. Kamarku sudah tidak seperti dulu, berganti jadi ruang kostum. Halamannya yang besar jadi sempit sebab seniman-seniman artistik teater ayahku menjadikannya tempat kerja. Tadinya mereka bekerja di halaman paviliun, karena disewa mereka pindah ke halaman depan rumah putihku. Teater ayahku mengalami masa kejayaan ketika aku di sekolah menengah. Selama hampir dua minggu pertunjukan, bangku-bangku penonton selalu penuh. Ayahku pun makin sering berada di rumah putih itu. Sementara ibu tidak lagi bekerja tetapi tetap menulis cerita pendek di rumah krem.

Tahun berganti tahun dan teater ayah makin surut penonton sebab makin banyak bioskop. Orang lebih menyukai visual layar lebar ketimbang pertunjukan teater. Toko bukunya pun makin sedikit dikunjungi pelanggan. Orang lebih menyukai visual yang seakan hidup. Stasiun televisi juga makin banyak, menayangkan sinetron.

Aku di tingkat akhir kuliahku ketika teater ayah mulai ditinggalkan penonton dan anggota. Hanya tersisa Pak Pong yang membantu ayah di toko buku. Semakin sedikit pula orang membeli buku, padahal toko buku ayah berada di pusat kesenian. Cerita-cerita ibu pun semakin sedikit muncul di media sebab banyak penulis baru yang ceritanya lebih disukai.

“Kebutuhan sehari-hari makin mahal,” seru ibu ketika aku sedang mengerjakan skripsiku di ruang tengah. Aku lirik ayah. Beliau mengangguk sambil menghisap rokok dalam-dalam.

“Baiknya bagaimana, Yah?” tanya ibu. Dari nadanya terdengar ibu sedikit histeris. Panik. Baru kali ini selama hidup kami, keuangan keluarga berada pada masa krisis.

“Kebutuhan sehari-hari, pengeluaran bulanan, uang kuliah Gadis, hidup kita ke depannya, bagaimana, Yah?” tanya ibu lagi. Aku terdiam. Aku belum berencana bekerja untuk membantu ayah dan ibu sebab fokusku masih tertuju pada skripsi.

“Aku jual rumah itu, ya?” ibu minta persetujuan ayah.

“Apa memang tidak ada jalan lain? Rumah itu warisan orang tuamu,” seru ayah.

“Habis, bagaimana lagi? Tulisanku kadang dimuat kadang tidak. Toko bukumu, sepi. Kebutuhan hidup tidak bisa menunggu sampai kita dapat uang.”

“Rumah di Menteng mau Ibu jual? Kenapa tidak dikontrakan saja?” tanyaku.

“Kalau dikontrakkan, harus dirapikan dulu, Gadis. Uang darimana untuk merapikan?”

Aku terdiam.

“Lagipula, sudah ada yang mau beli rumah itu. Bagaimana, Yah?” Ibu selalu bertanya “Bagaimana?” sementara dia sebenarnya tahu yang harus di lakukan. Ya, ia lakukan, bukan ayah atau aku. Walau ayah memberi cara lain ibu tetap melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.

“Terserah,”sahut ayah seraya bangkit, masuk ke kamar.

“Gadis?” ibu bertanya padaku.

“Di rumah itu terdapat banyak kenangan, Bu. Apakah tidak ada jalan lain?” tanyaku.

“Jalan lain apa? Berhutang? Ibu tidak mau ada hutang,” seru ibu. Aku terdiam dan seperti ayah, aku berkata, “Terserah ibu”.

***

Wangi cat menyebar ke seluruh ruangan. Rumah putihku, dicat kembali sebab warnanya sudah kelabu. Rumah itu dicat kembali untuk menjadikannya cerah. Putih kembali. Rumah itu dicat kembali bukan karena aku akan menikah atau melahirkan anakku. Rumah itu dicat kembali karena akan dijual untuk kebutuhan hidup kami.

Warna kenangan itu putih. Dan aku menatap rumah putih itu untuk terakhir kalinya. Aku rasa ibu tidak memiliki perasaan akan “warna kenangan” itu. Tetapi apa yang aku rasakan tiba-tiba menguap entah ke mana, ketika kami akan meninggalkan rumah itu setelah memberikan kunci kepada pemilik baru, dan ibu berkata, “Rumah itu kenangan yang putih.” Dan airmatanya menetes ke pipi. Walau ditutupinya, ibu pasti memiliki perasaan yang sama denganku. Warna kenangan itu adalah putih.

Jakarta, 11 Februari 2009

Posted in idealisme | Leave a Comment »

Aku Menyayanginya Bagai Nafas

Posted by legendabuana on February 13, 2009


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:0in; margin-left:1.5in; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; text-indent:-.25in; line-height:200%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Ia duduk di hadapanku menghirup hot chocolate-nya yang kental. Kemudian ia menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asap tebal dari mulutnya. Ia melirik kepadaku, dengan matanya yang tajam, dan membuat jantungku berdebar keras. Ia tersenyum dan bertanya, “kenapa?”

Aku menggeleng dan tersenyum. Ia pun membalas senyumku. Kemudian ia menghirup hot chocolate-nya lagi dan setelah itu,sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, ia menatap jauh ke belakangku. Ia melamunkan mimpi-mimpinya mungkin, dan aku tak kuasa untuk mengganggunya. Yang bisa kulakukan hanya menatap laki-laki itu.

Laki-laki itu datang dalam kehidupanku, tanpa aku duga. Tiba-tiba Ia datang mewarnai hidupku. Seperti dirinya yang kerap kali mewarnai kanvas putih, ia pun mewarnai “kanvas hidupku”. Begitu pula aku yang mengajarinya untuk mengekspresikan diri dengan kata-kata. Dengan kata-kata, Aku pun mewarnai hidupnya dengan warnaku sendiri.

Coklat, abu-abu, hitam, itu adalah warnanya. Kuning, merah, oranye, itu warnaku. Ia melembutkan hidupku dengan warnanya sedang aku membuat ceria hidupnya dengan warnaku sendiri serta kata-kata sayang yang kerap terucap dari mulutku. Apakah kata-kata sayang itu hanya sekedar terucap di mulut? Yang pasti, hatiku sering mengucapkan kata-kata itu. Aku menyayanginya seperti aku bernafas dan kata-kata sayang itu mengalir dari hatiku seperti air.

Ia seorang pemimpi yang terus mengejar mimpinya. Aku tahu itu dari sorot matanya. Sebab itu pula aku menyayanginya lebih dan lebih lagi. Kesabarannya menghadapi kekeraskepalaanku terkadang membuatku menangis, tetapi aku menyukai ia yang bersabar. Aku menyukai ia yang pemimpi, aku menyukai ia yang mewarnai hidupku, aku menyukai keseluruhan dirinya. Rasa suka itu terkadang membuatku sesak. Dan pada akhirnya aku hanya menghela nafas, aku menyayanginya seperti aku bernafas.

“Pulang yuk,” ajaknya.

“Hot Chocolatenya udah habis?” tanyaku. Dan ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Aku berdiri dan menggandeng dirinya.

Matanya masih menerawang seakan hanyut dalam mimpinya. Aku mengecup pipinya dan matanya tertuju padaku. Hanya kepadaku. Seakan aku pun terbawa dalam mimpinya. Aku ingin masuk ke dalam mimpinya. Apakah aku merupakan salah satu dari bagian mimpinya? Apapun itu, aku hanya menyayanginya bagai nafas,

Jakarta, 3 Februari 2009

Selamat Ulang Tahun, sayang

Aku terus menyayangimu bagai aku bernafas

Posted in realisme | 1 Comment »

Aku, Rio, Leo, dan Anak Rambutku

Posted by legendabuana on July 8, 2008

Sayang…sayang…anak rambutku sayang…

Entah kenapa aku sangat menyukai anak rambutku. Halus, hitam, lebat. Tumbuh di atas dahi dan ketika aku ikat rambutku, anak rambut itu seperti membentuk frame yang membingkai wajahku dengan manis. Tetapi terkadang rambutku terkesan berantakan karena anak rambutku yang sulit diatur. Kata orang, kalau sulit diatur itu artinya si empunya juga sulit diatur. Mungkin juga aku sulit diatur. Keluargaku memandang aku sebagai anak yang tidak dapat diatur. Aku selalu menyangkal semua aturan orang tuaku. Mungkin tidak semua, hanya beberapa yang kuanggap tidak benar maka akan kusangkal. Itulah kenapa keluargaku memandang aku sulit diatur.

Kembali ke soal anak rambut, aku benar-benar memelihara anak rambutku seperti aku memelihara rambutku. Terkadang kalau sedang creambath di salon, banci-banci salon itu selalu melupakan anak rambut karena bagi mereka yang penting rambutnya, aku selalu berpesan kepada salah satu banci salon langgananku agar seluruh rambut beserta anak rambutku ikut diberi cream dan meminta dipijat bagian dahiku agar merangsang pertumbuhan anak rambutku. Apakah ada pengaruhnya atau tidak, aku tak tahu. Yang pasti aku sangat menyayangi anak rambutku.

***

Bulan Juni tahun ini usiaku bertambah. Seperempat abad sudah aku hidup. Sebagai seorang wanita, sudah sepantasnya aku menjadi seorang ibu. Menikah dan memiliki anak seharusnya menjadi tahap kehidupanku selanjutnya setelah karir yang aku jalani terus meningkat. Tetapi sebagai seorang perempuan yang memiliki darah Jawa dan calon suami yang juga memiliki darah Jawa, pernikahan kami nanti pasti akan memakai adat Jawa. Dalam adat Jawa, perempuan yang menikah harus dicukur anak rambutnya sama seperti di India yang menandainya dengan bindi berwarna merah di dahi. Aku belum siap untuk mencukur anak rambut yang sangat kusayangi ini. Lagipula, apakah aku yakin untuk menghabiskan sisa hidupku bersama laki-laki yang sedang dekat denganku saat ini?

Pertanyaan yang klise, ujar salah seorang kawan. Kalau kamu mencintai dia berarti kamu yakin untuk hidup bersamanya. Mungkin juga. Tetapi, apakah aku harus membuktikan dulu keyakinanku misalkan dengan cara traveling berdua dengannya atau mencoba untuk tinggal satu atap dengannya? Ide gila.

Meyakinkan diri bahwa Rio bisa menjadi suami yang baik sebenarnya tidak sulit. Maksudku, sudah hampir 4 tahun kami dekat dan dia cukup membuktikan bahwa ia setia dan menghormatiku sebagai wanita. Ia memiliki karir yang baik dalam arti jabatan serta finansial. Selama 2 tahun terakhir ini ia ditugaskan oleh kantornya ke Tokyo. Ia berharap aku bersedia menikah dengannya dan aku akan diboyong pula ke Tokyo. Walaupun terpisah jarak ribuan kilometer dan dalam 2 tahun ini kami bertemu kurang lebih 3 kali, tetapi ia terus mencintaiku. Apalagi yang kurang? Mungkin tidak ada yang kurang hingga akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang sangat berbeda dari Rio. Ia senior satu angkatan di atasku di kampus. Namanya Leo.

Berawal dari pesan singkat yang menanyakan kabarku. Aku tidak mengenal nomor yang mengirimkanku pesan, maka aku membalasnya karena aku pikir ia adalah Leo teman sekolahku dulu. Terus menerus selama dua hari kami saling membalas pesan singkat yang dikirimkan. Hingga pada hari selasa malam ia menungguku di lobby kantor. Aku tertawa melihatnya karena ternyata ia seniorku di kampus dulu.

Beberapa kali kami jalan bersama setiap jam kantor usai. Aku tidak pernah memberitahukan statusku yang sudah memiliki kekasih yang ingin menikahiku. Aku sangat menikmati waktu-waktu yang kuhabiskan bersamanya. Dengan tidak adanya Rio di sampingku, maka aku memiliki waktu yang lebih bersama Leo.

Lama-kelamaan timbul rasa nyaman bila bersama Leo. Dan ini sangat berbahaya, karena bisa-bisa aku jatuh cinta padanya. Mumpung rasa itu masih dapat aku kendalikan, aku pun menganggap Leo sebatas sebagai teman.

Mungkin karena terbawa suasana, pada kamis malam seusai clubbing, ia mencium bibirku sambil membelai lembut anak rambutku yang turun ke dahi dan aku hanya terdiam menikmatinya. Sesampainya di rumah, aku terus memikirkan ciuman itu. Apakah ini yang dinamakan dengan selingkuh?

“Wuah gaya hidup kamu benar-benar metrosexual ya?” ujar salah seorang teman setelah aku menceritakan hubunganku dengan Leo.

“Lagipula, kamu mau dan dia mau, ya sudah. Jalani saja tanpa pakai perasaan,” kata temanku yang lain.

Ya, jalani tanpa menggunakan perasaan. Mungkin aku sudah terbawa perasaan karena aku sudah terbiasa bersamanya, walaupun selama empat tahun aku terbiasa dengan kehadiran Rio. Tapi sejak Rio pindah ke Tokyo, aku merindukan kehadiran seorang laki-laki di sisiku. Dan Leo yang mengisinya beberapa bulan terakhir ini. Tidak hanya mengisi hari-hariku, ia juga memberikan ciuman-ciuman yang liar dan belaian tangannya pada anak rambutku dengan lembut. Sama seperti aku yang menyukai anak rambutku, Leo pun menyukai anak rambutku.

Bingung memikirkan segalanya. Dan bila aku sudah bingung, tanpa sadar jari-jari tanganku mulai memainkan anak rambut kesayanganku.

***

Satu hal yang aku sadari adalah, sejak awal Leo memang tidak berniat serius denganku. Hal yang sangat nyata adalah suku dan agamanya beda denganku. Di dalam keluarganya, ia diharuskan menikah dengan suku yang sama untuk meneruskan marga keluarganya, karena ia anak laki-laki satu-satunya. Sedangkan aku adalah peranakan Padang-Jawa yang memegang teguh keyakinan dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw untuk umat manusia. Jadi, bagaimana mungkin kami akan menjalin hubungan yang serius? Yang ada saat ini hanyalah hubungan sesaat yang sangat aku nikmati. Sempat terlintas dalam benakku, berdosakah aku terhadap Rio karena memiliki hubungan sesaat dengan Leo? Tidak munafik, aku pun tertarik dengan Leo padahal aku tahu hubungan ini tidak akan berkembang.

Aku pun tahu bahwa aku hanya sekedar wanita pelarian Leo. Maksudku, ia baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya tanpa ada alasan yang jelas. Ia pernah berkata, “Aku bisa memendam rasa cinta terhadap kekasih yang meninggalkan aku. Tapi aku tidak bisa menghilangkan kebiasaan mencium seorang wanita dan bercinta dengan wanita”.

Aku pun sudah menegaskan bahwa hubungan apapun yang akan kami jalani buatku tidak masalah, asal tidak bercinta. Bercinta dengan seseorang yang baru aku kenal adalah perbuatan gila. Aku masih menghormati nilai-nilai bercinta yang suci.

Di sudut sebelah kanan bawah layar komputerku ada yang berkedip. Ada email baru masuk di inbox-ku. Aku arahkan mouse-ku ke inbox.

From: Rizkyo

To: Gadis

Sent: Thursday, November 2, 2006, 01.34 PM

Message: babe, bulan depan aku ada rapat besar di Jakarta. Aku kangen kamu. Ada yang ingin aku bicarakan juga. Aku harap kali ini kamu menjawabnya. Love U…

Aku tahu pasti yang akan dibicarakan Rio. Mengenai pernikahan. Aku menghela nafas panjang. Pernikahan. Ada sedikit keraguan dalam diriku untuk menikah dengannya. Entah apa arti dari keraguan ini.

Telepon selulerku berbunyi, segera aku lihat layar yang tertera. Leo. Aku tersenyum.

“Ya Leo, ada apa?” sapaku sambil berjalan menuju toilet wanita.

“Kemarin aku bertemu Lola,” jawabnya. Hatiku mencelos ketika ia menyebut nama kekasih yang meninggalkannya.

And then?” tanyaku sedikit tidak bersemangat.

“Aku ingin dia tetap menjadi kekasihku. Tapi dia masih ragu, begitu pula aku.”

“Lho kenapa ragu?”

“Dia mau sekolah lagi ke luar negeri.”

“Lalu apa masalahnya?”

“Dia mau sekolah ke luar negeri,” ulangnya dengan gemas.

“Memang ada masalah dengan hal itu?” tanyaku heran, “kamu cinta dia dan dia juga cinta kamu kan?”

“Ya, tapi dia mau ke luar negeri selama 2 tahun. Orang yang sudah menikah dan terpisah jarak saja bisa selingkuh,” katanya kesal.

“Kamu selalu berpikir buruk. Menurutku, tidak ada permasalahan. Asal ada cinta, rasa percaya, dan komunikasi. Lagipula dia cocok sama kamu. Dia pariban[1] kamu, kan?”

“Tidak semudah itu,” jawabannya membuatku heran. Apalagi yang ia permasalahkan? Lola yang sangat ia cintai ternyata masih mencintai dia. Hanya karena wanita itu ingin sekolah ke luar negeri, ia ragu untuk menjalin lagi hubungannya dengan Lola.

Tersadar akan sesuatu, aku pun memikirkan kembali hubunganku dengan Rio. Aku sangat mencintai Rio. Dan Rio pun mencintaiku. Hal yang paling membuatku bahagia adalah Rio sangat menghargai seorang wanita. Walaupun ia sedikit pemalu dan tidak nakal seperti Leo, tetapi selama 4 tahun kami dekat, tidak sekalipun ia memaksakan kehendaknya kepadaku. Hubungan percintaanku dengan Rio berjalan lembut dengan penuh rasa cinta dan kasih. Sedangkan hubunganku dengan Leo, walaupun cuma sesaat dan tidak jelas, hanya hubungan fisik yang penuh dengan hasrat semata.

***

“Apa kabar? Kamu kelihatan lebih manis,” ucap Rio setelah mencium keningku. Aku tersenyum, jantungku berdetak lebih kencang. Bukan karena Rio mengucapkan kalimat tersebut tetapi karena ia makin terlihat tampan dan dewasa.

Tadi siang aku tidak bisa menjemput Rio di bandara dan malam ini aku sengaja datang ke rumahnya. Tidak mengerti kenapa aku lebih memilih datang ke rumah Rio ketimbang pergi bersama Leo yang mengajakku ke Venue-Kemang malam ini.

Berdampingan kami berjalan masuk ke ruang keluarga rumah Rio, Rio melingkarkan tangan kanannya di pinggangku.

“Mama dan Rei ke mana, Yo?” tanyaku menanyakan ibu dan adik perempuannya.

“Ke Bandung pagi tadi, jemput Papa, mungkin pulang besok,” jawab Rio.

Aku duduk di sofa besar di tengah ruang keluarga rumah Rio. Tanpa sadar tanganku mulai memainkan anak rambutku. Aku sangat menyukai ruang keluarga rumah Rio. Didominasi warna terakota yang hangat dan teduh, membuatku ingin berlama-lama di ruangan ini.

Rio mengambil tanganku dan menggenggamnya erat. Kemudian tangan kanannya merogoh saku celana jeansnya dan mengeluarkan cincin polos berwarna silver.

“Untuk kesekian kalinya aku bertanya. Maukah kamu menikah denganku?” tanya Rio dengan wajah bersemu merah. Aku tersenyum melihatnya dan tanpa sadar mengusap kepalanya. Aku ambil cincinnya dan aku pasangkan dijari manis tangan kananku.

“Ukurannya pas. Terima kasih,” ucapku dan kucium pipi kanannya. Rio hanya menatapku tanpa berkata apa-apa. Aku tertawa.

“Jadi, kapan keluarga kamu akan ke rumahku untuk melamar secara resmi?”

“Segera,” jawabnya pendek. Ia tersenyum dengan wajah yang bersemu merah.

***

Yang bisa aku lakukan, hanya tersenyum dan tersenyum sambil membayangkan wajah tampan Rio yang bersemu merah. Keputusanku untuk menikah dengannya mungkin membuatnya bingung. Aku pun bingung dengan keputusanku. Tetapi rasa sayangku pada Rio mengalahkan semuanya. Sebuah tekad mulai menyusup ke jiwaku. Aku ingin menikmati hidupku bersama Rio.

Dua malam setelah aku menerima lamaran Rio, keluarganya datang ke rumah. Secara resmi aku telah dilamar. Secara perlahan aku mulai menghindari Leo walaupun daya tarik seksualnya seperti menarikku ke dalam buaiannya. Tidak peduli betapa rindunya aku pada belaian dan ciuman Leo. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri. Dan sebentar lagi, anak rambutku akan dicukur pertanda aku resmi menjadi Ny. Rizkyo Pradono.

Tanggal sudah ditentukan dan persiapan pernikahan sudah dilaksanakan. Dua minggu lagi aku akan resmi menjadi Ny. Rizkyo Pradono. Jantungku berdebar menunggu hari pernikahanku. Menjelang pernikahanku, aku belum memberitahu Leo mengenai Rio dan pernikahanku. Beberapa kali kami bertemu karena ia menungguku di lobby kantor. Mau tidak mau, aku menemaninya makan malam atau hanya sekedar mendengarnya bercerita mengenai Lola yang tidak ingin melanjutkan hubungan dengannya lagi. Beberapa kali bertemu, beberapa kali pula ia berusaha menciumku dan selalu aku tolak. Aku sudah bertekad untuk menikahi Rio dan menjauhi Leo.

Hingga pada suatu siang, enam hari menjelang pernikahanku. Kami bertemu di rumah salah seorang teman perempuanku yang dekat dengan rumah Leo dan ia mengantarku pulang.

“Kenapa akhir-akhir ini kamu dingin terhadap aku?” tanyanya ketika kami sampai di daerah Permata Hijau.

“Dingin? Biasa saja kok,” jawabku.

“Tumben kamu ke rumah Reggy?” tanyanya lagi. Aku menghela napas panjang.

“Antar undangan,” jawabku pendek. Niatku, aku akan memberitahunya mengenai Rio dan pernikahanku.

“Undangan apa?” tanyanya bingung.

“Undangan pernikahanku,” jawabku menatap Leo.

“Pernikahan?” Ia mengerem mobilnya mendadak. Jantungku berdetak kencang.

“Kamu mau menikah?” tanyanya terbata-bata. Dan aku mengangguk mantap. Entah dari mana datangnya keberanian ini.

“Kenapa tiba-tiba? Bukannya kamu belum punya pacar?”

“Tidak tiba-tiba kok,” kemudian dengan rasa keberanian yang besar, aku bercerita mengenai hubunganku dengan Rio dan lamarannya yang tidak kunjung aku jawab, keraguanku akan suatu pernikahan, dan keputusanku untuk menikah.

“Tapi aku tetap bersyukur kamu hadir mengisi hari-hariku. Aku sangat berterima kasih atas semuanya. Ciuman-ciuman yang kamu berikan. Belaian-belaian lembut untuk anak rambutku. Cerita-cerita kamu mengenai hubungan kamu dan Lola membuatku tersadar kalau aku sangat mencintai Rio dan ingin hidup bersamanya melalui sebuah pernikahan,” jelasku. Wajah Leo berubah menjadi muram.

“Selamat ya. Semoga kamu bahagia,” katanya dengan suaranya yang khas. Berat dan hangat.

***

Besok adalah hari pernikahanku. Hari ini, anak rambutku yang aku sayangi sudah tercukur habis. Tetapi tidak dengan rasa sayangku terhadap Leo. Rasa itu tidak akan habis menurutku. Tapi, aku sudah mengubah rasa sayang yang penuh hasrat menggebu-gebu menjadi satu perasaan yang tulus.

Sayang…sayang…anak rambutku sayang….

Jakarta, 1 Desember 2006


[1] Pariban (bhs batak): anak perempuan dari adik laki-laki ibu yang boleh dinikahi.

Posted in idealisme | Tagged: | 2 Comments »

Pertemuan

Posted by legendabuana on July 8, 2008

Ia meniti jejak yang pernah ditinggalkannya. Menatap merahnya langit yang dalam sekejap berganti menjadi kelam. Ia meresapi hembusan angin. Seakan angin dapat menghapus kesalahannya. Ia membasuh wajahnya dengan air laut. Seakan air laut itu dapat membasuh dosanya menjadi murni kembali. Bayangan wajah seorang gadis masih terekam dalam ingatannya. Mata yang penuh kepedihan masih menusuk jantungnya. Mata dan wajah yang membuat dirinya sulit untuk tertawa lagi. Membuatnya sulit untuk melangkahkan kaki ke depan. Sebab itu ia meniti jejaknya kembali.

“Pada akhirnya aku menerima lamaran Haikal, sahabatku itu. Bukan karena ia mengetahui apa yang telah terjadi padaku dan tetap setia menemaniku. Tetapi karena ia yang membuatku bangkit kembali,” ujar gadis itu seraya tersenyum. Ia tersenyum samar.

“Bagaimana kabarmu, Rey? Aku dengar kuliahmu tersendat. Ada masalah apa? Padahal kamu kan cerdas,” ujar gadis itu lagi. Ia mengangguk kaku.

“Sedang merasa jenuh saja, Kayla,” sahut Rey. Lama mereka terdiam. Rey menatap gadis itu. Dirasanya gadis itu memiliki suatu kekuatan yang luar biasa. Sehebat apapun dirinya, ia bahkan tak memiliki kekuatan itu.

“Jenuh? Itu kan tanggung jawab kamu terhadap orang tuamu. Jadikan itu menyenangkan dong,” seru Kayla.

“Aku menghilangkan sebuah jiwa yang suci yang tumbuh dalam ragaku pun untuk masa depan kamu. Dan dengan santainya kamu bilang jenuh?” suara Kayla terdengar bergetar. Masalah itu lagi, keluh Rey dalam hati. Rey terdiam.

“Maaf,” bisik Rey, “hanya saja, aku belum memiliki kekuatan untuk melangkah ke depan”.

Kata-kata yang ingin ia ungkapkan pun terungkap. Sejak kejadian yang disebut Kayla, ia seakan tidak memiliki tempat untuk berbicara. Teman-temannya yang mengetahui hal tersebut seperti membuat stigma buruk mengenai dirinya. Ia merasa amat bersalah pada gadis itu. Dan hal itu yang membuat dirinya tak dapat melangkah. Seakan-akan ia berjalan pada satu putaran tanpa henti.

“Masih merasa bersalah?” tanya Kayla. Tepat sasaran, jantung Rey berdetak keras. Ia mengangguk kemudian menundukkan kepala.

“Tadinya aku menganggap hal itu salah. Menghilangkan sebuah jiwa yang suci yang tumbuh dalam ragaku. Walau masih berupa gumpalan darah, tapi hal itu tetap saja salah, Rey,” kata Kayla.

“Semua manusia memiliki kesalahan, Rey. Kita tidak pernah luput dari hal tersebut dalam hidup kita. Aku belajar mengenai kejadian lalu. Hal tersebut merupakan sebuah pengalaman yang amat berharga untukku. Walau menyakitkan, tetapi berharga. Aku pernah membencimu teramat sangat. Tetapi itu tidak memuaskan hatiku. Kemudian aku pergi menjauh. Menjauhi segala kenyamanan bersamamu yang membuat hatiku sakit. Bersama waktu, aku membasuh perih. Dan luka itu pun tertutup sedikit demi sedikit. Bersama dengan menutupnya luka itu, aku pun berusaha merelakan semua dan memaafkan kamu. Sebab itu aku dapat melalui semuanya dan melangkah ke depan. Tidak semua aku lakukan sendiri. Haikal yang terus menemaniku. Dan berkat hal itu, aku jatuh cinta kepadanya. Aku ingin hidup bersamanya, sebab itu aku menerima lamarannya,” tutur Kayla.

Tangan gadis itu membelai lembut rambut Rey. Rey menengadahkan kepalanya. Menatap Kayla. Ia merasa gadis itu memberikan kekuatan kepadanya untuk bangkit. Untuk melangkah ke depan.

***

Pertemuan terakhir dengan Kayla membawa suatu perubahan besar pada diri Rey. Ia seperti seorang yang telah disucikan kembali. Seperti orang-orang Hindu di India yang merasa berdosa, dan untuk menghapus dosanya mereka mandi di Sungai Gangga. Hal itu membuat mereka seakan terlahir kembali menjadi seorang yang suci, tidak berdosa.

Seperti itulah yang dirasakan Rey. Sentuhan lembut Kayla dirambutnya membuatnya seakan terlahir kembali menjadi Rey yang baru. Yang bersemangat melangkahkan kaki ke depan menyambut jalannya yang masih panjang dalam hidupnya.

Di sudut kamar tidur, Kayla berdoa. Berdoa untuk seseorang yang pernah memberikannya suatu jiwa yang suci dalam raganya. Ia berdoa agar laki-laki tersebut terlahir kembali sebagai laki-laki yang kuat menghadapi masalah hidupnya.

Jakarta, 1 Juli 2008

Posted in idealisme | Tagged: | Leave a Comment »

sejarah masa lalu saya

Posted by legendabuana on June 16, 2008

saya sangat menyukai sejarah

mengetahui masa lalu, menurut saya, artinya kita dapat memperbaiki masa kini

tanpa ada masa lalu, tidak akan ada masa kini

semua orang pasti memiliki sejarah

apa yang dijalani pada masa kini akan menjadi sejarah di masa mendatang

tak seorang pun dapat menghapus sejarah hidupnya

semuanya tercatat dalam pikiran dan ingatan orang tersebut

saya memiliki sejarah kelam dalam hidup saya

rasa-rasanya saya ingin menghapus sejarah itu dari ingatan saya, saya sadar tak dapat menghapusnya

semuanya telah menyatu menjadi sejarah hidup saya

mungkin saya tidak dapat menghapusnya tapi saya dapat untuk tidak mengingatnya

semuanya saya susun rapi dan saya simpan didalam peti hati saya

dan saya letakkan dalam alam pikiran saya

untuk saat ini saya belum berani membukanya

tapi suatu saat saya harus membukanya pada seseorang yang tepat

sebab ia harus tahu sejarah masa lalu saya yang kelam

sebelum ia memutuskan untuk hidup bersama saya selama sisa umurnya

Posted in realisme | Tagged: | 5 Comments »

sebuah catatan yg mengubah cara berpikir

Posted by legendabuana on June 13, 2008

catatan seorang demonstran,,,sebuah buku yg melaluinya saya mengenal Soe Hok Gie tokoh yg bnar” saya kagumi,,,

sosok yg saya kenal dengan segala gejolak pemikiran dan perasaannya yg dituangkan dlm catatan harian,,,

catatan harian ini pula yg mengubah cara berpikir saya dan mungkin hidup saya,,,

terasa sekali semangat idealis ketika membaca buku ini,,,terlebih lagi ketika saya menjabat sbg ketua organisasi pers yg membuat pikiran saya concern pd tanggung jwb saya, buku ini mrp referensi penting bagi saya,,,

melalui buku ini pula, saya merasakan berbagai keadaan yg ada pd suatu masa yg sebenarnya ingin sekali saya kuak rahasianya,,,

satu hal yg terpatri dlm ingatan bahwa Soe Hok Gie,,,sampai mati pun ia tetap menjadi seorang yg IDEALIS,,,

::pikiranku ketika menjabat menjadi seorang pemimpin organisasi pers kampus::

Posted in realisme | Tagged: | Leave a Comment »

brusaha mengerti apa yg ga dimengerti

Posted by legendabuana on June 13, 2008

orang bilang gw ribet bener juga siy,,,,tapi kalo ribet karena hal-hal yang gw ga ngerti dan disuruh berusaha untuk mengerti, gw pikir wajar-wajar aja,,,,,,,,

terkadang orang lain tidak mengerti dengan apa yang kita pikirkan dan kita tidak memaksa orang tersebut untuk mengerti, tapi apakah suatu kesalahan jika saya tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan orang lain dan saya tidak mau peduli?

Posted in realisme | Tagged: | Leave a Comment »

waiting in vain

Posted by legendabuana on June 13, 2008

ketika suatu perbedaan menjadi penghalang

terasa sangat tidak adil bagi sebagian orang

tetapi dengan perbedaan itu,,,im so much older than i can take,,,

dats da price i must pay for a taste of sweet love,,,

semoga cahayanya kan selalu bersemayam di hati,,,,

jakarta, 5 maret 2006

Posted in realisme | Tagged: | 1 Comment »

Hidup Terlalu Indah Untuk Dikeluhkan

Posted by legendabuana on June 11, 2008

Kelamnya malam mulai menelan lembayung senja. Perlahan warna hitam itu memenuhi angkasa. Kerlap-kerlip cahaya mulai menerangi sudut-sudut kota. Angin malam bertiup lembut membelai wajah seorang gadis yang berjalan di trotoar protokol kota Jakarta. Ia menengadahkan kepalanya ke atas. Rembulan malu-malu menampakkan wujudnya di balik awan yang terlihat seperti kabut tipis di langit gelap tak berbintang. Bagai perasaan yang dipendamnya.

Memaknai segalanya dalam dada yang berkecamuk membuatnya lelah. Tapi hal itu tak tampak di wajah manisnya. Gadis itu terlihat kuat dengan tulang-tulang yang besar dan wajah manis yang tegar. Tetapi di dalam hati, sesungguhnya ia sangat lemah. Apalagi bila berkaitan dengan perasaan. Ia bisa menjadi sangat melankolis ketika malam menjelang.

Gadis itu melangkahkan kaki memasuki sebuah warung kopi pinggir jalan dimana terdapat bangku-bangku panjang yang diduduki sekitar 4 laki-laki dan 2 perempuan. Gadis itu tersenyum melihat teman-temannya yang sedang mengobrol dan tertawa.

“Hanya orang-orang bodoh yang lupa bahwa hidup ini sebenarnya terlalu indah untuk dikeluhkan,” kata laki-laki yang duduk paling ujung dengan rokok berada di sudut bibirnya. Ia tertawa tertahan membuat perutnya yang gendut berguncang hebat.

“Hidup terlalu indah untuk dikeluhkan? Baru saja aku mengeluhkan hidupku. Lelah dengan pekerjaanku, muak dengan keidealisan ayahku yang membuat suasana di rumah menjadi kurang nyaman, dan masalah perasaan yang membuatku galau,” kata gadis yang datang tadi. Tatapannya yang kosong tertuju pada jalan raya di depan warung kopi.

Jalan raya itu penuh dengan kendaraan yang berlalu lalang. Jakarta pada malam hari tidak pernah sepi. Bahkan ada orang-orang yang memulai hidupnya ketika malam menjelang. Pekerja-pekerja malam yang terkadang dinilai negatif oleh masyarakat padahal adapula pekerja-pekerja malam yang bekerja secara halal.

“Kenapa harus mengeluh? Aku tahu, karena kamu merasa hidupmu tidak seperti apa yang kamu inginkan. Benar kan?” tanya laki-laki yang duduk tepat di hadapannya.

“Ya, memang tidak semua yang aku inginkan bisa menjadi kenyataan. Tapi menurutku, selama aku berusaha menginginkan hal itu dan hal itu menjadi suatu harapan, untuk itulah aku hidup. Karena harapan itu aku masih tetap bertahan hidup,” jelas gadis itu. Matanya tak lagi sendu tapi menyala.

“Kamu lelah dengan pekerjaanmu? Bukannya kamu sangat menyukai pekerjaanmu? Sebagai seorang jurnalis sekaligus penulis, hobi yang menjadi pekerjaan itu sangat menyenangkan, bukan?” ujar perempuan yang duduk di sampingnya. Perempuan itu adalah senior 2 tingkat di atasnya ketika kuliah. Ia sangat menyukai extreme sport seperti climbing dan ia sangat menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan hobinya.

“Mengenai keidealisan ayah kamu, saat ini pun kamu mengalami dilema kan? Antara jurnalis sebagai wujud dari realita kamu dan penulis yang merupakan wujud dari keidealisan kamu,” kata perempuan itu lagi. Tepat sasaran, gadis itu hanya mendesah. Apa yang dikatakan seniornya itu tepat dengan apa yang ia rasakan. Rasa-rasanya ia mengerti apa yang dirasakan ayahnya.

“Kalau masalah perasaan, mungkin Richard Ashcroft pernah bilang there are so many things I can do, just like fallin in love with u’ tapi menurut aku ‘there are so many things we can do, not only fallin in love’ ya nggak?” celetuk laki-laki yang membuka pembicaraan mengenai hidup ini sebenarnya terlalu indah untuk dikeluhkan. Gadis itu tersenyum mendengar celetukan temannya yang bertubuh subur.

Kekosongan yang ia rasakan sangat dingin tadi tiba-tiba berubah menjadi kehangatan. Banyak hal yang ia ingin lakukan sebagai seorang jurnalis dan penulis, keidealisan ayahnya pun seharusnya tak diambil pusing, dan masalah perasaan cinta tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Rasa hangat dan semangat menjalani sesuatu mulai tumbuh di hatinya. Ia tersenyum mengingat kebodohannya tadi. Bersama teman-temannya, ia merasakan bahwa hidup memang terlalu indah untuk dikeluhkan.

Jakarta, 14 Desember 2006

Modified: Jakarta, 22 Maret 2007

Posted in idealisme | Tagged: | 4 Comments »

Kisah Caramel

Posted by legendabuana on June 11, 2008

Akhirnya setelah hampir 7 minggu menjelajah hutan dan gunung di Kalimantan, sampai juga aku di Jakarta. Dan hampir 7 minggu itu pula aku tidak menghubungi Hans sama sekali. Kekasihku itu kurang menyukai kegiatanku yang berkaitan dengan naik gunung dan menjelajah hutan atau gunung. Menurutnya terlalu berbahaya bagi wanita. Sebelum aku berangkat pun kami sempat bertengkar dan Hans pun menyerah. Ia membiarkan aku pergi. Aku tidak menyukai Hans yang begitu keras kepala melarangku mengikuti kegiatan-kegiatan itu. Tetapi, aku pun begitu keras kepala menjalani hal yang aku suka sehingga terkesan tak mempedulikan dirinya. Aku tidak terlalu peduli dengan perasaannya padahal ia begitu baik mengkhawatirkanku. Kalau dipikir-pikir sepertinya ia yang selalu memperhatikanku dan mengucapkan kata-kata sayang. Lalu sebenarnya apa arti Hans bagiku? Terlepas dari sikapnya yang seperti itu, aku sayang dia tapi aku terlalu gengsi untuk mengakuinya padahal ia kekasihku.

Rinai air hujan turun membasahi bumi. Tanah pun mengeluarkan bau yang sedap karena sentuhan hujan. Wangi segar pepohonan memenuhi ruang jiwa serasa ada semangat baru yang muncul didalam diri. Angin bertiup kencang membuat tubuh menggigil kedinginan.

“Cara, kamu ngapain disitu?” tegurku ketika melihat gadis manis yang kupanggil Cara termenung di bangku biru dengan tangan yang terjulur ke arah hujan. Gadis itu menoleh melihatku, kemudian tersenyum dan berjalan ke arah klub jurnalistik dan sastra yang pernah dipimpin olehnya satu tahun lalu. Ada yang berbeda dengan senyumannya. Dan matanya yang biasanya berbinar terlihat redup. Tak ambil peduli karena aku baru sampai di Jakarta, tapi tak urung tanda tanya besar muncul dibenakku, “Apa karena Caya?”

***

From: Caramel

To: Hazel

Sent: Sunday, January 8, 2006 12:09 AM

Subject: Tentang Cahayaku

Hazel, aku pikir semuanya baik-baik saja. Aku tidak pernah menduga hal ini akan terjadi. Semua begitu tiba-tiba hingga membuatku melayang. Setelah lebih dekat lagi, entah kenapa aku merasa asing padahal bisa dibilang aku-lah gadis yang paling dekat dengannya. Dia tidak pernah memberitahu apa yang ada di hati dan pikirannya. Aku tahu semua cerita, semua kisah pasti memiliki akhir. Setiap gadis pasti tidak pernah tahu akhir dari kisahnya bahagia atau tidak sebelum ia menjalaninya, tetapi aku sudah bisa meraba bahwa kisahku akan berakhir dengan uraian air mata. Dan yang pasti aku tidak pernah tahu kapan kisahku akan berakhir. Walaupun perih aku harus tetap menjalaninya karena aku ingin tahu kapan kisahku berakhir dan benarkah akan berakhir dengan air mata yang membasahi pipiku?

Email yang dikirim oleh Cara membuatku khawatir akan keadaan dirinya. Hari-hari belakangan ini Cara terlihat lebih murung. Padahal harusnya ia berbahagia karena perasaannya kepada Caya berbalas setelah satu tahun mereka bersahabat dan memendam rasa itu. Hampir 6 bulan mereka terlihat akrab dan sangat dekat. Dimana ada Cara pasti ada Caya. Apa yang telah terjadi hingga membuat Cara terlihat begitu murung?

Kulangkahkan kakiku menuju jendela kamar setelah aku matikan komputer di meja belajarku. Sebelum kututup jendela, kulihat langit malam yang begitu mendung hingga tak terlihat setitik cahaya bintang. Tak sabar aku menunggu kelam berganti terang agar segera aku menjemput Cara di rumahnya. Bersama menuju ke kampus dan mendengarkan keluh kesahnya.

***

“Selamat pagi, Cara,” tegurku begitu ia naik ke mobilku dengan harapan dia akan berceloteh riang. Tak seperti biasanya, hari ini ia hanya tersenyum.

“Kamu kenapa? Cerita dong ada apa? Gila ya aku baru sampai Jakarta 1 minggu lalu dan kamu masih belum kasih tahu ada gosip apa di kampus dan terlebih lagi cerita kamu tentang Caya,” cerocosku menghilangkan keheningan diantara kami. Dan Cara masih memandang keluar jendela mobilku.

Babe, nanti siang nggak ada kuliah kan? Ke Cozy yuk, pengen coklat panas nih maklum di gunung aku cuma minum air putih doang. Lagipula udara hari ini dingin banget jadi pengen coklat panas-nya Cozy. Mau kan?” cerocosku lagi.

“Boleh, aku juga pusing nih pengen butter-caramel hangat.” Akhirnya keluar juga beberapa patah kata dari mulut sahabatku itu. Aku tahu kalau dia paling suka ke Cozy, café di belakang kampus yang suasananya sangat bersahabat dan hangat selain live music yang terus-menerus dimainkan dari pukul 11 siang hingga 11 malam.

Saat mengikuti kuliah hari ini, rasanya waktu berjalan amat lambat. Mungkin karena aku ingin kuliah ini segera usai sehingga aku bisa segera ke Cozy dan mendengar ocehan sahabatku itu. Sudah lama aku tak mendengar kicauannya.

Jam di tanganku akhirnya menunjukkan pukul 13.30. Dan itu artinya, kuliah untuk hari ini selesai sudah. Dosen belum keluar kelas tetapi aku sudah berlari keluar. Setengah berlari, aku menuju tangga keluar gedung Y dan kubelokkan badanku ke arah kiri. Sambil menghindar dari gerimis siang itu, aku menyebrang jalan menuju Cozy.

“Duh maaf ya Ra. Kamu nunggu lama ya?” tanyaku begitu melihat Cara di sofa sebelah kanan pintu masuk.

“Nggak kok. Aku sudah pesanin coklat hangat buat kamu.” Senyumnya mengembang dan suaranya sudah seperti biasa, bernada riang. Di hadapannya sudah ada butter-caramel yang isinya tinggal separo serasa menunjukkan bahwa peminumnya sudah datang sejak lama.

“Thanks. Wah, aku kangen banget pengen kesini setelah balik dari Kalimantan. Belum sempat karena kan aku harus bikin laporan perjalananku,” ocehku dan Cara hanya tersenyum.

“Enak ya. Kalau ada waktu kita traveling berdua yuk? Aku pengen refreshing nih. Jenuh di Jakarta.” Mulutnya menguncup seakan-akan mengeluhkan dunia padahal dunia terlalu indah untuk dikeluhkan.

“Ra, Caya kemana? Tadi kok nggak kuliah? Harusnya kan kuliah bareng aku jam 11 tadi,” tanyaku sambil mengaduk-aduk coklat hangat yang baru datang dan gadis manis yang aku tanya hanya menunduk sambil menghirup minumannya.

“Kalau boleh tahu kalian ada masalah?” tanyaku lagi dan kembali mata Cara meredup. Ia pun menggelengkan kepala.

“Masalah? Kamu sudah bisa menebak kan masalah aku dan Caya apa?” Cara malah balik bertanya dan membuatku mereka-reka masalah yang terjadi diantara mereka.

“Dia bilang sudah nggak mungkin untuk diteruskan karena kita berbeda tapi dia juga bilang kalau perasaan dia ke aku nggak akan berubah.” Kalimat itu dikeluarkan Cara dengan suara tertahan.

“Bohong. Jadi, putus nih?” Tanpa sadar aku berucap dan Cara menganggukkan kepalanya.

“Masa aku bohong sih? Baru tadi aku bicara dengan dia sebelum kamu datang.” Cara tertawa kering seakan kejadian yang akan ia ceritakan merupakan kebodohannya.

“Ternyata kisahku berakhir hari ini dan berakhir dengan menyedihkan tetapi aku nggak berurai air mata kok karena dia masih sayang aku. Hanya status hubungannya saja yang berubah.” Cara tersenyum manis dan dimatanya terlihat rasa tulus.

***

Kulayangkan pandanganku ke langit kelam tak berbintang. Mendung masih menggelayut bukan pertanda akan turun hujan. Seperti wajah Caramel tadi siang, muram tetapi bukan berarti air mata akan mengalir di pipinya. Entah apakah malam ini ia sedang menangisi kisah cintanya yang telah berakhir dengan akhir yang menyedihkan?

Masih teringat akan email Cara yang dikirimkan tadi malam. Mungkinkah sebenarnya ia sudah tahu bahwa kisah cintanya berakhir hari ini? Kurasa ia tahu pasti apa yang ada di pikiran Caya. Keputusan yang diambil oleh Caya mungkin berat bagi mereka berdua. Hanya karena prinsip yang berbeda maka kasih yang ada diantara mereka pun tertahan oleh prinsip tersebut. Dan yang dapat mereka lakukan hanya menatap kisah lalu mereka sebagai kenangan yang indah. Beruntunglah pasangan-pasangan yang tidak memiliki perbedaan yang mendasar.

Satu hal yang membuatku tersadar, aku dan Hans, walaupun sering bertengkar mengenai minatku tetapi tak ada satu pun perbedaan yang dapat memisahkan kami. Entah mengapa malam ini aku begitu melankolis, semuanya membuatku tersadar bahwa aku menyayangi Hans lebih besar dari sebelumnya dan aku melupakan gengsiku untuk mengakui bahwa aku benar-benar menyayanginya. Tanpa sadar aku sudah mengirimkan pesan manis yang tidak pernah kukirimkan sebelumnya ke telepon seluler Hans.

Hans, aku sudah pulang…

Aku kangen kamu…

Aku sayang kamu…

XOXO

From: Hazel

11.36 pm 9-JAN-2006

Jakarta, 10 Agustus 2006

Posted in idealisme | Tagged: | Leave a Comment »