Legendabuana’s Weblog

hanya sekedar kata dan kalimat yang merupakan buah pikiranku

Posts Tagged ‘Tentang idealisme’

Aku, Rio, Leo, dan Anak Rambutku

Posted by legendabuana on July 8, 2008

Sayang…sayang…anak rambutku sayang…

Entah kenapa aku sangat menyukai anak rambutku. Halus, hitam, lebat. Tumbuh di atas dahi dan ketika aku ikat rambutku, anak rambut itu seperti membentuk frame yang membingkai wajahku dengan manis. Tetapi terkadang rambutku terkesan berantakan karena anak rambutku yang sulit diatur. Kata orang, kalau sulit diatur itu artinya si empunya juga sulit diatur. Mungkin juga aku sulit diatur. Keluargaku memandang aku sebagai anak yang tidak dapat diatur. Aku selalu menyangkal semua aturan orang tuaku. Mungkin tidak semua, hanya beberapa yang kuanggap tidak benar maka akan kusangkal. Itulah kenapa keluargaku memandang aku sulit diatur.

Kembali ke soal anak rambut, aku benar-benar memelihara anak rambutku seperti aku memelihara rambutku. Terkadang kalau sedang creambath di salon, banci-banci salon itu selalu melupakan anak rambut karena bagi mereka yang penting rambutnya, aku selalu berpesan kepada salah satu banci salon langgananku agar seluruh rambut beserta anak rambutku ikut diberi cream dan meminta dipijat bagian dahiku agar merangsang pertumbuhan anak rambutku. Apakah ada pengaruhnya atau tidak, aku tak tahu. Yang pasti aku sangat menyayangi anak rambutku.

***

Bulan Juni tahun ini usiaku bertambah. Seperempat abad sudah aku hidup. Sebagai seorang wanita, sudah sepantasnya aku menjadi seorang ibu. Menikah dan memiliki anak seharusnya menjadi tahap kehidupanku selanjutnya setelah karir yang aku jalani terus meningkat. Tetapi sebagai seorang perempuan yang memiliki darah Jawa dan calon suami yang juga memiliki darah Jawa, pernikahan kami nanti pasti akan memakai adat Jawa. Dalam adat Jawa, perempuan yang menikah harus dicukur anak rambutnya sama seperti di India yang menandainya dengan bindi berwarna merah di dahi. Aku belum siap untuk mencukur anak rambut yang sangat kusayangi ini. Lagipula, apakah aku yakin untuk menghabiskan sisa hidupku bersama laki-laki yang sedang dekat denganku saat ini?

Pertanyaan yang klise, ujar salah seorang kawan. Kalau kamu mencintai dia berarti kamu yakin untuk hidup bersamanya. Mungkin juga. Tetapi, apakah aku harus membuktikan dulu keyakinanku misalkan dengan cara traveling berdua dengannya atau mencoba untuk tinggal satu atap dengannya? Ide gila.

Meyakinkan diri bahwa Rio bisa menjadi suami yang baik sebenarnya tidak sulit. Maksudku, sudah hampir 4 tahun kami dekat dan dia cukup membuktikan bahwa ia setia dan menghormatiku sebagai wanita. Ia memiliki karir yang baik dalam arti jabatan serta finansial. Selama 2 tahun terakhir ini ia ditugaskan oleh kantornya ke Tokyo. Ia berharap aku bersedia menikah dengannya dan aku akan diboyong pula ke Tokyo. Walaupun terpisah jarak ribuan kilometer dan dalam 2 tahun ini kami bertemu kurang lebih 3 kali, tetapi ia terus mencintaiku. Apalagi yang kurang? Mungkin tidak ada yang kurang hingga akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang sangat berbeda dari Rio. Ia senior satu angkatan di atasku di kampus. Namanya Leo.

Berawal dari pesan singkat yang menanyakan kabarku. Aku tidak mengenal nomor yang mengirimkanku pesan, maka aku membalasnya karena aku pikir ia adalah Leo teman sekolahku dulu. Terus menerus selama dua hari kami saling membalas pesan singkat yang dikirimkan. Hingga pada hari selasa malam ia menungguku di lobby kantor. Aku tertawa melihatnya karena ternyata ia seniorku di kampus dulu.

Beberapa kali kami jalan bersama setiap jam kantor usai. Aku tidak pernah memberitahukan statusku yang sudah memiliki kekasih yang ingin menikahiku. Aku sangat menikmati waktu-waktu yang kuhabiskan bersamanya. Dengan tidak adanya Rio di sampingku, maka aku memiliki waktu yang lebih bersama Leo.

Lama-kelamaan timbul rasa nyaman bila bersama Leo. Dan ini sangat berbahaya, karena bisa-bisa aku jatuh cinta padanya. Mumpung rasa itu masih dapat aku kendalikan, aku pun menganggap Leo sebatas sebagai teman.

Mungkin karena terbawa suasana, pada kamis malam seusai clubbing, ia mencium bibirku sambil membelai lembut anak rambutku yang turun ke dahi dan aku hanya terdiam menikmatinya. Sesampainya di rumah, aku terus memikirkan ciuman itu. Apakah ini yang dinamakan dengan selingkuh?

“Wuah gaya hidup kamu benar-benar metrosexual ya?” ujar salah seorang teman setelah aku menceritakan hubunganku dengan Leo.

“Lagipula, kamu mau dan dia mau, ya sudah. Jalani saja tanpa pakai perasaan,” kata temanku yang lain.

Ya, jalani tanpa menggunakan perasaan. Mungkin aku sudah terbawa perasaan karena aku sudah terbiasa bersamanya, walaupun selama empat tahun aku terbiasa dengan kehadiran Rio. Tapi sejak Rio pindah ke Tokyo, aku merindukan kehadiran seorang laki-laki di sisiku. Dan Leo yang mengisinya beberapa bulan terakhir ini. Tidak hanya mengisi hari-hariku, ia juga memberikan ciuman-ciuman yang liar dan belaian tangannya pada anak rambutku dengan lembut. Sama seperti aku yang menyukai anak rambutku, Leo pun menyukai anak rambutku.

Bingung memikirkan segalanya. Dan bila aku sudah bingung, tanpa sadar jari-jari tanganku mulai memainkan anak rambut kesayanganku.

***

Satu hal yang aku sadari adalah, sejak awal Leo memang tidak berniat serius denganku. Hal yang sangat nyata adalah suku dan agamanya beda denganku. Di dalam keluarganya, ia diharuskan menikah dengan suku yang sama untuk meneruskan marga keluarganya, karena ia anak laki-laki satu-satunya. Sedangkan aku adalah peranakan Padang-Jawa yang memegang teguh keyakinan dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw untuk umat manusia. Jadi, bagaimana mungkin kami akan menjalin hubungan yang serius? Yang ada saat ini hanyalah hubungan sesaat yang sangat aku nikmati. Sempat terlintas dalam benakku, berdosakah aku terhadap Rio karena memiliki hubungan sesaat dengan Leo? Tidak munafik, aku pun tertarik dengan Leo padahal aku tahu hubungan ini tidak akan berkembang.

Aku pun tahu bahwa aku hanya sekedar wanita pelarian Leo. Maksudku, ia baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya tanpa ada alasan yang jelas. Ia pernah berkata, “Aku bisa memendam rasa cinta terhadap kekasih yang meninggalkan aku. Tapi aku tidak bisa menghilangkan kebiasaan mencium seorang wanita dan bercinta dengan wanita”.

Aku pun sudah menegaskan bahwa hubungan apapun yang akan kami jalani buatku tidak masalah, asal tidak bercinta. Bercinta dengan seseorang yang baru aku kenal adalah perbuatan gila. Aku masih menghormati nilai-nilai bercinta yang suci.

Di sudut sebelah kanan bawah layar komputerku ada yang berkedip. Ada email baru masuk di inbox-ku. Aku arahkan mouse-ku ke inbox.

From: Rizkyo

To: Gadis

Sent: Thursday, November 2, 2006, 01.34 PM

Message: babe, bulan depan aku ada rapat besar di Jakarta. Aku kangen kamu. Ada yang ingin aku bicarakan juga. Aku harap kali ini kamu menjawabnya. Love U…

Aku tahu pasti yang akan dibicarakan Rio. Mengenai pernikahan. Aku menghela nafas panjang. Pernikahan. Ada sedikit keraguan dalam diriku untuk menikah dengannya. Entah apa arti dari keraguan ini.

Telepon selulerku berbunyi, segera aku lihat layar yang tertera. Leo. Aku tersenyum.

“Ya Leo, ada apa?” sapaku sambil berjalan menuju toilet wanita.

“Kemarin aku bertemu Lola,” jawabnya. Hatiku mencelos ketika ia menyebut nama kekasih yang meninggalkannya.

And then?” tanyaku sedikit tidak bersemangat.

“Aku ingin dia tetap menjadi kekasihku. Tapi dia masih ragu, begitu pula aku.”

“Lho kenapa ragu?”

“Dia mau sekolah lagi ke luar negeri.”

“Lalu apa masalahnya?”

“Dia mau sekolah ke luar negeri,” ulangnya dengan gemas.

“Memang ada masalah dengan hal itu?” tanyaku heran, “kamu cinta dia dan dia juga cinta kamu kan?”

“Ya, tapi dia mau ke luar negeri selama 2 tahun. Orang yang sudah menikah dan terpisah jarak saja bisa selingkuh,” katanya kesal.

“Kamu selalu berpikir buruk. Menurutku, tidak ada permasalahan. Asal ada cinta, rasa percaya, dan komunikasi. Lagipula dia cocok sama kamu. Dia pariban[1] kamu, kan?”

“Tidak semudah itu,” jawabannya membuatku heran. Apalagi yang ia permasalahkan? Lola yang sangat ia cintai ternyata masih mencintai dia. Hanya karena wanita itu ingin sekolah ke luar negeri, ia ragu untuk menjalin lagi hubungannya dengan Lola.

Tersadar akan sesuatu, aku pun memikirkan kembali hubunganku dengan Rio. Aku sangat mencintai Rio. Dan Rio pun mencintaiku. Hal yang paling membuatku bahagia adalah Rio sangat menghargai seorang wanita. Walaupun ia sedikit pemalu dan tidak nakal seperti Leo, tetapi selama 4 tahun kami dekat, tidak sekalipun ia memaksakan kehendaknya kepadaku. Hubungan percintaanku dengan Rio berjalan lembut dengan penuh rasa cinta dan kasih. Sedangkan hubunganku dengan Leo, walaupun cuma sesaat dan tidak jelas, hanya hubungan fisik yang penuh dengan hasrat semata.

***

“Apa kabar? Kamu kelihatan lebih manis,” ucap Rio setelah mencium keningku. Aku tersenyum, jantungku berdetak lebih kencang. Bukan karena Rio mengucapkan kalimat tersebut tetapi karena ia makin terlihat tampan dan dewasa.

Tadi siang aku tidak bisa menjemput Rio di bandara dan malam ini aku sengaja datang ke rumahnya. Tidak mengerti kenapa aku lebih memilih datang ke rumah Rio ketimbang pergi bersama Leo yang mengajakku ke Venue-Kemang malam ini.

Berdampingan kami berjalan masuk ke ruang keluarga rumah Rio, Rio melingkarkan tangan kanannya di pinggangku.

“Mama dan Rei ke mana, Yo?” tanyaku menanyakan ibu dan adik perempuannya.

“Ke Bandung pagi tadi, jemput Papa, mungkin pulang besok,” jawab Rio.

Aku duduk di sofa besar di tengah ruang keluarga rumah Rio. Tanpa sadar tanganku mulai memainkan anak rambutku. Aku sangat menyukai ruang keluarga rumah Rio. Didominasi warna terakota yang hangat dan teduh, membuatku ingin berlama-lama di ruangan ini.

Rio mengambil tanganku dan menggenggamnya erat. Kemudian tangan kanannya merogoh saku celana jeansnya dan mengeluarkan cincin polos berwarna silver.

“Untuk kesekian kalinya aku bertanya. Maukah kamu menikah denganku?” tanya Rio dengan wajah bersemu merah. Aku tersenyum melihatnya dan tanpa sadar mengusap kepalanya. Aku ambil cincinnya dan aku pasangkan dijari manis tangan kananku.

“Ukurannya pas. Terima kasih,” ucapku dan kucium pipi kanannya. Rio hanya menatapku tanpa berkata apa-apa. Aku tertawa.

“Jadi, kapan keluarga kamu akan ke rumahku untuk melamar secara resmi?”

“Segera,” jawabnya pendek. Ia tersenyum dengan wajah yang bersemu merah.

***

Yang bisa aku lakukan, hanya tersenyum dan tersenyum sambil membayangkan wajah tampan Rio yang bersemu merah. Keputusanku untuk menikah dengannya mungkin membuatnya bingung. Aku pun bingung dengan keputusanku. Tetapi rasa sayangku pada Rio mengalahkan semuanya. Sebuah tekad mulai menyusup ke jiwaku. Aku ingin menikmati hidupku bersama Rio.

Dua malam setelah aku menerima lamaran Rio, keluarganya datang ke rumah. Secara resmi aku telah dilamar. Secara perlahan aku mulai menghindari Leo walaupun daya tarik seksualnya seperti menarikku ke dalam buaiannya. Tidak peduli betapa rindunya aku pada belaian dan ciuman Leo. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri. Dan sebentar lagi, anak rambutku akan dicukur pertanda aku resmi menjadi Ny. Rizkyo Pradono.

Tanggal sudah ditentukan dan persiapan pernikahan sudah dilaksanakan. Dua minggu lagi aku akan resmi menjadi Ny. Rizkyo Pradono. Jantungku berdebar menunggu hari pernikahanku. Menjelang pernikahanku, aku belum memberitahu Leo mengenai Rio dan pernikahanku. Beberapa kali kami bertemu karena ia menungguku di lobby kantor. Mau tidak mau, aku menemaninya makan malam atau hanya sekedar mendengarnya bercerita mengenai Lola yang tidak ingin melanjutkan hubungan dengannya lagi. Beberapa kali bertemu, beberapa kali pula ia berusaha menciumku dan selalu aku tolak. Aku sudah bertekad untuk menikahi Rio dan menjauhi Leo.

Hingga pada suatu siang, enam hari menjelang pernikahanku. Kami bertemu di rumah salah seorang teman perempuanku yang dekat dengan rumah Leo dan ia mengantarku pulang.

“Kenapa akhir-akhir ini kamu dingin terhadap aku?” tanyanya ketika kami sampai di daerah Permata Hijau.

“Dingin? Biasa saja kok,” jawabku.

“Tumben kamu ke rumah Reggy?” tanyanya lagi. Aku menghela napas panjang.

“Antar undangan,” jawabku pendek. Niatku, aku akan memberitahunya mengenai Rio dan pernikahanku.

“Undangan apa?” tanyanya bingung.

“Undangan pernikahanku,” jawabku menatap Leo.

“Pernikahan?” Ia mengerem mobilnya mendadak. Jantungku berdetak kencang.

“Kamu mau menikah?” tanyanya terbata-bata. Dan aku mengangguk mantap. Entah dari mana datangnya keberanian ini.

“Kenapa tiba-tiba? Bukannya kamu belum punya pacar?”

“Tidak tiba-tiba kok,” kemudian dengan rasa keberanian yang besar, aku bercerita mengenai hubunganku dengan Rio dan lamarannya yang tidak kunjung aku jawab, keraguanku akan suatu pernikahan, dan keputusanku untuk menikah.

“Tapi aku tetap bersyukur kamu hadir mengisi hari-hariku. Aku sangat berterima kasih atas semuanya. Ciuman-ciuman yang kamu berikan. Belaian-belaian lembut untuk anak rambutku. Cerita-cerita kamu mengenai hubungan kamu dan Lola membuatku tersadar kalau aku sangat mencintai Rio dan ingin hidup bersamanya melalui sebuah pernikahan,” jelasku. Wajah Leo berubah menjadi muram.

“Selamat ya. Semoga kamu bahagia,” katanya dengan suaranya yang khas. Berat dan hangat.

***

Besok adalah hari pernikahanku. Hari ini, anak rambutku yang aku sayangi sudah tercukur habis. Tetapi tidak dengan rasa sayangku terhadap Leo. Rasa itu tidak akan habis menurutku. Tapi, aku sudah mengubah rasa sayang yang penuh hasrat menggebu-gebu menjadi satu perasaan yang tulus.

Sayang…sayang…anak rambutku sayang….

Jakarta, 1 Desember 2006


[1] Pariban (bhs batak): anak perempuan dari adik laki-laki ibu yang boleh dinikahi.

Posted in idealisme | Tagged: | 2 Comments »

Pertemuan

Posted by legendabuana on July 8, 2008

Ia meniti jejak yang pernah ditinggalkannya. Menatap merahnya langit yang dalam sekejap berganti menjadi kelam. Ia meresapi hembusan angin. Seakan angin dapat menghapus kesalahannya. Ia membasuh wajahnya dengan air laut. Seakan air laut itu dapat membasuh dosanya menjadi murni kembali. Bayangan wajah seorang gadis masih terekam dalam ingatannya. Mata yang penuh kepedihan masih menusuk jantungnya. Mata dan wajah yang membuat dirinya sulit untuk tertawa lagi. Membuatnya sulit untuk melangkahkan kaki ke depan. Sebab itu ia meniti jejaknya kembali.

“Pada akhirnya aku menerima lamaran Haikal, sahabatku itu. Bukan karena ia mengetahui apa yang telah terjadi padaku dan tetap setia menemaniku. Tetapi karena ia yang membuatku bangkit kembali,” ujar gadis itu seraya tersenyum. Ia tersenyum samar.

“Bagaimana kabarmu, Rey? Aku dengar kuliahmu tersendat. Ada masalah apa? Padahal kamu kan cerdas,” ujar gadis itu lagi. Ia mengangguk kaku.

“Sedang merasa jenuh saja, Kayla,” sahut Rey. Lama mereka terdiam. Rey menatap gadis itu. Dirasanya gadis itu memiliki suatu kekuatan yang luar biasa. Sehebat apapun dirinya, ia bahkan tak memiliki kekuatan itu.

“Jenuh? Itu kan tanggung jawab kamu terhadap orang tuamu. Jadikan itu menyenangkan dong,” seru Kayla.

“Aku menghilangkan sebuah jiwa yang suci yang tumbuh dalam ragaku pun untuk masa depan kamu. Dan dengan santainya kamu bilang jenuh?” suara Kayla terdengar bergetar. Masalah itu lagi, keluh Rey dalam hati. Rey terdiam.

“Maaf,” bisik Rey, “hanya saja, aku belum memiliki kekuatan untuk melangkah ke depan”.

Kata-kata yang ingin ia ungkapkan pun terungkap. Sejak kejadian yang disebut Kayla, ia seakan tidak memiliki tempat untuk berbicara. Teman-temannya yang mengetahui hal tersebut seperti membuat stigma buruk mengenai dirinya. Ia merasa amat bersalah pada gadis itu. Dan hal itu yang membuat dirinya tak dapat melangkah. Seakan-akan ia berjalan pada satu putaran tanpa henti.

“Masih merasa bersalah?” tanya Kayla. Tepat sasaran, jantung Rey berdetak keras. Ia mengangguk kemudian menundukkan kepala.

“Tadinya aku menganggap hal itu salah. Menghilangkan sebuah jiwa yang suci yang tumbuh dalam ragaku. Walau masih berupa gumpalan darah, tapi hal itu tetap saja salah, Rey,” kata Kayla.

“Semua manusia memiliki kesalahan, Rey. Kita tidak pernah luput dari hal tersebut dalam hidup kita. Aku belajar mengenai kejadian lalu. Hal tersebut merupakan sebuah pengalaman yang amat berharga untukku. Walau menyakitkan, tetapi berharga. Aku pernah membencimu teramat sangat. Tetapi itu tidak memuaskan hatiku. Kemudian aku pergi menjauh. Menjauhi segala kenyamanan bersamamu yang membuat hatiku sakit. Bersama waktu, aku membasuh perih. Dan luka itu pun tertutup sedikit demi sedikit. Bersama dengan menutupnya luka itu, aku pun berusaha merelakan semua dan memaafkan kamu. Sebab itu aku dapat melalui semuanya dan melangkah ke depan. Tidak semua aku lakukan sendiri. Haikal yang terus menemaniku. Dan berkat hal itu, aku jatuh cinta kepadanya. Aku ingin hidup bersamanya, sebab itu aku menerima lamarannya,” tutur Kayla.

Tangan gadis itu membelai lembut rambut Rey. Rey menengadahkan kepalanya. Menatap Kayla. Ia merasa gadis itu memberikan kekuatan kepadanya untuk bangkit. Untuk melangkah ke depan.

***

Pertemuan terakhir dengan Kayla membawa suatu perubahan besar pada diri Rey. Ia seperti seorang yang telah disucikan kembali. Seperti orang-orang Hindu di India yang merasa berdosa, dan untuk menghapus dosanya mereka mandi di Sungai Gangga. Hal itu membuat mereka seakan terlahir kembali menjadi seorang yang suci, tidak berdosa.

Seperti itulah yang dirasakan Rey. Sentuhan lembut Kayla dirambutnya membuatnya seakan terlahir kembali menjadi Rey yang baru. Yang bersemangat melangkahkan kaki ke depan menyambut jalannya yang masih panjang dalam hidupnya.

Di sudut kamar tidur, Kayla berdoa. Berdoa untuk seseorang yang pernah memberikannya suatu jiwa yang suci dalam raganya. Ia berdoa agar laki-laki tersebut terlahir kembali sebagai laki-laki yang kuat menghadapi masalah hidupnya.

Jakarta, 1 Juli 2008

Posted in idealisme | Tagged: | Leave a Comment »

Hidup Terlalu Indah Untuk Dikeluhkan

Posted by legendabuana on June 11, 2008

Kelamnya malam mulai menelan lembayung senja. Perlahan warna hitam itu memenuhi angkasa. Kerlap-kerlip cahaya mulai menerangi sudut-sudut kota. Angin malam bertiup lembut membelai wajah seorang gadis yang berjalan di trotoar protokol kota Jakarta. Ia menengadahkan kepalanya ke atas. Rembulan malu-malu menampakkan wujudnya di balik awan yang terlihat seperti kabut tipis di langit gelap tak berbintang. Bagai perasaan yang dipendamnya.

Memaknai segalanya dalam dada yang berkecamuk membuatnya lelah. Tapi hal itu tak tampak di wajah manisnya. Gadis itu terlihat kuat dengan tulang-tulang yang besar dan wajah manis yang tegar. Tetapi di dalam hati, sesungguhnya ia sangat lemah. Apalagi bila berkaitan dengan perasaan. Ia bisa menjadi sangat melankolis ketika malam menjelang.

Gadis itu melangkahkan kaki memasuki sebuah warung kopi pinggir jalan dimana terdapat bangku-bangku panjang yang diduduki sekitar 4 laki-laki dan 2 perempuan. Gadis itu tersenyum melihat teman-temannya yang sedang mengobrol dan tertawa.

“Hanya orang-orang bodoh yang lupa bahwa hidup ini sebenarnya terlalu indah untuk dikeluhkan,” kata laki-laki yang duduk paling ujung dengan rokok berada di sudut bibirnya. Ia tertawa tertahan membuat perutnya yang gendut berguncang hebat.

“Hidup terlalu indah untuk dikeluhkan? Baru saja aku mengeluhkan hidupku. Lelah dengan pekerjaanku, muak dengan keidealisan ayahku yang membuat suasana di rumah menjadi kurang nyaman, dan masalah perasaan yang membuatku galau,” kata gadis yang datang tadi. Tatapannya yang kosong tertuju pada jalan raya di depan warung kopi.

Jalan raya itu penuh dengan kendaraan yang berlalu lalang. Jakarta pada malam hari tidak pernah sepi. Bahkan ada orang-orang yang memulai hidupnya ketika malam menjelang. Pekerja-pekerja malam yang terkadang dinilai negatif oleh masyarakat padahal adapula pekerja-pekerja malam yang bekerja secara halal.

“Kenapa harus mengeluh? Aku tahu, karena kamu merasa hidupmu tidak seperti apa yang kamu inginkan. Benar kan?” tanya laki-laki yang duduk tepat di hadapannya.

“Ya, memang tidak semua yang aku inginkan bisa menjadi kenyataan. Tapi menurutku, selama aku berusaha menginginkan hal itu dan hal itu menjadi suatu harapan, untuk itulah aku hidup. Karena harapan itu aku masih tetap bertahan hidup,” jelas gadis itu. Matanya tak lagi sendu tapi menyala.

“Kamu lelah dengan pekerjaanmu? Bukannya kamu sangat menyukai pekerjaanmu? Sebagai seorang jurnalis sekaligus penulis, hobi yang menjadi pekerjaan itu sangat menyenangkan, bukan?” ujar perempuan yang duduk di sampingnya. Perempuan itu adalah senior 2 tingkat di atasnya ketika kuliah. Ia sangat menyukai extreme sport seperti climbing dan ia sangat menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan hobinya.

“Mengenai keidealisan ayah kamu, saat ini pun kamu mengalami dilema kan? Antara jurnalis sebagai wujud dari realita kamu dan penulis yang merupakan wujud dari keidealisan kamu,” kata perempuan itu lagi. Tepat sasaran, gadis itu hanya mendesah. Apa yang dikatakan seniornya itu tepat dengan apa yang ia rasakan. Rasa-rasanya ia mengerti apa yang dirasakan ayahnya.

“Kalau masalah perasaan, mungkin Richard Ashcroft pernah bilang there are so many things I can do, just like fallin in love with u’ tapi menurut aku ‘there are so many things we can do, not only fallin in love’ ya nggak?” celetuk laki-laki yang membuka pembicaraan mengenai hidup ini sebenarnya terlalu indah untuk dikeluhkan. Gadis itu tersenyum mendengar celetukan temannya yang bertubuh subur.

Kekosongan yang ia rasakan sangat dingin tadi tiba-tiba berubah menjadi kehangatan. Banyak hal yang ia ingin lakukan sebagai seorang jurnalis dan penulis, keidealisan ayahnya pun seharusnya tak diambil pusing, dan masalah perasaan cinta tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Rasa hangat dan semangat menjalani sesuatu mulai tumbuh di hatinya. Ia tersenyum mengingat kebodohannya tadi. Bersama teman-temannya, ia merasakan bahwa hidup memang terlalu indah untuk dikeluhkan.

Jakarta, 14 Desember 2006

Modified: Jakarta, 22 Maret 2007

Posted in idealisme | Tagged: | 4 Comments »

Kisah Caramel

Posted by legendabuana on June 11, 2008

Akhirnya setelah hampir 7 minggu menjelajah hutan dan gunung di Kalimantan, sampai juga aku di Jakarta. Dan hampir 7 minggu itu pula aku tidak menghubungi Hans sama sekali. Kekasihku itu kurang menyukai kegiatanku yang berkaitan dengan naik gunung dan menjelajah hutan atau gunung. Menurutnya terlalu berbahaya bagi wanita. Sebelum aku berangkat pun kami sempat bertengkar dan Hans pun menyerah. Ia membiarkan aku pergi. Aku tidak menyukai Hans yang begitu keras kepala melarangku mengikuti kegiatan-kegiatan itu. Tetapi, aku pun begitu keras kepala menjalani hal yang aku suka sehingga terkesan tak mempedulikan dirinya. Aku tidak terlalu peduli dengan perasaannya padahal ia begitu baik mengkhawatirkanku. Kalau dipikir-pikir sepertinya ia yang selalu memperhatikanku dan mengucapkan kata-kata sayang. Lalu sebenarnya apa arti Hans bagiku? Terlepas dari sikapnya yang seperti itu, aku sayang dia tapi aku terlalu gengsi untuk mengakuinya padahal ia kekasihku.

Rinai air hujan turun membasahi bumi. Tanah pun mengeluarkan bau yang sedap karena sentuhan hujan. Wangi segar pepohonan memenuhi ruang jiwa serasa ada semangat baru yang muncul didalam diri. Angin bertiup kencang membuat tubuh menggigil kedinginan.

“Cara, kamu ngapain disitu?” tegurku ketika melihat gadis manis yang kupanggil Cara termenung di bangku biru dengan tangan yang terjulur ke arah hujan. Gadis itu menoleh melihatku, kemudian tersenyum dan berjalan ke arah klub jurnalistik dan sastra yang pernah dipimpin olehnya satu tahun lalu. Ada yang berbeda dengan senyumannya. Dan matanya yang biasanya berbinar terlihat redup. Tak ambil peduli karena aku baru sampai di Jakarta, tapi tak urung tanda tanya besar muncul dibenakku, “Apa karena Caya?”

***

From: Caramel

To: Hazel

Sent: Sunday, January 8, 2006 12:09 AM

Subject: Tentang Cahayaku

Hazel, aku pikir semuanya baik-baik saja. Aku tidak pernah menduga hal ini akan terjadi. Semua begitu tiba-tiba hingga membuatku melayang. Setelah lebih dekat lagi, entah kenapa aku merasa asing padahal bisa dibilang aku-lah gadis yang paling dekat dengannya. Dia tidak pernah memberitahu apa yang ada di hati dan pikirannya. Aku tahu semua cerita, semua kisah pasti memiliki akhir. Setiap gadis pasti tidak pernah tahu akhir dari kisahnya bahagia atau tidak sebelum ia menjalaninya, tetapi aku sudah bisa meraba bahwa kisahku akan berakhir dengan uraian air mata. Dan yang pasti aku tidak pernah tahu kapan kisahku akan berakhir. Walaupun perih aku harus tetap menjalaninya karena aku ingin tahu kapan kisahku berakhir dan benarkah akan berakhir dengan air mata yang membasahi pipiku?

Email yang dikirim oleh Cara membuatku khawatir akan keadaan dirinya. Hari-hari belakangan ini Cara terlihat lebih murung. Padahal harusnya ia berbahagia karena perasaannya kepada Caya berbalas setelah satu tahun mereka bersahabat dan memendam rasa itu. Hampir 6 bulan mereka terlihat akrab dan sangat dekat. Dimana ada Cara pasti ada Caya. Apa yang telah terjadi hingga membuat Cara terlihat begitu murung?

Kulangkahkan kakiku menuju jendela kamar setelah aku matikan komputer di meja belajarku. Sebelum kututup jendela, kulihat langit malam yang begitu mendung hingga tak terlihat setitik cahaya bintang. Tak sabar aku menunggu kelam berganti terang agar segera aku menjemput Cara di rumahnya. Bersama menuju ke kampus dan mendengarkan keluh kesahnya.

***

“Selamat pagi, Cara,” tegurku begitu ia naik ke mobilku dengan harapan dia akan berceloteh riang. Tak seperti biasanya, hari ini ia hanya tersenyum.

“Kamu kenapa? Cerita dong ada apa? Gila ya aku baru sampai Jakarta 1 minggu lalu dan kamu masih belum kasih tahu ada gosip apa di kampus dan terlebih lagi cerita kamu tentang Caya,” cerocosku menghilangkan keheningan diantara kami. Dan Cara masih memandang keluar jendela mobilku.

Babe, nanti siang nggak ada kuliah kan? Ke Cozy yuk, pengen coklat panas nih maklum di gunung aku cuma minum air putih doang. Lagipula udara hari ini dingin banget jadi pengen coklat panas-nya Cozy. Mau kan?” cerocosku lagi.

“Boleh, aku juga pusing nih pengen butter-caramel hangat.” Akhirnya keluar juga beberapa patah kata dari mulut sahabatku itu. Aku tahu kalau dia paling suka ke Cozy, café di belakang kampus yang suasananya sangat bersahabat dan hangat selain live music yang terus-menerus dimainkan dari pukul 11 siang hingga 11 malam.

Saat mengikuti kuliah hari ini, rasanya waktu berjalan amat lambat. Mungkin karena aku ingin kuliah ini segera usai sehingga aku bisa segera ke Cozy dan mendengar ocehan sahabatku itu. Sudah lama aku tak mendengar kicauannya.

Jam di tanganku akhirnya menunjukkan pukul 13.30. Dan itu artinya, kuliah untuk hari ini selesai sudah. Dosen belum keluar kelas tetapi aku sudah berlari keluar. Setengah berlari, aku menuju tangga keluar gedung Y dan kubelokkan badanku ke arah kiri. Sambil menghindar dari gerimis siang itu, aku menyebrang jalan menuju Cozy.

“Duh maaf ya Ra. Kamu nunggu lama ya?” tanyaku begitu melihat Cara di sofa sebelah kanan pintu masuk.

“Nggak kok. Aku sudah pesanin coklat hangat buat kamu.” Senyumnya mengembang dan suaranya sudah seperti biasa, bernada riang. Di hadapannya sudah ada butter-caramel yang isinya tinggal separo serasa menunjukkan bahwa peminumnya sudah datang sejak lama.

“Thanks. Wah, aku kangen banget pengen kesini setelah balik dari Kalimantan. Belum sempat karena kan aku harus bikin laporan perjalananku,” ocehku dan Cara hanya tersenyum.

“Enak ya. Kalau ada waktu kita traveling berdua yuk? Aku pengen refreshing nih. Jenuh di Jakarta.” Mulutnya menguncup seakan-akan mengeluhkan dunia padahal dunia terlalu indah untuk dikeluhkan.

“Ra, Caya kemana? Tadi kok nggak kuliah? Harusnya kan kuliah bareng aku jam 11 tadi,” tanyaku sambil mengaduk-aduk coklat hangat yang baru datang dan gadis manis yang aku tanya hanya menunduk sambil menghirup minumannya.

“Kalau boleh tahu kalian ada masalah?” tanyaku lagi dan kembali mata Cara meredup. Ia pun menggelengkan kepala.

“Masalah? Kamu sudah bisa menebak kan masalah aku dan Caya apa?” Cara malah balik bertanya dan membuatku mereka-reka masalah yang terjadi diantara mereka.

“Dia bilang sudah nggak mungkin untuk diteruskan karena kita berbeda tapi dia juga bilang kalau perasaan dia ke aku nggak akan berubah.” Kalimat itu dikeluarkan Cara dengan suara tertahan.

“Bohong. Jadi, putus nih?” Tanpa sadar aku berucap dan Cara menganggukkan kepalanya.

“Masa aku bohong sih? Baru tadi aku bicara dengan dia sebelum kamu datang.” Cara tertawa kering seakan kejadian yang akan ia ceritakan merupakan kebodohannya.

“Ternyata kisahku berakhir hari ini dan berakhir dengan menyedihkan tetapi aku nggak berurai air mata kok karena dia masih sayang aku. Hanya status hubungannya saja yang berubah.” Cara tersenyum manis dan dimatanya terlihat rasa tulus.

***

Kulayangkan pandanganku ke langit kelam tak berbintang. Mendung masih menggelayut bukan pertanda akan turun hujan. Seperti wajah Caramel tadi siang, muram tetapi bukan berarti air mata akan mengalir di pipinya. Entah apakah malam ini ia sedang menangisi kisah cintanya yang telah berakhir dengan akhir yang menyedihkan?

Masih teringat akan email Cara yang dikirimkan tadi malam. Mungkinkah sebenarnya ia sudah tahu bahwa kisah cintanya berakhir hari ini? Kurasa ia tahu pasti apa yang ada di pikiran Caya. Keputusan yang diambil oleh Caya mungkin berat bagi mereka berdua. Hanya karena prinsip yang berbeda maka kasih yang ada diantara mereka pun tertahan oleh prinsip tersebut. Dan yang dapat mereka lakukan hanya menatap kisah lalu mereka sebagai kenangan yang indah. Beruntunglah pasangan-pasangan yang tidak memiliki perbedaan yang mendasar.

Satu hal yang membuatku tersadar, aku dan Hans, walaupun sering bertengkar mengenai minatku tetapi tak ada satu pun perbedaan yang dapat memisahkan kami. Entah mengapa malam ini aku begitu melankolis, semuanya membuatku tersadar bahwa aku menyayangi Hans lebih besar dari sebelumnya dan aku melupakan gengsiku untuk mengakui bahwa aku benar-benar menyayanginya. Tanpa sadar aku sudah mengirimkan pesan manis yang tidak pernah kukirimkan sebelumnya ke telepon seluler Hans.

Hans, aku sudah pulang…

Aku kangen kamu…

Aku sayang kamu…

XOXO

From: Hazel

11.36 pm 9-JAN-2006

Jakarta, 10 Agustus 2006

Posted in idealisme | Tagged: | Leave a Comment »

Tidak Selamanya Hujan Menyebalkan

Posted by legendabuana on June 11, 2008

Hujan lagi? Menyebalkan. Bagiku, selamanya hujan adalah hal yang menyebalkan. Duh sebentar lagi jalan-jalan pasti macet. Kalau tidak salah hitung, sudah 6 kali hujan turun sepanjang hari ini.

“De, sepertinya tambah deras deh.” Seru Fanie, sahabatku yang duduk di samping kiriku di dalam sedan hitam kesayanganku ini. “Makin dingin pula, nggak usah pakai AC ya?” Sambungnya lagi.

“Nggak usah pakai AC? Kan jadi pengap, Fan.” Sewotku. Betul dugaanku. Dalam waktu hitungan menit, mobil-mobil di sekitarku berjalan perlahan. Hujan turun sangat deras.

“Terus gimana dong? Dingin nih, aku lupa bawa sweater.” Serunya, kemudian ia terdiam beberapa saat dan berkata, “eh, kita mampir ke Life aja. Ngopi-ngopi sambil baca buku asyik juga tuh.”

“Life?? Apaan tuh?” Tanyaku menengok sekilas ke Fanie dengan mengerutkan keningku dan kembali menatap jalan di depanku sambil sesekali menginjak rem karena kendaraan di depanku sekali-sekali berhenti.

“Itu lhoh, library-café yang baru dibuka 2 minggu lalu di dekat rumah sakit ibu-anak. Ada di kiri jalan di depan, sebentar lagi kita sampai kok. Untung belum kelewatan.” Oceh Fanie. Library-café? Boleh juga deh, nongkrong dulu. Masih jam 7, belum terlalu malam.

“Ya udah, kasih tahu gue harus belok kapan.” Sahutku.

***

Lima belas menit kemudian, Fanie dan aku sudah berada di dalam café yang di bagian dalamnya terdapat berpuluh-puluh rak buku. Kami mengambil tempat duduk dekat dengan jendela untuk melihat hujan turun. Caramel panas milikku mengepul dan mengeluarkan bau yang harum dihadapanku sedangkan Espresso milik Fanie mengeluarkan keharuman biji kopi yang membangkitkan semangat.

“Kamu mau minjem buku? Aku udah jadi member disini.” Kata Fanie.

Member Library ya?” Tanyaku disertai dengan anggukan Fanie. “Boleh juga. Bayar berapa? Buku-bukunya lengkap?” Sambungku.

“Gratis. Buku-bukunya lumayan lengkap. Buku yang kamu cari kemarin di Gramedia apa? Anna Karenin ya? Yang karangan Leo-Leo itu ada kok. Komik Topeng Kaca yang kamu suka, lengkap.” Jawab Fanie layaknya tim promosi Library-Café ini. Aku tertawa geli melihat tingkah sahabatku. Aku hirup Caramel-ku sambil melayangkan pandangan ke luar jendela. Hujan masih terus turun, tambah lebat malah. Aku benci hujan. Mungkin karena pertama kali aku melihat kekasihku, Ruben mencium gadis lain ketika hujan turun. Kemudian, ketika akhirnya aku putus dengan Ruben hujan turun pula. Tidak ada hubungannya sih, tetapi hujan selalu membuatku menjadi seorang yang melankolis.

“Bengong terus. Kenapa? Masih mikirin Ruben ya? He’s jerk. Udahlah fuggedabout him okay? Oh ya, pokoknya kamu harus jadi member disini karena owner-nya lucu banget.” Kata Fanie menggebu-gebu yang memecah lamunanku.

“Kata siapa owner-nya lucu?” Tanyaku geli melihat wajah Fanie.

“Kataku. Baru saja aku ngomong hehehe… Mba Fiena pernah kesini bareng teman-temannya dan dia bilang owner-nya lucu banget masih muda pula.” Fanie tersenyum simpul. Oh, pantesan Fanie jadi member, ternyata ada niat lain hehehehe….

“Eh, mas…mas…daftar jadi member dong.” Teriak Fanie tiba-tiba pada seorang laki-laki yang memegang kertas-kertas tidak jauh dari tempat kami duduk. Laki-laki itu tersenyum dan menghampiri kami.

“Ya, mba? Mau jadi member? Berdua? Bawa foto? Kalau nggak bawa, menyusul nggak apa-apa kok.” Tanya laki-laki itu ramah dan ia pun duduk di puff di samping kiriku dan samping kanan Fanie.

“Nggak, sendiri eh aku sih udah, temanku yang mau jadi member.” Jawab Fanie, mukanya bersemu merah pertanda dia gugup. Pasti karena laki-laki ini. Memang menarik. Kulitnya bersih, matanya tajam, badannya besar, tangannya juga besar, hidungnya mancung, rambut cepak, alisnya tebal, lekuk bibir yang indah. Struktur wajah yang sempurna. Padahal ia bisa jadi model tapi kok malah jadi pelayan disini? Aah itu kan jalan yang sudah diatur Tuhan. Hemm…sepertinya aku akan sering datang nih kalau pelayannya dia.

“Aauw!! Gila, kira-kira dong kalau injak kakiku. Sakit tau!” Teriakku karena kaki kananku diinjak Fanie.

“Maaf, De hehehe…” Fanie menunjuk formulir dihadapanku. Pelayan itu cekikikan. Menyebalkan. Tapi kok makin cakep ya?

“Pinjem pulpen, Fan.” Pintaku. Sebelum Fanie mengambil pulpen di tasnya, pelayan itu sudah mengulurkan pulpennya. Aku mengambilnya dan sedikit menyentuh tangannya. Hangat.

“Te…terima kasih.” Kataku sambil tersenyum. Duh berengsek, kenapa aku jadi gugup begini?

“Diisi saja dulu. Saya tinggal, nanti akan ada yang mengambil.” Katanya sambil berdiri.

Tidak lama, aku pun sudah sibuk mengisi formulir tersebut sambil mendengarkan ocehan Fanie.

“Ya ampun tuh cowok ganteng banget ya. Tapi sayang pelayan.” Kata Fanie sedikit meremehkan pekerjaannya.

“Memang kenapa Fan kalau dia pelayan? Mungkin saja dia mahasiswa yang part-time, seperti Ega yang tajir banget tapi part-time jadi pelayan di Starbucks.” Kataku masih konsen mengisi formulir.

“Formulirnya, sudah mba?” Tanya seorang perempuan, membuatku menengok ke arahnya.

“Sebentar lagi ya, mba.” Sahutku.

“Baik, saya tunggu.” Perempuan itu menunggu sambil berdiri. Aneh, pelayan yang tampan tadi menunggu sambil duduk. Tak ambil pusing, buru-buru aku selesaikan mengisi formulir yang diakhiri dengan tanda tanganku dan aku serahkan fotoku.

“Ditunggu 30 menit untuk mencetak kartunya ya, Mba.” Kata perempuan itu yang disertai dengan anggukanku.

***

Sepanjang hari hujan terus, rasanya aku ingin pulang dan tidur di ranjangku yang empuk, di bawah selimutku yang hangat. Tidak…tidak….kalau aku pulang pasti akan sendiri di kamar dan aku akan kembali mengingat Ruben. Tidak, aku tidak mau pulang. Pfiuh…aku lirik jam tanganku, 10 menit lagi kuliah siang ini selesai.

“De, ke Life yuk?” Bisik Fanie pelan takut terdengar oleh dosen yang berdiri di hadapannya. Aku pun mengangguk dan terbayang dibenakku pelayan tampan Life. Aku tersenyum sendiri. Beberapa hari lalu ketika aku meminjam novel, pelayan tampan itu tersenyum padaku. Hari ini pasti dia ada.

Gerimis masih terus turun ketika kami memasuki tempat parkir library-café itu. Kami berlari kecil menghindar dari terpaan air menuju ke dalam café.

“Selamat siang. Mau pesan apa?” tegur seseorang dan ternyata pelayan tampan itu. Aku menatapnya sambil menyebutkan pesananku, Hot Royal Caramel. Kudengar Fanie menyebutkan Espresso kesukaannya. Mataku terus tertuju pada pelayan itu hingga ia menghilang ke balik tembok berwarna merah pemisah antara café dan library.

“Woy, mata tuh?” semprot Fanie, membuatku kaget dan tertawa kecil. “Heran deh, masa sih kamu ngegebet pelayan itu?” sambungnya. Aku mengerutkan kening.

“Ada yang salah?” Tanyaku.

“Dia pelayan, De.”

“Terus? Aku nggak peduli. Dia ganteng ya?” Untuk pertama kalinya pelayan itu aku puji, aku tidak peduli dengan tatapan Fanie yang seakan-akan bilang bahwa aku gila. Aku tertawa geli melihat ekspresi sahabatku itu. Daripada kena semburan Fanie lagi, aku mengambil novel “Anna Karenin” karya Leo Tolstoi yang aku pinjam beberapa hari lalu dari library Life.

“Ini Esspreso-nya dan untuk nona yang manis ini Hot Royal Caramel khusus untuk kamu.” Goda pelayan tampan itu yang tidak aku sadari kedatangannya. Aku tersenyum senang. What did he said? Nona yang manis? Ampun deh. Sahabat yang duduk di hadapanku melotot ketika aku tersenyum kepada pelayan itu.

“Terima kasih, tuan yang tampan.” Tanpa sadar aku mengucapkan kata-kata itu yang membuat Fanie menganga.

“Terima kasih juga aku dibilang tampan. Baru mulai baca karya-nya Tolstoi ya?” Tanya pelayan itu yang tiba-tiba duduk di puff sebelah kiriku. Aku sih senang-senang saja tetapi Fanie…o-ow…wajahnya kok sudah seperti kepiting yang direbus ya?

“Nggak kok. Dulu aku pernah baca Tuan dan Hamba, Perang dan Damai, dan sebelum pinjam Anna Karenin, aku baru selesai baca Kebangkitan.” Ucapku penuh semangat. Kalau soal Tolstoi bisa dibilang aku cukup tahu. He’s my favorite writer.

“Wow…berat juga bacaan kamu. Aku suka banget sama Tolstoi khususnya novel Kebangkitan.” Katanya. Aku menganggukkan kepalaku.

“Aku juga suka Kebangkitan, banyak banget filosofi yang terkandung didalamnya.” Kataku dan kemudian mengalirlah dari mulutku adegan-adegan dimana Nekhlyudov yang berjuang untuk mendapatkan kembali cinta Katyusa, tokoh dalam novel itu. Sepertinya laki-laki tampan ini cukup cerdas sebagai seorang pelayan. Dia tahu tentang filsafat seperti bagaimana pendapat Plato mengenai ultim manusia, dia juga tahu mengenai sejarah dan kebudayaan Indonesia, dia juga tahu tentang musik kesukaanku Britpop. Dia tahu semua hal ck…ck…ck… Wawasannya yang luas membuatku kagum.

Tidak terasa Caramel-ku hampir habis dan Fanie manyun melihatku asyik berbicara dengan pelayan ini tanpa mempedulikan dia.

“Maaf ya? Aku jadi ganggu kalian.” Ucapnya merasa tidak enak melihat wajah Fanie yang kesal.

“Minuman kalian sudah hampir habis. Ditambah lagi ya?” Katanya seperti sedang membujuk Fanie yang kelihatan sangat marah padanya.

“Nggak usah kok, kami sudah mau pulang.” Suara Fanie terdengar sangat ketus. Aku jadi tidak enak hati.

“Kok pulang? Eh maaf…” Pelayan tampan itu sedikit kecewa sambil melirikku. Aku pun tersenyum dilirik begitu.

“Nggak apa-apa kok.” Jawabku. Fanie sudah siap-siap berdiri.

“Benar nih nggak mau lagi? Ya sudah kalau begitu kalian nggak usah bayar. Aku yang traktir. Oh ya, terima kasih ya sudah ngobrol-ngobrol. Sering-sering kesini ya? Aku tunggu kamu. Ehm…nama kamu siapa?” Kata pelayan tampan itu sambil malu-malu melihat ke arahku. Kali ini Fanie sudah berdiri dan mau tidak mau aku ikut berdiri dan pelayan itu juga ikut berdiri. Tangannya yang besar terulur ke arahku. Aku menyambut tangannya dan mengucapkan namaku, “Dena.”

Ia tersenyum kaget. Dan ia menyebutkan namanya, “Aku Dean. Aku owner Life. Kamu sering-sering datang ya? Eh, aku boleh minta nomer HP kamu?”

Aku kaget setengah mati, bukan karena namaku dan dia mirip, tetapi laki-laki yang disangka pelayan olehku dan sahabatku yang konyol itu ternyata pemilik library-café ini. Dan ia juga meminta nomor HP-ku. Mulut Fanie langsung menganga lebih lebar dari tadi.

Hemm…ternyata tidak selamanya hujan itu menyebalkan. Kali ini aku merasa beruntung hujan datang. J

Posted in idealisme | Tagged: | Leave a Comment »

Mata Yang Tersenyum

Posted by legendabuana on June 11, 2008

Di tepi dermaga ia duduk membisu

Melihat lukisan alam terpampang jelas

Namun, matanya kosong membeku

Seakan lukisan itu hal yang biasa baginya

Pada satu titik mataku terbius

Dirinya, dengan segala kekosongannya

Ingin hati tuk merengkuh

Apa yang ada di jiwanya

Sudah hampir satu minggu aku selalu melihatnya duduk di tepi dermaga. Menatap laut yang berwarna biru keemasan dengan tatapan kosong. Tak mempedulikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Serasa ia berada di dunianya sendiri tanpa ada orang lain. Matanya yang indah dan tajam terlihat sendu. Menatap matahari terbenam dengan kesenduannya.

Memasuki minggu kedua, hatiku tergerak untuk duduk di sampingnya. Ia hanya menoleh sekilas kepadaku, padahal aku sudah melempar senyuman manisku. Dilihat dari dekat ternyata ia cukup tampan. Kulit cokelatnya yang terawat dan bersih menandakan ia berasal dari keluarga berada. Alisnya hitam tebal dengan bola mata yang jernih bagai mata bayi tanpa dosa. Ia mengenakan kaos katun putih yang nyaman dan celana pendek katun berwarna krem. Tangan kanan dan jari-jarinya dibalut perban menandakan bahwa ia pernah mengalami kejadian yang membuat tangannya cedera. Aku terus menatapnya lekat-lekat tetapi tatapannya terus tertuju pada lautan yang tak berujung. Aku yakin kalau ia tahu aku menatapnya lekat-lekat.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, ia terus duduk membeku melihat lembayung senja berganti dengan kelamnya malam. Setelah melihat bintang yang paling terang muncul, wajahnya terlihat lega dan ia berdiri kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan menelusuri pantai ke arah utara menaiki tangga menuju kompleks pertokoan di pinggir jalan. Aku terus melihat punggungnya hingga ia menghilang di balik ramainya orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan raya di atas pantai. Ia menghilang bersamaan deburan ombak malam hari.

***

Entah mengapa aku sangat ingin melukisnya. Melukis struktur wajahnya yang sempurna. Melukis kesenduannya yang mempesona. Dan melukis makna matanya yang misterius.

“Namanya Hans,” ujar Jamie –sahabatku– pada suatu sore ketika aku tak lagi duduk di samping laki-laki itu. Aku menoleh ke arah Jamie. Kemudian wajah bulat yang selalu membuatku tertawa itu menceritakan kisah Hans yang ia ketahui dari kakak Hans yang tinggal di dekat rumahnya. Hans adalah pelukis terkenal di kota tetangga yang dikelilingi dengan bukit-bukitnya yang indah. Ia pelukis naturalis dan kurang menyukai udara panas pantai. Hampir tiga bulan lalu, lukisannya mendapatkan penghargaan seni rupa tertinggi oleh Dewan Kesenian Nasional. Pada malam penghargaan, ia dan kekasihnya mengalami kecelakaan. Rasa bersalah akan kematian kekasihnya membawanya ke tempat yang kurang ia sukai. Kota pantai, daerah tempat ku tinggal hampir 20 tahun. Rasa kecewa karena tangan kanannya tidak dapat berfungsi dengan baik lagi membuat ia terus tenggelam menatap lembayung berganti dengan kelam. Kelamnya malam membawa dirinya akan kenangan kekasihnya dan lukisan hatinya. Cerita Jamie tentang dirinya membuatku tersentuh sekaligus kecewa. Tersentuh karena ia begitu mencintai kekasihnya yang terus ia kenang dan kecewa karena tingkah laku yang menyiksa dirinya seperti manusia yang tidak memiliki ultim.

***

Minggu keempat aku melihatnya masih termangu dengan tatapan kosong menatap laut yang berwarna keemasan. Tanpa aku sadari, aku pun duduk di sampingnya di tepi dermaga.

Aku keluarkan buku sketsaku yang berukuran A3 serta peralatan melukisku. Dan aku mulai melukis dirinya. Sepertinya ia tidak merasa terganggu aku melukisnya. Aku perhatikan bentuk wajahnya dari samping. Dan mulai kutuangkan ke dalam buku sketsaku. Sebelum cahaya matahari menghilang aku menuliskan puisi di bawah sketsaku,

Terlalu indah mata yang kosong menatap kenangan lalu membeku

Adakah kudapat melukismu dengan mata indahmu yang tersenyum?

Tak lupa kucantumkan namaku dan tahun pembuatan sketsa ini, Hazel, 2006.

Tidak terasa langit yang berwarna lembayung mulai meredup. Menandakan malam segera tiba. Lampu-lampu di dermaga sudah mulai menyala. Lelaki itu bangkit dan tanpa sadar aku mengucapkan terima kasih. Seakan-akan aku berterima kasih kepada modelku. Ia menatapku. Ekspresi wajahnya tidak berubah. Ia menatapku dan melihat buku sketsaku. Matanya seakan terkejut melihat wajahnya ada dalam bentuk sketsa di bukuku. Sudut bibirnya naik membentuk satu senyuman di wajahnya yang ramah. Dan tidak terasa lagi olehku kekosongan pada matanya. Matanya tersenyum melihatku dan wajahnya dalam sketsaku.

Jakarta, 15 Maret 2007

Posted in idealisme | Tagged: , | 4 Comments »

Tuhan Memilih Takdir dan Nasibku dari Mimpi yang Kurajut

Posted by legendabuana on June 9, 2008

Ada sebuah rahasia dibalik mimpi yang terwujud. Yakni, keyakinan akan mimpi tersebut pasti terwujud. Seperti aku yang selalu bermimpi untuk memiliki dirinya. Aku memiliki keyakinan bahwa suatu saat nanti, aku pasti dapat memilikinya. Sebab ia sosok yang indah dimataku.

Berawal dari rasa sakit yang disebabkan oleh Louis. Ia teman main kakak laki-lakiku yang beda usia sekitar 3 tahun denganku. Aku mengenal Louis sejak masa sekolah dasar. Aku dekat dengannya sejak kelas 2 sekolah menengah dan terus berlanjut hingga aku kuliah. Selama 7 tahun ini, aku terus bermimpi untuk menjadi pengantinnya. Mimpi anak kecil yang menginginkan menjadi pengantin laki-laki yang merupakan kekasih pertama dan terakhirnya. Aku yang terlalu naïf dan polos dalam menjalani hubungan dengan Louis tidak pernah tahu bahwa laki-laki itu bisa berpaling ke wanita yang lebih cantik atau lebih manis atau yang sesuai dengan dirinya. Aku percaya dengan kata-kata manis dan rayuan-rayuannya yang mampu membuatku terbang hingga keawan. Tapi tanpa kusadari, ternyata aku sudah jatuh sampai ke perut bumi saat ia berjalan dengan teman kuliahnya dulu. Menyakitkan tapi tak ada air mata yang keluar. Hanya desahan nafasku yang panjang yang membuatku terbangun dari mimpi-mimpi yang ternyata kurajut sendiri. Selama satu tahun kemudian aku menjalani hidup dengan hati yang sepi.

Perlahan aku bangkit dan mencoba menikmati hidup dalam sepiku. Saat berpisah dengan Louis, aku pikir aku tidak akan pernah terpesona pada seorang laki-laki lagi. Terlalu menyakitkan, hubungan yang sudah aku bina selama tujuh tahun hancur begitu saja. Yang paling menyakitkanku adalah kebiasaan yang telah aku jalani selama tujuh tahun terakhir bersama Louis tiba-tiba tidak aku jalani lagi sekarang. Kebiasaan bersama orang yang kita cintai adalah racun yang dapat menghancurkan kita pelan-pelan.

Adalah ia, sosok yang indah itu, yang mewarnai hidupku selanjutnya. Mengentaskan sepi di hati dan kekosongan yang melandaku. Hanya ia yang mampu membuatku begitu.

Sebelum bertemu dengan sosok yang indah itu, aku menjalani hidup dengan hati yang gelisah dan sepi. Kemudian, sosok yang indah itu, Mataniari, datang mengobati kegelisahanku ketika tak ada yang dapat mengobatinya bahkan Tuhan pun tak dapat mengobatinya, itu menurutku. Ia yang memenuhi kehampaan hati ini ketika Tuhan tak dapat memenuhinya, itu juga menurutku. Ia yang menyelamatkan aku dari situasi kesendirian yang mencekam ketika Tuhan tak dapat menyelamatkan aku, itu masih menurutku. Oleh karenanya, kepadanya kupagutkan hasratku, kuikatkan hasratku kepadanya. Tapi tak pernah kumengikat dirinya dengan cintaku.

Aku selalu berpikir Tuhan memberikanku rasa kasih untuk kuberikan pada seseorang yang aku kasihi. Tuhan memberikanku rasa kasih yang berlimpah sehingga aku tak dapat membendung rasa kasih yang kuberikan padanya. Semua mengalir begitu saja dan terhenti ketika aku menemukan batas yang tak mungkin aku tembus. Pada saat itu aku berpikir, Tuhan memberikan aku rasa sakit yang begitu perih untuk aku lalui. Akhirnya aku mencoba untuk bersahabat dengan waktu. Aku membiarkan waktu membasuh perihku. Mengobati rasa sakit karena rasa kasih yang diberikan oleh Tuhan.

Semakin bertambah dewasa usiaku, semakin bertambah pula rasa hampa dijiwaku. Hanya seorang yang aku kasihi yang dapat memenuhi kehampaan jiwa ini. Mungkin lebih tepat jika aku katakan menghilangkan rasa hampa dan bukan memenuhi rasa hampa. Dengan hilangnya rasa hampa, aku dapat memperhatikan warna-warni dunia yang beragam. Jika ia datang dengan memenuhi rasa hampa, aku hanya bisa melihat warna-warni dunia tanpa memperhatikannya.

Pada akhirnya, aku pun berpikir, manusialah yang menciptakan sebuah perasaan yang tak dapat dicegah rasa sakitnya. Tuhan hanya memberikan rasa kasih kepada setiap manusia dan manusia lah yang memilih memberikan rasa kasih tersebut kepada siapa yang pantas. Bila ia memberikan rasa kasih tersebut kepada orang lain yang tidak pantas maka ia akan mendapatkan rasa sakit. Rasa sakit di hati yang perihnya serasa mengiris-iris.

Berkaca padahal itu, akupun tak lagi meyakini mimpiku pasti terwujud. Tetapi, aku merajut mimpiku untuk terwujud. Sebab, aku yakin Tuhan telah memilih takdir dan nasibku dari mimpi yang kurajut.

Jakarta, 21 April 2008

Posted in idealisme | Tagged: | 2 Comments »

Suara Gaia, Rakyat Negeri Kabut

Posted by legendabuana on June 9, 2008

Dahulu kala ada cerita mengenai orang-orang yang dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan yang disebut pengikut iblis. Sebab itu, orang-orang tersebut dijauhi dan dibakar hidup-hidup seperti Joan of Arc. Cerita mengenai pengikut iblis itu berkembang lantaran, menurut legenda, iblis pernah mencuri dengar rencana-rencana Tuhan akan takdir kehidupan bagi ruh yang ditiupkan ke tubuh manusia. Kemudian iblis memilih manusia-manusia dan memberitahukan rencana-rencana Tuhan tersebut. Sehingga manusia yang dipilih iblis dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan yang seharusnya tak bisa dan tak boleh diintip.

***

Negeri ini adalah negeri yang selalu berselimut kabut. Maka banyak orang menyebutnya Negeri Kabut. Di pagi hari, kabut turun ke seluruh negeri mencipta kesegaran membangkit semangat untuk beraktifitas. Di petang hari, kabut pun turun membawa penat pergi setelah seharian lelah beraktifitas, waktu yang sangat nikmat untuk terlelap. Tetapi, akhir-akhir ini, kabut pun turun pada siang hari. Kabut yang membawa kegelisahan bagi rakyat Negeri Kabut.

Senja merupakan seorang yang dipercaya rakyat Negeri Kabut dapat menghilangkan kabut yang turun di siang hari. Mungkin karena ia seorang tua yang dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan maka ia dipercaya oleh rakyat Negeri Kabut.

“Awal kabut di siang hari turun bertepatan dengan terpilihnya Presiden Siang menjadi pemimpin di negeri ini,” ujar Senja ketika beberapa rakyat negeri mimpi mengeluh mengenai kabut yang turun di siang hari. Mereka pun percaya karena Senja seorang tua yang dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan.

“Jadi bagaimana kami dapat menghilangkan kabut ini? Sebab kami tak dapat beraktifitas,” kata salah seorang rakyat menanyakan solusi pada Senja.

“Saya percaya, sebab saya mendapat bisikan Tuhan, bahwa kabut di siang hari akan hilang jika Presiden Siang mengundurkan diri,” ujarnya sambil tersenyum penuh rahasia.

Beberapa rakyat yang mendengar perkataan Senja menyebarkannya ke teman-temannya, sanak saudaranya, kerabatnya, iparnya, dan seluruh rakyat pun mengetahui perkataan Senja. Rakyat pun mengadakan pertemuan. Isinya untuk memaksa Presiden Siang mengundurkan diri. Hampir seluruh rakyat menyetujuinya. Mereka berpendapat bahwa apa yang mereka inginkan merupakan “bisikan” Tuhan.

Adalah Gaia, seorang gadis cilik yang dapat “melihat” masa lalu dan masa depan tetapi selalu ia pendam untuk dirinya sendiri. Ia melihat kesibukan orang-orang di Negeri Kabut akan perkataan Senja. Hampir seluruh rakyat setiap hari berdemontrasi di depan Gedung Kepresidenan, tidak peduli kabut yang makin menebal di siang hari. Gaia melihat sekelompok rakyat yang membakar segala sesuatu guna menepis kabut di siang hari. Keadaan semakin kacau ketika sebagian rakyat mulai merusak Negeri Kabut. Mereka berteriak-teriak di jalan raya dengan membawa obor dan membakar segala sesuatu. Keadaan yang kisruh membuat gadis cilik itu takut.

Pada suatu hari ketika keadaan makin tidak terkendali, Gaia pun berlari ke rumah Senja. Senja hanya terkikik ketika gadis cilik itu mengatakan bahwa Senja membuat segalanya menjadi tak terkendali.

“Aku hanya memberitahukan apa yang ‘dibisikkan’ Tuhan padaku,” sahutnya sambil tersenyum meremehkan anak kecil itu.

“Apakah Tuhan dapat berbicara?” tanya Gaia polos.

“Ya, Tuhan dapat ‘berbicara’ denganku,” jawab Senja.

“Bagaimana kau yakin bahwa itu Tuhan?” tanya Gaia lagi.

“Karena suara rakyat menurutku adalah suara Tuhan,” jawabnya gamblang. Gaia terdiam. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Senja. Yang ia mengerti adalah, Senja mengaku mendapatkan ‘bisikan’ dari Tuhan dan memberitahukannya kepada rakyat Negeri Kabut. Kemudian rakyat Negeri Kabut pun menyuarakan ‘suara’ mereka, sebab mereka yakin bahwa itu ‘suara’ dari Tuhan.

Gaia pun menangis. Di alam pikirannya tergambar kekacauan yang akan berakhir dengan kematian banyak orang. Gaia pun menjadi takut. Ia adalah salah satu rakyat Negeri Kabut. Jika ia sudah dewasa nanti apakah yang ia ucapkan merupakan ‘suara’ Tuhan?

Ia teringat akan cerita ibunya yang mengetahui bahwa ia dapat ‘melihat’ masa lalu dan masa depan. Ia teringat cerita mengenai iblis yang pernah mencuri dengar rencana-rencana Tuhan akan takdir kehidupan bagi ruh yang ditiupkan ke tubuh manusia. Kemudian iblis memilih manusia-manusia dan memberitahukan rencana-rencana Tuhan tersebut. Sehingga manusia yang dipilih iblis dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan yang seharusnya tak bisa dan tak boleh diintip.

Gaia pun terdiam. Mengenai masa lalu dan masa depan yang ia ‘lihat’, ia pendam untuk dirinya sendiri. Kemudian ia berjalan pulang ke rumah dan berdoa untuk Negeri Kabut. Sebab ia meyakini doa. Doanya pada Tuhan adalah suara dirinya sebagai rakyat Negeri Kabut. Dan Tuhan dengan suara-Nya pasti akan memberikan kebaikan untuk Negeri Kabut ini.

Jakarta, 24 Mei 2008

Posted in idealisme | Tagged: | Leave a Comment »

Dan Ia pun Tersenyum Melihat dan Menatapku

Posted by legendabuana on June 9, 2008

Dan ia pun tersenyum melihatku. Aku sangat mencintai cahayaku. Cinta membuatku gila. Bahkan sampai saat ini aku pun tidak menyangka aku berani mengatakan bahwa aku mencintainya dan aku sangat menginginkannya. Entah cinta. Entah nafsu. Tetapi aku memendam hasrat yang sangat terhadapnya. Cinta membuatku gila ataukah kegilaan yang membuatku mencinta?

***

Arti namanya adalah cahaya. Ia merupakan cahaya yang selalu menyinari dan menghangatkan hari-hariku ketika jalanku mulai terasa redup dan dingin. Bahkan sampai saat ini cahayanya masih menyilaukan hatiku.

Ia meninggalkanku disaat aku mulai benar-benar mencintainya dan yakin untuk menjalani hari-hariku bersamanya walau tentangan datang dari pelbagai arah.

“Dulu aku pernah sayang kamu tapi sekarang rasa sayang itu sudah hilang. Aku nggak sayang kamu lagi.” Ujarnya suatu malam dan itu sangat mengagetkanku sebab satu minggu sebelumnya ia masih bermanja denganku.

Menangis dan menyesal. Hanya itu yang dapat kulakukan dan kurasakan. Terlalu menyakitkan bagiku sementara aku sudah mulai mencintainya. Kembali hari-hari bersamanya mulai muncul dipikiranku bagai film yang berganti scene. Matanya yang selalu lembut ketika memandangku, tangannya yang besar dan hangat ketika membelaiku, hembusan nafas hangatnya yang teratur ketika menciumku. Aku mulai merindukannya dan memberanikan diri untuk bertanya jika aku memiliki suatu keyakinan yang sama dengan dirinya apakah semuanya akan berubah dan ia bilang “Ya”. Imanku hampir goyah.

Cukup lama aku menata diriku kembali hingga akhirnya aku meneleponnya selama satu jam dan ia meneleponku balik selama satu jam pula. Dan aku, tanpa mempedulikan harga diriku, mengungkapkan keinginanku untuk memiliki bagian dari dirinya. Ia menyanggupi. Dan disinilah aku berdiri, di dalam kamar yang hangat menunggunya keluar dari kamar mandi.

***

“Diluar hujan.” Ucapku memecah keheningan ketika ia keluar dari kamar mandi bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih.

“Bagus dong, diluar dingin dan kita bisa saling menghangatkan dalam kamar ini.” Jawabnya sambil mengenakan kaos putih. Sedetik aku merasa jijik dengan ucapannya barusan. Tetapi nafasku tertahan ketika aku melihat dirinya. Satu tahun hampir berlalu ketika perpisahan itu terjadi dan tubuhnya makin bertambah besar. Kulitnya yang putih bagi sukunya membuatku makin jatuh cinta karena ia berbeda. Bagian perutnya yang paling kusuka. Tidak six-pack seperti pria-pria metropolis lainnya, tidak gendut, juga tidak kurus, tetapi cukup berisi. Garis halus berwarna hitam berjajar rapi lurus dari atas pusar hingga ke bawah pusar.

Kemudian ia duduk di atas ranjang. Mengambil remote TV dan mulai menyalakan TV. Aku tetap terpaku melihat dirinya yang begitu indah membuatku terbius dalam keheningan ini. Empat jam yang lalu, Pukul 13.00 kami masih berada di tengah kemacetan lalu lintas ibukota. Dalam waktu empat jam yang begitu cepat kurasa, kami sudah berada dalam satu kamar yang hangat di suatu rumah peristirahatan milik temanku yang berada dekat dengan kaki gunung di selatan Ibukota. Hanya kami berdua tiada orang lain. Entah keberanian darimana datangnya sehingga membuatku benar-benar melancarkan niatku untuk memiliki bagian dari dirinya. Entah apa yang ada dipikirannya hingga ia menyanggupi dan mau datang bersamaku ke rumah peristirahatan yang jauh dari keramaian kota.

Dua puluh empat jam sebelumnya, aku tengah merayu temanku yang aku anggap sebagai matahariku untuk meminjamkan rumah peristirahatan yang baru ia beli dengan harga murah ini. Matahariku adalah orang yang sangat dekat denganku sejak dulu. Katanya ia sangat menyayangiku sehingga apapun yang aku minta pasti dikabulkan. Ketika ia berkata bahwa ia menyayangiku, aku hanya tersenyum kepadanya dan mengatakan bahwa aku sayang padanya tidak lebih sebagai sahabat. Sebenarnya orang tuaku menginginkan aku untuk menikah dengannya karena mereka mengenal dekat orang tuanya. Tetapi, aku belum merasa yakin untuk menghabiskan sisa hidupku bersamanya karena aku hanya menganggap ia sebagai teman dekatku tersayang.

***

“Hei, kok melamun? Ada apa?” Tegur cahayaku. Dan ia sudah berdiri tepat dihadapanku dengan tangan kanannya memegang sisi jendela disamping kiri pinggangku dan tangan kirinya membelai rambutku. Nafasnya terasa lembut menyentuh anak rambutku yang ada di dahiku.

“Nggak kok.” Aku bingung harus menjawab apa. Inilah kelemahanku, kikuk bila berada dihadapan orang yang aku suka. Ia menatapku tajam seakan-akan aku ini hasil buruan yang siap dimakannya. Jengah aku ditatap begitu, aku sedikit mendorong tubuhnya untuk memberiku jalan menuju ranjang empuk tempat ia menonton TV tadi.

Ada perasaan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku ketika melewati tubuhnya. Ia berjalan mengikutiku. Kemudian aku duduk di atas ranjang menghadap kearah TV dan mulai mengganti-ganti channel TV. Ia duduk tepat di belakangku dan mulai memelukku serta menciumi leherku. Aku bingung harus berbuat apa. Aku menyukai ketika ia mencium leherku dulu. Rasanya seperti ada yang memberi kehangatan hingga ke tulang. Entah kenapa ketika ia mencium leherku saat ini, tidak lagi kurasakan kehangatan yang mencapai tulang walaupun jantungku berdebar sangat kencang.

“Ada apa dengan kamu, sayang?” tegur cahayaku lembut. Aku mulai menggeser tubuhku ke sisi kanan dan setengah rebahan. Ada apa denganku? Bukankah ini yang aku inginkan? Perasaanku sangat tidak nyaman, padahal orang yang aku cintai ada di sisiku. Mataku masih tertuju pada layar TV, tetapi terlihat jelas olehnya bahwa aku melamun.

“Apa yang sedang kamu pikirkan? Biasanya kamu bawel kenapa sekarang jadi pendiam?” tegurnya lagi, kali ini ia sudah ikut berbaring di samping kiriku dan menatapku lekat-lekat sambil tangannya memainkan rambutku. Aku hanya menggelengkan kepala dan balas menatapnya. Biasanya aku tidak pernah berani menatap orang yang aku suka, tetapi pada detik ini aku berani menatapnya. Apa mungkin sebenarnya aku sudah tidak mencintainya? Padahal jantungku berdebar sangat keras.

Ia mulai menciumi pipi kiriku dan aku mulai bergeming. Ia mencium bibirku dan aku membalas ciumannya. Nafasnya mulai tidak teratur tetapi menyapu kulit wajahku dengan halus.

Tanpa kusadari aku mulai luruh dalam pelukannya. Dari bibirku, ciumannya mulai turun ke dagu dan leherku. Tangannya berada dikepalaku dengan ibu jarinya dibelaikan lembut pada pipiku. Aku merasakan gairah yang ada didirinya sedangkan aku hanya tampak seperti boneka dalam genggamannya yang diperlakukan sangat halus olehnya. Tak ada gairah yang muncul pada diriku. Tak ada rasa senang bahwa ia mencumbuku dengan mesra. Tak ada perasaan nyaman ketika ia merengkuh tubuhku. Yang ada hanyalah perasaan tidak nyaman yang berkecamuk dalam hatiku.

Apa yang sudah aku perbuat hari ini? Apa yang sudah aku perbuat dua puluh empat jam yang lalu? Meminjam rumah peristirahatan ini hanya untuk melenyapkan emosiku sesaat tanpa memikirkan akibatnya. Bagaimana jadinya jika aku betul-betul memiliki bagian dari dirinya? Apa yang harus aku katakan pada orang tuaku?

Cahayaku seperti sudah tak peduli dengan apapun. Ia terus menciumi leherku, kembali ke wajah dan bibirku, kemudian turun ke dadaku. Entah kapan ia melepas kaos dan celanaku, yang pasti saat ini ia berusaha membuka penutup dadaku. Dan herannya, tak sedikit pun aku menolak apa yang ia perbuat.

Cahayaku…cahaya yang selalu menyinari hari-hariku dulu. Cahaya yang menghangatkan hatiku ketika aku bersamanya. Saat ini yang kurasa malah sebaliknya. Aku tidak merasakan kehangatan ketika ia membelaiku. Butiran cair berwarna bening mulai jatuh dipipiku ketika aku mengedipkan mata.

***

Mengapa air mata ini terus keluar? Apa yang terjadi pada diriku? Haruskah aku senang dan bahagia karena sebentar lagi ia akan memberikan bagian dari dirinya kepadaku? Mengapa aku terus menangis sedangkan ia sepertinya senang melihat tubuhku yang polos berbaring di kasur yang empuk, di bawah selimut yang hangat yang mungkin sebentar lagi berganti dengan sentuhan kulitnya yang hangat dikulitku?

Bunyi sirene terdengar memecah keheningan dan nafas menderu cahayaku. Aku menolehkan kepalaku ke sisi kanan tubuhku tepat ke atas meja kecil disisi ranjang ini. Ada yang mengirimkan pesan singkat padaku. Aneh, padahal tempat ini terpencil dan cuaca juga sedang tidak baik tetapi bunyi sirene pertanda datangnya pesan singkat itu juga menandakan bahwa HP-ku mendapatkan sinyal. Tangan kananku mengambil HP yang aku taruh diatas meja tersebut. Cahayaku mengumpat kesal karena pada saat seperti ini pun aku masih menyempatkan diri melihat pesan singkat itu.

Message 1: Selama sinar cahayamu menyilaukan hatimu biarlah sinar itu terus menuntunmu dan jangan sampai membutakanmu.

From: “matahari”

06.58 pm 15 Maret 2006

Terpaku aku membaca pesan itu. Airmata yang terhenti keluar lagi. Kali ini aku tahu mengapa aku menangis. Aku bangkit, tidak peduli bahwa tak ada sehelai benang pun ditubuhku, aku mengambil pakaianku yang tergeletak di lantai dan cepat-cepat aku kenakan. Kemudian aku membereskan pakaianku yang ada di lemari. Begitu saja aku masukkan ke dalam tasku. Mengambil kunci mobil yang ada di atas meja rias. Dan aku berusaha membuka pintu ketika cahayaku mendadak bangkit dan mendekatiku.

“Ada apa sih? Siapa yang SMS kamu?” Katanya bingung melihat ulahku.

“Maaf, aku harus pulang.” Jawabku singkat.

“Tapi ada apa? Terus bagaimana dengan aku? Kamu nggak mau nerusin rencana kamu?” Tanyanya lagi. Dan ia terlihat berantakan sekali.

“Maaf tapi aku harus pulang. Sekarang.” Jawabku singkat dan airmata terus membasahi pipiku. Kemudian cahayaku hanya memberikan kecupan di keningku dan membukakan pintu kamar. Aku berlari keluar kamar menuju ruang tamu, membuka pintu depan. Dengan tidak mempedulikan gerimis aku membuka pintu mobil dan pergi meninggalkan cahayaku. Meninggalkan masa laluku. Meninggalkan romantisme masa lalu yang indah.

Aku merasakan detak jantungku berdebar ketika aku mengendarai mobilku menuju ibukota. Menuju kota yang tak pernah tidur. Disitu, mungkin, ia menungguku dengan gelisah. Tak terasa perjalananku hari ini hampir berakhir. Aku tak tahu apakah akhirnya akan baik ataukah buruk. Aku belokkan mobilku ke arah kanan memasuki gerbang perumahanku dan berhenti tepat didepan rumah putih berhalaman luas tanpa pagar setelah aku banting setir ke arah kiri dan menabrak tong sampah hingga isinya berhamburan. Buru-buru aku keluar dari kendaraan itu tanpa menutup pintunya dan berlari menuju pintu kayu berwarna cokelat tua.

Aku pencet bel. Kuulangi beberapa kali hingga pintu terbuka. Matahariku berdiri dihadapanku dengan mulut menganga karena kaget. Aku peluk dirinya dan berkata, “cahaya itu hampir membutakanku padahal cahayanya hanya cahaya kecil dibanding cahayamu yang baru mulai kusadari begitu menghangatkanku hingga ke sum-sum tulangku. Rasa hangat yang terus menjalar dan mengalir selama darahku terus mengalir. Maaf, tapi aku sayang kamu.”

Aku terisak dan ia melepaskan diri dari pelukanku. Kemudian matahariku membelai rambutku dan bibirnya membentuk senyuman manis.

Dan ia tersenyum menatapku. Kusadari bahwa aku mulai menyayanginya dan yakin akan menghabiskan hari-hariku bersamanya.

Jakarta, 14 Juli 2006

Posted in idealisme | Tagged: | Leave a Comment »

Lembayung Senja

Posted by legendabuana on May 30, 2008

Kerinduan terhadap masa lalu membawaku menelusuri tempat dan jalan-jalan yang pernah kutempuh pada masa kecil. Hingga sampailah aku di sini, pada dermaga ini, tempatku bermain dan tertawa-tawa bersama teman sebaya, Lembayung Senja.

Di dermaga ini Lembayung Senja sering berlatih menari, aku melukis kapal-kapal mewah milik orang kaya yang sedang bersandar. Atau melukis laut, burung-burung camar, matahari senja, dan juga langit senja. Di dermaga ini pula kami sering melamunkan masa depan, yang dengan sangat tidak sabar ingin kami jelang bersama. Kala malam mulai membayang, kami baru beranjak pulang meninggalkan dermaga, untuk kembali lagi ke sana keesokan hari.

Lembayung Senja adalah gadis berkulit putih, dengan rambut hitam panjang terurai bagai air terjun, dan paras teramat cantik. Banyak laki-laki yang tergoda oleh keanggunannya. Tentu saja. Ditambah tubuhnya yang terbilang tinggi untuk anak seumur dia, dan badan yang molek serta kepintarannya menari, Lembayung Senja sungguh akan membuat para lelaki tergila-gila memimpikannya. Padahal, waktu itu dia hanyalah seorang anak perempuan yang masih berusia 12 tahun.

Lembayung Senja lahir ketika langit senja dihiasi warna lembayung, sehingga ayahnya terinspirasi memberi ia nama demikian. Mungkin karena itu pula Lembayung Senja amat menyukai saat-saat dimana dia dan aku duduk berdua di dermaga, sambil melihat ke langit senja, serta melamunkan angan-angan masa kanak kami.

“Suatu hari nanti aku ingin keliling dunia dengan tarian-tarianku. Aku ingin membuai semua penduduk dunia dengan nyanyianku,” ujarnya sambil mengikik.

“Aku ingin keliling dunia dengan lukisan-lukisanku, dan mewarnai penduduk dunia dengan cat airku,” ujarku sambil ikut terkikik-kikik.

“Kalau begitu, kita keliling dunia bersama-sama saja!” kata Lembayung Senja dengan amat gembira. Aku mengangguk, sambil menatap langit senja yang berwarna lembayung.

Angan-angan masa kecil yang sangat indah. Betapa aku rindu ingin kembali ke masa itu. Masa-masa di mana segala sesuatunya berjalan lancar, aman, dan damai. Masa-masa yang penuh dengan gelak tawa kami berdua. Saat itu, walaupun banyak kapal-kapal orang kaya yang merapat di dermaga, tetapi selalu ada tempat bagi kami berdua untuk melepas pandang, sambil duduk-duduk menikmati hembusan angin laut, juga tanpa khawatir apa-apa. Air laut pun masih terlihat jernih, dengan warna birunya yang teduh.

Tapi, setelah tujuh tahun aku pindah dari kota ini, semua terlihat berantakan. Kapal-kapal orang kaya yang bersandar di dermaga tinggal sedikit, itu pun tampak kotor pula. Padahal dulu, aku dan Lembayung Senja memimpikan ingin memiliki satu dari sekian banyak kapal-kapal yang kelihatan mewah itu. Sepanjang dermaga kini banyak sampah, kotor sekali, seperti tidak pernah dibersihkan. Tujuh tahun lalu ada seorang bapak tua yang selalu rajin membersihkan dermaga, tiap malam menjelang, ketika aktivitas di dermaga sudah berhenti. Air laut yang dulu jernih, dengan warna biru yang teduh, sekarang kumuh. Sampah bertebaran di mana-mana, airnya berwarna hijau kehitaman. Ingin rasanya aku menangis melihat semua itu. Kiranya waktu sudah mengubah semuanya.

Tujuh tahun. Waktu selama tujuh tahun telah mengubah segalanya. Termasuk angan-angan masa kanak kami. Yang terekam dalam ingatanku pada tujuh tahun yang lalu itu adalah, di awal minggu pada pertengahan tahun, ayah menyuruh kami sekeluarga bersiap-siap untuk pindah ke daerah selatan. Kata ayah kondisi kotanya relatif lebih aman di situ. Aku belum mengetahui apa-apa saat itu, jadi menurut saja yang dikatakan ayah. Ibu mengemasi pakaian-pakaianku, sedang aku mengemasi peralatan melukisku. Yang aku tahu saat itu hanyalah, kami akan pergi dan aku akan berpisah dengan Lembayung Senja. Tetapi hanya untuk sementara.

Ketika sedang memasukkan kertas-kertas gambarku ke dalam tas, kutemukan gambar Lembayung Senja, dalam momen sedang menari, dengan latar belakang laut biru, dan langit berwarna lembayung. Aku ingat, gambar itu aku lukis dengan menggunakan pinsil warna, seminggu sebelumnya. Ingin sekali aku waktu itu menyerahkannya pada Lembayung Senja. Maka aku lari ke luar kamar. Tapi sesampai di teras ayah memanggilku. “Kamu mau ke mana?” tanya ayah, yang sudah berdiri di ambang pintu, seperti sengaja mengawasi.

“Ke dermaga, mau kasih gambar pada Lembayung Senja. Ia pasti menunggu-nungguku di dermaga,” jawabku, sambil terheran-heran kenapa ayah bertanya begitu. Padahal beliau tahu tiap sore aku ke dermaga. Namun dalam pikiranku waktu itu, aku harus segera memberikan gambar itu kepada Lembayung Senja, sekaligus berpamitan, serta berjanji untuk mewujudkan angan-angan masa kanak-kanak kami. Sebab, besok pagi kami sekeluarga akan berangkat menuju daerah selatan.

“Jangan ke dermaga! Situasi sangat kacau! Keadaan bahaya. Nanti, biar Ayah yang memberikan gambar itu pada ayah si Lembayung,” ujar ayah. Dia tampak panik. Dan aku serahkan gambar itu pada ayah, kembali terheran-heran. Ada apa sebetulnya? Apa yang sedang terjadi? Mengapa ayah begitu panik? Tidak biasanya beliau panik. Biasanya, ayah sangat tenang dalam menghadapi sesuatu.

Malamnya aku tidak bisa tidur, gelisah memikirkan gambar itu. Aku sangsi, apakah ayah akan benar-benar memberikannya pada ayah Lembayung Senja. Apakah ayah Lembayung Senja akan memberikan padanya. Tetapi akhirnya aku terlelap juga. Lalu esok paginya bangun dengan cepat, siap-siap berangkat menuju daerah selatan.

Daerah selatan. Baru pertama kali itu aku datang ke daerah ini, yang sama sekali berbeda dengan daerah utara, tempat tinggalku sebelumnya. Tapi satu hal yang sama pada kedua daerah itu, adalah udaranya. Sama-sama bersih. Bila di utara bersih oleh angin laut, di selatan karena hawa pegunungan. Makanya aku cepat merasa betah di daerah selatan.

Aku juga berpikir kami akan menetap sementara dan segera kembali ke rumah kami dekat dermaga. Tapi ternyata tidak. Dengan alasan keamanan ayah memutuskan tetap tinggal di daerah selatan, dengan udara pegunungannya yang sejuk itu. Namun betapapun aku selalu teringat saat-saat bersama Lembayung Senja, terutama momen-momen kala di dermaga. Aku juga selalu mengingat langit senja, angan-angan masa kanak kami. Dan, tentu saja, selalu mengingat Lembayung Senja, yang entah di mana dia sekarang.

Terakhir kudengar kabar dari seorang kawan sekolahku dulu, yang rumahnya tidak begitu jauh dari rumah Lembayung Senja. Bahwa beberapa hari setelah aku pindah, terjadi kerusuhan etnis di daerah utara. Rumah serta toko-toko dijarah, juga dibakar. Termasuk rumah-toko ayah Lembayung Senja. Ibu dan adiknya ikut terbakar di dalamnya. Ayahnya dipukuli ramai-ramai oleh orang-orang yang tidak jelas datang dari mana. Lebih tragis, nasib Lembayung Senja. Diperkosa orang-orang yang juga tidak jelas datang dari mana. Yang pasti, orang-orang bringas itu berbeda etnis dengan keluarga Lembayung Senja. Namun itu tetap bukan alasan untuk berbuat biadab.

Etnis Lembayung Senja juga berbeda denganku. Tetapi dia dan aku tak pernah peduli itu. Juga kulit ataupun agama kami yang tidak sama. Hubungan kami dijalin atas kemanusiaan.

Aku benar-benar sedih dan prihatin memikirkan nasib Lembayung Senja, juga keluarganya. Mereka sudah seperti saudaraku. Pernah, suatu hari aku ikut diberi uang oleh ayah Lembayung Senja, karena Lembayung Senja meminta uang kepada ayahnya di hadapanku. Pernah juga aku dibelikan Lembayung Senja kertas gambar. Dia juga yang menemaniku di rumah sakit sewaktu aku terkena tipus. Lembayung Senja dan keluarganya menghormatiku ketika aku berpuasa. Dia bahkan sering mengingatkanku bila waktu shalat tiba.

Kebaikan Lembayung Senja serta keluarganya sungguh menyentuh kalbuku. Walau mungkin sebagian orang menganggap hal-hal seperti itu biasa saja, tetapi tidak bagiku. Untukku semua itu teramat istimewa.

Masih kutelusuri tempat dan jalan-jalan masa laluku dengan penuh kerinduan. Pada tiap langkah yang kujejakkan di dermaga, aku kenang kembali semua peristiwa yang kualami bersama Lembayung Senja, tujuh tahun yang lalu. Melihat Lembayung Senja menari, dan kemudian kutuangkan dalam kertas gambarku. Menikmati lantunan lagu yang keluar dari bibirnya yang mungil. Memandang warna lembayung di langit senja, bersama-sama. Lalu tertawa, bersama-sama pula.

Ah, ya, aku ingat kini. Kami pernah mengukir namaku dan nama Lembayung Senja di pasak kayu sebelah barat dermaga. Aku berlari ke sana, mencari-cari ukiran itu. Ah, ini dia…

Lembayung Senja – Penari

Banyu Biru – Pelukis

Yang aku ingat, ketika itu, kami mengukir nama serta cita-cita kami di pasak, supaya kami kelak bisa ke “Barat”, alias ke luar negeri. Keliling dunia, bersama-sama, dengan keahlian kami –seperti yang kami angan-angankan.

Tulisan di atas kayu itu masih jelas keberadaannya. Sedangkan seseorang yang namanya tertulis pada kayu itu, kini tidak jelas lagi. Apakah dia masih hidup, ataukah sudah tiada? Aku tidak tahu. Tetapi yang pasti, kebaikannya masih akan terus hidup, kurindukan dan kuingat, seperti warna lembayung pada senja hari –bila cuaca terang dan baik.

Jakarta, 9 November 2005

Posted in idealisme | Tagged: | 2 Comments »