Legendabuana’s Weblog

hanya sekedar kata dan kalimat yang merupakan buah pikiranku

Tidak Selamanya Hujan Menyebalkan

Posted by legendabuana on June 11, 2008

Hujan lagi? Menyebalkan. Bagiku, selamanya hujan adalah hal yang menyebalkan. Duh sebentar lagi jalan-jalan pasti macet. Kalau tidak salah hitung, sudah 6 kali hujan turun sepanjang hari ini.

“De, sepertinya tambah deras deh.” Seru Fanie, sahabatku yang duduk di samping kiriku di dalam sedan hitam kesayanganku ini. “Makin dingin pula, nggak usah pakai AC ya?” Sambungnya lagi.

“Nggak usah pakai AC? Kan jadi pengap, Fan.” Sewotku. Betul dugaanku. Dalam waktu hitungan menit, mobil-mobil di sekitarku berjalan perlahan. Hujan turun sangat deras.

“Terus gimana dong? Dingin nih, aku lupa bawa sweater.” Serunya, kemudian ia terdiam beberapa saat dan berkata, “eh, kita mampir ke Life aja. Ngopi-ngopi sambil baca buku asyik juga tuh.”

“Life?? Apaan tuh?” Tanyaku menengok sekilas ke Fanie dengan mengerutkan keningku dan kembali menatap jalan di depanku sambil sesekali menginjak rem karena kendaraan di depanku sekali-sekali berhenti.

“Itu lhoh, library-café yang baru dibuka 2 minggu lalu di dekat rumah sakit ibu-anak. Ada di kiri jalan di depan, sebentar lagi kita sampai kok. Untung belum kelewatan.” Oceh Fanie. Library-café? Boleh juga deh, nongkrong dulu. Masih jam 7, belum terlalu malam.

“Ya udah, kasih tahu gue harus belok kapan.” Sahutku.

***

Lima belas menit kemudian, Fanie dan aku sudah berada di dalam café yang di bagian dalamnya terdapat berpuluh-puluh rak buku. Kami mengambil tempat duduk dekat dengan jendela untuk melihat hujan turun. Caramel panas milikku mengepul dan mengeluarkan bau yang harum dihadapanku sedangkan Espresso milik Fanie mengeluarkan keharuman biji kopi yang membangkitkan semangat.

“Kamu mau minjem buku? Aku udah jadi member disini.” Kata Fanie.

Member Library ya?” Tanyaku disertai dengan anggukan Fanie. “Boleh juga. Bayar berapa? Buku-bukunya lengkap?” Sambungku.

“Gratis. Buku-bukunya lumayan lengkap. Buku yang kamu cari kemarin di Gramedia apa? Anna Karenin ya? Yang karangan Leo-Leo itu ada kok. Komik Topeng Kaca yang kamu suka, lengkap.” Jawab Fanie layaknya tim promosi Library-Café ini. Aku tertawa geli melihat tingkah sahabatku. Aku hirup Caramel-ku sambil melayangkan pandangan ke luar jendela. Hujan masih terus turun, tambah lebat malah. Aku benci hujan. Mungkin karena pertama kali aku melihat kekasihku, Ruben mencium gadis lain ketika hujan turun. Kemudian, ketika akhirnya aku putus dengan Ruben hujan turun pula. Tidak ada hubungannya sih, tetapi hujan selalu membuatku menjadi seorang yang melankolis.

“Bengong terus. Kenapa? Masih mikirin Ruben ya? He’s jerk. Udahlah fuggedabout him okay? Oh ya, pokoknya kamu harus jadi member disini karena owner-nya lucu banget.” Kata Fanie menggebu-gebu yang memecah lamunanku.

“Kata siapa owner-nya lucu?” Tanyaku geli melihat wajah Fanie.

“Kataku. Baru saja aku ngomong hehehe… Mba Fiena pernah kesini bareng teman-temannya dan dia bilang owner-nya lucu banget masih muda pula.” Fanie tersenyum simpul. Oh, pantesan Fanie jadi member, ternyata ada niat lain hehehehe….

“Eh, mas…mas…daftar jadi member dong.” Teriak Fanie tiba-tiba pada seorang laki-laki yang memegang kertas-kertas tidak jauh dari tempat kami duduk. Laki-laki itu tersenyum dan menghampiri kami.

“Ya, mba? Mau jadi member? Berdua? Bawa foto? Kalau nggak bawa, menyusul nggak apa-apa kok.” Tanya laki-laki itu ramah dan ia pun duduk di puff di samping kiriku dan samping kanan Fanie.

“Nggak, sendiri eh aku sih udah, temanku yang mau jadi member.” Jawab Fanie, mukanya bersemu merah pertanda dia gugup. Pasti karena laki-laki ini. Memang menarik. Kulitnya bersih, matanya tajam, badannya besar, tangannya juga besar, hidungnya mancung, rambut cepak, alisnya tebal, lekuk bibir yang indah. Struktur wajah yang sempurna. Padahal ia bisa jadi model tapi kok malah jadi pelayan disini? Aah itu kan jalan yang sudah diatur Tuhan. Hemm…sepertinya aku akan sering datang nih kalau pelayannya dia.

“Aauw!! Gila, kira-kira dong kalau injak kakiku. Sakit tau!” Teriakku karena kaki kananku diinjak Fanie.

“Maaf, De hehehe…” Fanie menunjuk formulir dihadapanku. Pelayan itu cekikikan. Menyebalkan. Tapi kok makin cakep ya?

“Pinjem pulpen, Fan.” Pintaku. Sebelum Fanie mengambil pulpen di tasnya, pelayan itu sudah mengulurkan pulpennya. Aku mengambilnya dan sedikit menyentuh tangannya. Hangat.

“Te…terima kasih.” Kataku sambil tersenyum. Duh berengsek, kenapa aku jadi gugup begini?

“Diisi saja dulu. Saya tinggal, nanti akan ada yang mengambil.” Katanya sambil berdiri.

Tidak lama, aku pun sudah sibuk mengisi formulir tersebut sambil mendengarkan ocehan Fanie.

“Ya ampun tuh cowok ganteng banget ya. Tapi sayang pelayan.” Kata Fanie sedikit meremehkan pekerjaannya.

“Memang kenapa Fan kalau dia pelayan? Mungkin saja dia mahasiswa yang part-time, seperti Ega yang tajir banget tapi part-time jadi pelayan di Starbucks.” Kataku masih konsen mengisi formulir.

“Formulirnya, sudah mba?” Tanya seorang perempuan, membuatku menengok ke arahnya.

“Sebentar lagi ya, mba.” Sahutku.

“Baik, saya tunggu.” Perempuan itu menunggu sambil berdiri. Aneh, pelayan yang tampan tadi menunggu sambil duduk. Tak ambil pusing, buru-buru aku selesaikan mengisi formulir yang diakhiri dengan tanda tanganku dan aku serahkan fotoku.

“Ditunggu 30 menit untuk mencetak kartunya ya, Mba.” Kata perempuan itu yang disertai dengan anggukanku.

***

Sepanjang hari hujan terus, rasanya aku ingin pulang dan tidur di ranjangku yang empuk, di bawah selimutku yang hangat. Tidak…tidak….kalau aku pulang pasti akan sendiri di kamar dan aku akan kembali mengingat Ruben. Tidak, aku tidak mau pulang. Pfiuh…aku lirik jam tanganku, 10 menit lagi kuliah siang ini selesai.

“De, ke Life yuk?” Bisik Fanie pelan takut terdengar oleh dosen yang berdiri di hadapannya. Aku pun mengangguk dan terbayang dibenakku pelayan tampan Life. Aku tersenyum sendiri. Beberapa hari lalu ketika aku meminjam novel, pelayan tampan itu tersenyum padaku. Hari ini pasti dia ada.

Gerimis masih terus turun ketika kami memasuki tempat parkir library-café itu. Kami berlari kecil menghindar dari terpaan air menuju ke dalam café.

“Selamat siang. Mau pesan apa?” tegur seseorang dan ternyata pelayan tampan itu. Aku menatapnya sambil menyebutkan pesananku, Hot Royal Caramel. Kudengar Fanie menyebutkan Espresso kesukaannya. Mataku terus tertuju pada pelayan itu hingga ia menghilang ke balik tembok berwarna merah pemisah antara café dan library.

“Woy, mata tuh?” semprot Fanie, membuatku kaget dan tertawa kecil. “Heran deh, masa sih kamu ngegebet pelayan itu?” sambungnya. Aku mengerutkan kening.

“Ada yang salah?” Tanyaku.

“Dia pelayan, De.”

“Terus? Aku nggak peduli. Dia ganteng ya?” Untuk pertama kalinya pelayan itu aku puji, aku tidak peduli dengan tatapan Fanie yang seakan-akan bilang bahwa aku gila. Aku tertawa geli melihat ekspresi sahabatku itu. Daripada kena semburan Fanie lagi, aku mengambil novel “Anna Karenin” karya Leo Tolstoi yang aku pinjam beberapa hari lalu dari library Life.

“Ini Esspreso-nya dan untuk nona yang manis ini Hot Royal Caramel khusus untuk kamu.” Goda pelayan tampan itu yang tidak aku sadari kedatangannya. Aku tersenyum senang. What did he said? Nona yang manis? Ampun deh. Sahabat yang duduk di hadapanku melotot ketika aku tersenyum kepada pelayan itu.

“Terima kasih, tuan yang tampan.” Tanpa sadar aku mengucapkan kata-kata itu yang membuat Fanie menganga.

“Terima kasih juga aku dibilang tampan. Baru mulai baca karya-nya Tolstoi ya?” Tanya pelayan itu yang tiba-tiba duduk di puff sebelah kiriku. Aku sih senang-senang saja tetapi Fanie…o-ow…wajahnya kok sudah seperti kepiting yang direbus ya?

“Nggak kok. Dulu aku pernah baca Tuan dan Hamba, Perang dan Damai, dan sebelum pinjam Anna Karenin, aku baru selesai baca Kebangkitan.” Ucapku penuh semangat. Kalau soal Tolstoi bisa dibilang aku cukup tahu. He’s my favorite writer.

“Wow…berat juga bacaan kamu. Aku suka banget sama Tolstoi khususnya novel Kebangkitan.” Katanya. Aku menganggukkan kepalaku.

“Aku juga suka Kebangkitan, banyak banget filosofi yang terkandung didalamnya.” Kataku dan kemudian mengalirlah dari mulutku adegan-adegan dimana Nekhlyudov yang berjuang untuk mendapatkan kembali cinta Katyusa, tokoh dalam novel itu. Sepertinya laki-laki tampan ini cukup cerdas sebagai seorang pelayan. Dia tahu tentang filsafat seperti bagaimana pendapat Plato mengenai ultim manusia, dia juga tahu mengenai sejarah dan kebudayaan Indonesia, dia juga tahu tentang musik kesukaanku Britpop. Dia tahu semua hal ck…ck…ck… Wawasannya yang luas membuatku kagum.

Tidak terasa Caramel-ku hampir habis dan Fanie manyun melihatku asyik berbicara dengan pelayan ini tanpa mempedulikan dia.

“Maaf ya? Aku jadi ganggu kalian.” Ucapnya merasa tidak enak melihat wajah Fanie yang kesal.

“Minuman kalian sudah hampir habis. Ditambah lagi ya?” Katanya seperti sedang membujuk Fanie yang kelihatan sangat marah padanya.

“Nggak usah kok, kami sudah mau pulang.” Suara Fanie terdengar sangat ketus. Aku jadi tidak enak hati.

“Kok pulang? Eh maaf…” Pelayan tampan itu sedikit kecewa sambil melirikku. Aku pun tersenyum dilirik begitu.

“Nggak apa-apa kok.” Jawabku. Fanie sudah siap-siap berdiri.

“Benar nih nggak mau lagi? Ya sudah kalau begitu kalian nggak usah bayar. Aku yang traktir. Oh ya, terima kasih ya sudah ngobrol-ngobrol. Sering-sering kesini ya? Aku tunggu kamu. Ehm…nama kamu siapa?” Kata pelayan tampan itu sambil malu-malu melihat ke arahku. Kali ini Fanie sudah berdiri dan mau tidak mau aku ikut berdiri dan pelayan itu juga ikut berdiri. Tangannya yang besar terulur ke arahku. Aku menyambut tangannya dan mengucapkan namaku, “Dena.”

Ia tersenyum kaget. Dan ia menyebutkan namanya, “Aku Dean. Aku owner Life. Kamu sering-sering datang ya? Eh, aku boleh minta nomer HP kamu?”

Aku kaget setengah mati, bukan karena namaku dan dia mirip, tetapi laki-laki yang disangka pelayan olehku dan sahabatku yang konyol itu ternyata pemilik library-café ini. Dan ia juga meminta nomor HP-ku. Mulut Fanie langsung menganga lebih lebar dari tadi.

Hemm…ternyata tidak selamanya hujan itu menyebalkan. Kali ini aku merasa beruntung hujan datang. J

Posted in idealisme | Tagged: | Leave a Comment »

Mata Yang Tersenyum

Posted by legendabuana on June 11, 2008

Di tepi dermaga ia duduk membisu

Melihat lukisan alam terpampang jelas

Namun, matanya kosong membeku

Seakan lukisan itu hal yang biasa baginya

Pada satu titik mataku terbius

Dirinya, dengan segala kekosongannya

Ingin hati tuk merengkuh

Apa yang ada di jiwanya

Sudah hampir satu minggu aku selalu melihatnya duduk di tepi dermaga. Menatap laut yang berwarna biru keemasan dengan tatapan kosong. Tak mempedulikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Serasa ia berada di dunianya sendiri tanpa ada orang lain. Matanya yang indah dan tajam terlihat sendu. Menatap matahari terbenam dengan kesenduannya.

Memasuki minggu kedua, hatiku tergerak untuk duduk di sampingnya. Ia hanya menoleh sekilas kepadaku, padahal aku sudah melempar senyuman manisku. Dilihat dari dekat ternyata ia cukup tampan. Kulit cokelatnya yang terawat dan bersih menandakan ia berasal dari keluarga berada. Alisnya hitam tebal dengan bola mata yang jernih bagai mata bayi tanpa dosa. Ia mengenakan kaos katun putih yang nyaman dan celana pendek katun berwarna krem. Tangan kanan dan jari-jarinya dibalut perban menandakan bahwa ia pernah mengalami kejadian yang membuat tangannya cedera. Aku terus menatapnya lekat-lekat tetapi tatapannya terus tertuju pada lautan yang tak berujung. Aku yakin kalau ia tahu aku menatapnya lekat-lekat.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, ia terus duduk membeku melihat lembayung senja berganti dengan kelamnya malam. Setelah melihat bintang yang paling terang muncul, wajahnya terlihat lega dan ia berdiri kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan menelusuri pantai ke arah utara menaiki tangga menuju kompleks pertokoan di pinggir jalan. Aku terus melihat punggungnya hingga ia menghilang di balik ramainya orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan raya di atas pantai. Ia menghilang bersamaan deburan ombak malam hari.

***

Entah mengapa aku sangat ingin melukisnya. Melukis struktur wajahnya yang sempurna. Melukis kesenduannya yang mempesona. Dan melukis makna matanya yang misterius.

“Namanya Hans,” ujar Jamie –sahabatku– pada suatu sore ketika aku tak lagi duduk di samping laki-laki itu. Aku menoleh ke arah Jamie. Kemudian wajah bulat yang selalu membuatku tertawa itu menceritakan kisah Hans yang ia ketahui dari kakak Hans yang tinggal di dekat rumahnya. Hans adalah pelukis terkenal di kota tetangga yang dikelilingi dengan bukit-bukitnya yang indah. Ia pelukis naturalis dan kurang menyukai udara panas pantai. Hampir tiga bulan lalu, lukisannya mendapatkan penghargaan seni rupa tertinggi oleh Dewan Kesenian Nasional. Pada malam penghargaan, ia dan kekasihnya mengalami kecelakaan. Rasa bersalah akan kematian kekasihnya membawanya ke tempat yang kurang ia sukai. Kota pantai, daerah tempat ku tinggal hampir 20 tahun. Rasa kecewa karena tangan kanannya tidak dapat berfungsi dengan baik lagi membuat ia terus tenggelam menatap lembayung berganti dengan kelam. Kelamnya malam membawa dirinya akan kenangan kekasihnya dan lukisan hatinya. Cerita Jamie tentang dirinya membuatku tersentuh sekaligus kecewa. Tersentuh karena ia begitu mencintai kekasihnya yang terus ia kenang dan kecewa karena tingkah laku yang menyiksa dirinya seperti manusia yang tidak memiliki ultim.

***

Minggu keempat aku melihatnya masih termangu dengan tatapan kosong menatap laut yang berwarna keemasan. Tanpa aku sadari, aku pun duduk di sampingnya di tepi dermaga.

Aku keluarkan buku sketsaku yang berukuran A3 serta peralatan melukisku. Dan aku mulai melukis dirinya. Sepertinya ia tidak merasa terganggu aku melukisnya. Aku perhatikan bentuk wajahnya dari samping. Dan mulai kutuangkan ke dalam buku sketsaku. Sebelum cahaya matahari menghilang aku menuliskan puisi di bawah sketsaku,

Terlalu indah mata yang kosong menatap kenangan lalu membeku

Adakah kudapat melukismu dengan mata indahmu yang tersenyum?

Tak lupa kucantumkan namaku dan tahun pembuatan sketsa ini, Hazel, 2006.

Tidak terasa langit yang berwarna lembayung mulai meredup. Menandakan malam segera tiba. Lampu-lampu di dermaga sudah mulai menyala. Lelaki itu bangkit dan tanpa sadar aku mengucapkan terima kasih. Seakan-akan aku berterima kasih kepada modelku. Ia menatapku. Ekspresi wajahnya tidak berubah. Ia menatapku dan melihat buku sketsaku. Matanya seakan terkejut melihat wajahnya ada dalam bentuk sketsa di bukuku. Sudut bibirnya naik membentuk satu senyuman di wajahnya yang ramah. Dan tidak terasa lagi olehku kekosongan pada matanya. Matanya tersenyum melihatku dan wajahnya dalam sketsaku.

Jakarta, 15 Maret 2007

Posted in idealisme | Tagged: , | 4 Comments »

Tuhan Memilih Takdir dan Nasibku dari Mimpi yang Kurajut

Posted by legendabuana on June 9, 2008

Ada sebuah rahasia dibalik mimpi yang terwujud. Yakni, keyakinan akan mimpi tersebut pasti terwujud. Seperti aku yang selalu bermimpi untuk memiliki dirinya. Aku memiliki keyakinan bahwa suatu saat nanti, aku pasti dapat memilikinya. Sebab ia sosok yang indah dimataku.

Berawal dari rasa sakit yang disebabkan oleh Louis. Ia teman main kakak laki-lakiku yang beda usia sekitar 3 tahun denganku. Aku mengenal Louis sejak masa sekolah dasar. Aku dekat dengannya sejak kelas 2 sekolah menengah dan terus berlanjut hingga aku kuliah. Selama 7 tahun ini, aku terus bermimpi untuk menjadi pengantinnya. Mimpi anak kecil yang menginginkan menjadi pengantin laki-laki yang merupakan kekasih pertama dan terakhirnya. Aku yang terlalu naïf dan polos dalam menjalani hubungan dengan Louis tidak pernah tahu bahwa laki-laki itu bisa berpaling ke wanita yang lebih cantik atau lebih manis atau yang sesuai dengan dirinya. Aku percaya dengan kata-kata manis dan rayuan-rayuannya yang mampu membuatku terbang hingga keawan. Tapi tanpa kusadari, ternyata aku sudah jatuh sampai ke perut bumi saat ia berjalan dengan teman kuliahnya dulu. Menyakitkan tapi tak ada air mata yang keluar. Hanya desahan nafasku yang panjang yang membuatku terbangun dari mimpi-mimpi yang ternyata kurajut sendiri. Selama satu tahun kemudian aku menjalani hidup dengan hati yang sepi.

Perlahan aku bangkit dan mencoba menikmati hidup dalam sepiku. Saat berpisah dengan Louis, aku pikir aku tidak akan pernah terpesona pada seorang laki-laki lagi. Terlalu menyakitkan, hubungan yang sudah aku bina selama tujuh tahun hancur begitu saja. Yang paling menyakitkanku adalah kebiasaan yang telah aku jalani selama tujuh tahun terakhir bersama Louis tiba-tiba tidak aku jalani lagi sekarang. Kebiasaan bersama orang yang kita cintai adalah racun yang dapat menghancurkan kita pelan-pelan.

Adalah ia, sosok yang indah itu, yang mewarnai hidupku selanjutnya. Mengentaskan sepi di hati dan kekosongan yang melandaku. Hanya ia yang mampu membuatku begitu.

Sebelum bertemu dengan sosok yang indah itu, aku menjalani hidup dengan hati yang gelisah dan sepi. Kemudian, sosok yang indah itu, Mataniari, datang mengobati kegelisahanku ketika tak ada yang dapat mengobatinya bahkan Tuhan pun tak dapat mengobatinya, itu menurutku. Ia yang memenuhi kehampaan hati ini ketika Tuhan tak dapat memenuhinya, itu juga menurutku. Ia yang menyelamatkan aku dari situasi kesendirian yang mencekam ketika Tuhan tak dapat menyelamatkan aku, itu masih menurutku. Oleh karenanya, kepadanya kupagutkan hasratku, kuikatkan hasratku kepadanya. Tapi tak pernah kumengikat dirinya dengan cintaku.

Aku selalu berpikir Tuhan memberikanku rasa kasih untuk kuberikan pada seseorang yang aku kasihi. Tuhan memberikanku rasa kasih yang berlimpah sehingga aku tak dapat membendung rasa kasih yang kuberikan padanya. Semua mengalir begitu saja dan terhenti ketika aku menemukan batas yang tak mungkin aku tembus. Pada saat itu aku berpikir, Tuhan memberikan aku rasa sakit yang begitu perih untuk aku lalui. Akhirnya aku mencoba untuk bersahabat dengan waktu. Aku membiarkan waktu membasuh perihku. Mengobati rasa sakit karena rasa kasih yang diberikan oleh Tuhan.

Semakin bertambah dewasa usiaku, semakin bertambah pula rasa hampa dijiwaku. Hanya seorang yang aku kasihi yang dapat memenuhi kehampaan jiwa ini. Mungkin lebih tepat jika aku katakan menghilangkan rasa hampa dan bukan memenuhi rasa hampa. Dengan hilangnya rasa hampa, aku dapat memperhatikan warna-warni dunia yang beragam. Jika ia datang dengan memenuhi rasa hampa, aku hanya bisa melihat warna-warni dunia tanpa memperhatikannya.

Pada akhirnya, aku pun berpikir, manusialah yang menciptakan sebuah perasaan yang tak dapat dicegah rasa sakitnya. Tuhan hanya memberikan rasa kasih kepada setiap manusia dan manusia lah yang memilih memberikan rasa kasih tersebut kepada siapa yang pantas. Bila ia memberikan rasa kasih tersebut kepada orang lain yang tidak pantas maka ia akan mendapatkan rasa sakit. Rasa sakit di hati yang perihnya serasa mengiris-iris.

Berkaca padahal itu, akupun tak lagi meyakini mimpiku pasti terwujud. Tetapi, aku merajut mimpiku untuk terwujud. Sebab, aku yakin Tuhan telah memilih takdir dan nasibku dari mimpi yang kurajut.

Jakarta, 21 April 2008

Posted in idealisme | Tagged: | 2 Comments »

Suara Gaia, Rakyat Negeri Kabut

Posted by legendabuana on June 9, 2008

Dahulu kala ada cerita mengenai orang-orang yang dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan yang disebut pengikut iblis. Sebab itu, orang-orang tersebut dijauhi dan dibakar hidup-hidup seperti Joan of Arc. Cerita mengenai pengikut iblis itu berkembang lantaran, menurut legenda, iblis pernah mencuri dengar rencana-rencana Tuhan akan takdir kehidupan bagi ruh yang ditiupkan ke tubuh manusia. Kemudian iblis memilih manusia-manusia dan memberitahukan rencana-rencana Tuhan tersebut. Sehingga manusia yang dipilih iblis dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan yang seharusnya tak bisa dan tak boleh diintip.

***

Negeri ini adalah negeri yang selalu berselimut kabut. Maka banyak orang menyebutnya Negeri Kabut. Di pagi hari, kabut turun ke seluruh negeri mencipta kesegaran membangkit semangat untuk beraktifitas. Di petang hari, kabut pun turun membawa penat pergi setelah seharian lelah beraktifitas, waktu yang sangat nikmat untuk terlelap. Tetapi, akhir-akhir ini, kabut pun turun pada siang hari. Kabut yang membawa kegelisahan bagi rakyat Negeri Kabut.

Senja merupakan seorang yang dipercaya rakyat Negeri Kabut dapat menghilangkan kabut yang turun di siang hari. Mungkin karena ia seorang tua yang dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan maka ia dipercaya oleh rakyat Negeri Kabut.

“Awal kabut di siang hari turun bertepatan dengan terpilihnya Presiden Siang menjadi pemimpin di negeri ini,” ujar Senja ketika beberapa rakyat negeri mimpi mengeluh mengenai kabut yang turun di siang hari. Mereka pun percaya karena Senja seorang tua yang dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan.

“Jadi bagaimana kami dapat menghilangkan kabut ini? Sebab kami tak dapat beraktifitas,” kata salah seorang rakyat menanyakan solusi pada Senja.

“Saya percaya, sebab saya mendapat bisikan Tuhan, bahwa kabut di siang hari akan hilang jika Presiden Siang mengundurkan diri,” ujarnya sambil tersenyum penuh rahasia.

Beberapa rakyat yang mendengar perkataan Senja menyebarkannya ke teman-temannya, sanak saudaranya, kerabatnya, iparnya, dan seluruh rakyat pun mengetahui perkataan Senja. Rakyat pun mengadakan pertemuan. Isinya untuk memaksa Presiden Siang mengundurkan diri. Hampir seluruh rakyat menyetujuinya. Mereka berpendapat bahwa apa yang mereka inginkan merupakan “bisikan” Tuhan.

Adalah Gaia, seorang gadis cilik yang dapat “melihat” masa lalu dan masa depan tetapi selalu ia pendam untuk dirinya sendiri. Ia melihat kesibukan orang-orang di Negeri Kabut akan perkataan Senja. Hampir seluruh rakyat setiap hari berdemontrasi di depan Gedung Kepresidenan, tidak peduli kabut yang makin menebal di siang hari. Gaia melihat sekelompok rakyat yang membakar segala sesuatu guna menepis kabut di siang hari. Keadaan semakin kacau ketika sebagian rakyat mulai merusak Negeri Kabut. Mereka berteriak-teriak di jalan raya dengan membawa obor dan membakar segala sesuatu. Keadaan yang kisruh membuat gadis cilik itu takut.

Pada suatu hari ketika keadaan makin tidak terkendali, Gaia pun berlari ke rumah Senja. Senja hanya terkikik ketika gadis cilik itu mengatakan bahwa Senja membuat segalanya menjadi tak terkendali.

“Aku hanya memberitahukan apa yang ‘dibisikkan’ Tuhan padaku,” sahutnya sambil tersenyum meremehkan anak kecil itu.

“Apakah Tuhan dapat berbicara?” tanya Gaia polos.

“Ya, Tuhan dapat ‘berbicara’ denganku,” jawab Senja.

“Bagaimana kau yakin bahwa itu Tuhan?” tanya Gaia lagi.

“Karena suara rakyat menurutku adalah suara Tuhan,” jawabnya gamblang. Gaia terdiam. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Senja. Yang ia mengerti adalah, Senja mengaku mendapatkan ‘bisikan’ dari Tuhan dan memberitahukannya kepada rakyat Negeri Kabut. Kemudian rakyat Negeri Kabut pun menyuarakan ‘suara’ mereka, sebab mereka yakin bahwa itu ‘suara’ dari Tuhan.

Gaia pun menangis. Di alam pikirannya tergambar kekacauan yang akan berakhir dengan kematian banyak orang. Gaia pun menjadi takut. Ia adalah salah satu rakyat Negeri Kabut. Jika ia sudah dewasa nanti apakah yang ia ucapkan merupakan ‘suara’ Tuhan?

Ia teringat akan cerita ibunya yang mengetahui bahwa ia dapat ‘melihat’ masa lalu dan masa depan. Ia teringat cerita mengenai iblis yang pernah mencuri dengar rencana-rencana Tuhan akan takdir kehidupan bagi ruh yang ditiupkan ke tubuh manusia. Kemudian iblis memilih manusia-manusia dan memberitahukan rencana-rencana Tuhan tersebut. Sehingga manusia yang dipilih iblis dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan yang seharusnya tak bisa dan tak boleh diintip.

Gaia pun terdiam. Mengenai masa lalu dan masa depan yang ia ‘lihat’, ia pendam untuk dirinya sendiri. Kemudian ia berjalan pulang ke rumah dan berdoa untuk Negeri Kabut. Sebab ia meyakini doa. Doanya pada Tuhan adalah suara dirinya sebagai rakyat Negeri Kabut. Dan Tuhan dengan suara-Nya pasti akan memberikan kebaikan untuk Negeri Kabut ini.

Jakarta, 24 Mei 2008

Posted in idealisme | Tagged: | Leave a Comment »

Dan Ia pun Tersenyum Melihat dan Menatapku

Posted by legendabuana on June 9, 2008

Dan ia pun tersenyum melihatku. Aku sangat mencintai cahayaku. Cinta membuatku gila. Bahkan sampai saat ini aku pun tidak menyangka aku berani mengatakan bahwa aku mencintainya dan aku sangat menginginkannya. Entah cinta. Entah nafsu. Tetapi aku memendam hasrat yang sangat terhadapnya. Cinta membuatku gila ataukah kegilaan yang membuatku mencinta?

***

Arti namanya adalah cahaya. Ia merupakan cahaya yang selalu menyinari dan menghangatkan hari-hariku ketika jalanku mulai terasa redup dan dingin. Bahkan sampai saat ini cahayanya masih menyilaukan hatiku.

Ia meninggalkanku disaat aku mulai benar-benar mencintainya dan yakin untuk menjalani hari-hariku bersamanya walau tentangan datang dari pelbagai arah.

“Dulu aku pernah sayang kamu tapi sekarang rasa sayang itu sudah hilang. Aku nggak sayang kamu lagi.” Ujarnya suatu malam dan itu sangat mengagetkanku sebab satu minggu sebelumnya ia masih bermanja denganku.

Menangis dan menyesal. Hanya itu yang dapat kulakukan dan kurasakan. Terlalu menyakitkan bagiku sementara aku sudah mulai mencintainya. Kembali hari-hari bersamanya mulai muncul dipikiranku bagai film yang berganti scene. Matanya yang selalu lembut ketika memandangku, tangannya yang besar dan hangat ketika membelaiku, hembusan nafas hangatnya yang teratur ketika menciumku. Aku mulai merindukannya dan memberanikan diri untuk bertanya jika aku memiliki suatu keyakinan yang sama dengan dirinya apakah semuanya akan berubah dan ia bilang “Ya”. Imanku hampir goyah.

Cukup lama aku menata diriku kembali hingga akhirnya aku meneleponnya selama satu jam dan ia meneleponku balik selama satu jam pula. Dan aku, tanpa mempedulikan harga diriku, mengungkapkan keinginanku untuk memiliki bagian dari dirinya. Ia menyanggupi. Dan disinilah aku berdiri, di dalam kamar yang hangat menunggunya keluar dari kamar mandi.

***

“Diluar hujan.” Ucapku memecah keheningan ketika ia keluar dari kamar mandi bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih.

“Bagus dong, diluar dingin dan kita bisa saling menghangatkan dalam kamar ini.” Jawabnya sambil mengenakan kaos putih. Sedetik aku merasa jijik dengan ucapannya barusan. Tetapi nafasku tertahan ketika aku melihat dirinya. Satu tahun hampir berlalu ketika perpisahan itu terjadi dan tubuhnya makin bertambah besar. Kulitnya yang putih bagi sukunya membuatku makin jatuh cinta karena ia berbeda. Bagian perutnya yang paling kusuka. Tidak six-pack seperti pria-pria metropolis lainnya, tidak gendut, juga tidak kurus, tetapi cukup berisi. Garis halus berwarna hitam berjajar rapi lurus dari atas pusar hingga ke bawah pusar.

Kemudian ia duduk di atas ranjang. Mengambil remote TV dan mulai menyalakan TV. Aku tetap terpaku melihat dirinya yang begitu indah membuatku terbius dalam keheningan ini. Empat jam yang lalu, Pukul 13.00 kami masih berada di tengah kemacetan lalu lintas ibukota. Dalam waktu empat jam yang begitu cepat kurasa, kami sudah berada dalam satu kamar yang hangat di suatu rumah peristirahatan milik temanku yang berada dekat dengan kaki gunung di selatan Ibukota. Hanya kami berdua tiada orang lain. Entah keberanian darimana datangnya sehingga membuatku benar-benar melancarkan niatku untuk memiliki bagian dari dirinya. Entah apa yang ada dipikirannya hingga ia menyanggupi dan mau datang bersamaku ke rumah peristirahatan yang jauh dari keramaian kota.

Dua puluh empat jam sebelumnya, aku tengah merayu temanku yang aku anggap sebagai matahariku untuk meminjamkan rumah peristirahatan yang baru ia beli dengan harga murah ini. Matahariku adalah orang yang sangat dekat denganku sejak dulu. Katanya ia sangat menyayangiku sehingga apapun yang aku minta pasti dikabulkan. Ketika ia berkata bahwa ia menyayangiku, aku hanya tersenyum kepadanya dan mengatakan bahwa aku sayang padanya tidak lebih sebagai sahabat. Sebenarnya orang tuaku menginginkan aku untuk menikah dengannya karena mereka mengenal dekat orang tuanya. Tetapi, aku belum merasa yakin untuk menghabiskan sisa hidupku bersamanya karena aku hanya menganggap ia sebagai teman dekatku tersayang.

***

“Hei, kok melamun? Ada apa?” Tegur cahayaku. Dan ia sudah berdiri tepat dihadapanku dengan tangan kanannya memegang sisi jendela disamping kiri pinggangku dan tangan kirinya membelai rambutku. Nafasnya terasa lembut menyentuh anak rambutku yang ada di dahiku.

“Nggak kok.” Aku bingung harus menjawab apa. Inilah kelemahanku, kikuk bila berada dihadapan orang yang aku suka. Ia menatapku tajam seakan-akan aku ini hasil buruan yang siap dimakannya. Jengah aku ditatap begitu, aku sedikit mendorong tubuhnya untuk memberiku jalan menuju ranjang empuk tempat ia menonton TV tadi.

Ada perasaan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku ketika melewati tubuhnya. Ia berjalan mengikutiku. Kemudian aku duduk di atas ranjang menghadap kearah TV dan mulai mengganti-ganti channel TV. Ia duduk tepat di belakangku dan mulai memelukku serta menciumi leherku. Aku bingung harus berbuat apa. Aku menyukai ketika ia mencium leherku dulu. Rasanya seperti ada yang memberi kehangatan hingga ke tulang. Entah kenapa ketika ia mencium leherku saat ini, tidak lagi kurasakan kehangatan yang mencapai tulang walaupun jantungku berdebar sangat kencang.

“Ada apa dengan kamu, sayang?” tegur cahayaku lembut. Aku mulai menggeser tubuhku ke sisi kanan dan setengah rebahan. Ada apa denganku? Bukankah ini yang aku inginkan? Perasaanku sangat tidak nyaman, padahal orang yang aku cintai ada di sisiku. Mataku masih tertuju pada layar TV, tetapi terlihat jelas olehnya bahwa aku melamun.

“Apa yang sedang kamu pikirkan? Biasanya kamu bawel kenapa sekarang jadi pendiam?” tegurnya lagi, kali ini ia sudah ikut berbaring di samping kiriku dan menatapku lekat-lekat sambil tangannya memainkan rambutku. Aku hanya menggelengkan kepala dan balas menatapnya. Biasanya aku tidak pernah berani menatap orang yang aku suka, tetapi pada detik ini aku berani menatapnya. Apa mungkin sebenarnya aku sudah tidak mencintainya? Padahal jantungku berdebar sangat keras.

Ia mulai menciumi pipi kiriku dan aku mulai bergeming. Ia mencium bibirku dan aku membalas ciumannya. Nafasnya mulai tidak teratur tetapi menyapu kulit wajahku dengan halus.

Tanpa kusadari aku mulai luruh dalam pelukannya. Dari bibirku, ciumannya mulai turun ke dagu dan leherku. Tangannya berada dikepalaku dengan ibu jarinya dibelaikan lembut pada pipiku. Aku merasakan gairah yang ada didirinya sedangkan aku hanya tampak seperti boneka dalam genggamannya yang diperlakukan sangat halus olehnya. Tak ada gairah yang muncul pada diriku. Tak ada rasa senang bahwa ia mencumbuku dengan mesra. Tak ada perasaan nyaman ketika ia merengkuh tubuhku. Yang ada hanyalah perasaan tidak nyaman yang berkecamuk dalam hatiku.

Apa yang sudah aku perbuat hari ini? Apa yang sudah aku perbuat dua puluh empat jam yang lalu? Meminjam rumah peristirahatan ini hanya untuk melenyapkan emosiku sesaat tanpa memikirkan akibatnya. Bagaimana jadinya jika aku betul-betul memiliki bagian dari dirinya? Apa yang harus aku katakan pada orang tuaku?

Cahayaku seperti sudah tak peduli dengan apapun. Ia terus menciumi leherku, kembali ke wajah dan bibirku, kemudian turun ke dadaku. Entah kapan ia melepas kaos dan celanaku, yang pasti saat ini ia berusaha membuka penutup dadaku. Dan herannya, tak sedikit pun aku menolak apa yang ia perbuat.

Cahayaku…cahaya yang selalu menyinari hari-hariku dulu. Cahaya yang menghangatkan hatiku ketika aku bersamanya. Saat ini yang kurasa malah sebaliknya. Aku tidak merasakan kehangatan ketika ia membelaiku. Butiran cair berwarna bening mulai jatuh dipipiku ketika aku mengedipkan mata.

***

Mengapa air mata ini terus keluar? Apa yang terjadi pada diriku? Haruskah aku senang dan bahagia karena sebentar lagi ia akan memberikan bagian dari dirinya kepadaku? Mengapa aku terus menangis sedangkan ia sepertinya senang melihat tubuhku yang polos berbaring di kasur yang empuk, di bawah selimut yang hangat yang mungkin sebentar lagi berganti dengan sentuhan kulitnya yang hangat dikulitku?

Bunyi sirene terdengar memecah keheningan dan nafas menderu cahayaku. Aku menolehkan kepalaku ke sisi kanan tubuhku tepat ke atas meja kecil disisi ranjang ini. Ada yang mengirimkan pesan singkat padaku. Aneh, padahal tempat ini terpencil dan cuaca juga sedang tidak baik tetapi bunyi sirene pertanda datangnya pesan singkat itu juga menandakan bahwa HP-ku mendapatkan sinyal. Tangan kananku mengambil HP yang aku taruh diatas meja tersebut. Cahayaku mengumpat kesal karena pada saat seperti ini pun aku masih menyempatkan diri melihat pesan singkat itu.

Message 1: Selama sinar cahayamu menyilaukan hatimu biarlah sinar itu terus menuntunmu dan jangan sampai membutakanmu.

From: “matahari”

06.58 pm 15 Maret 2006

Terpaku aku membaca pesan itu. Airmata yang terhenti keluar lagi. Kali ini aku tahu mengapa aku menangis. Aku bangkit, tidak peduli bahwa tak ada sehelai benang pun ditubuhku, aku mengambil pakaianku yang tergeletak di lantai dan cepat-cepat aku kenakan. Kemudian aku membereskan pakaianku yang ada di lemari. Begitu saja aku masukkan ke dalam tasku. Mengambil kunci mobil yang ada di atas meja rias. Dan aku berusaha membuka pintu ketika cahayaku mendadak bangkit dan mendekatiku.

“Ada apa sih? Siapa yang SMS kamu?” Katanya bingung melihat ulahku.

“Maaf, aku harus pulang.” Jawabku singkat.

“Tapi ada apa? Terus bagaimana dengan aku? Kamu nggak mau nerusin rencana kamu?” Tanyanya lagi. Dan ia terlihat berantakan sekali.

“Maaf tapi aku harus pulang. Sekarang.” Jawabku singkat dan airmata terus membasahi pipiku. Kemudian cahayaku hanya memberikan kecupan di keningku dan membukakan pintu kamar. Aku berlari keluar kamar menuju ruang tamu, membuka pintu depan. Dengan tidak mempedulikan gerimis aku membuka pintu mobil dan pergi meninggalkan cahayaku. Meninggalkan masa laluku. Meninggalkan romantisme masa lalu yang indah.

Aku merasakan detak jantungku berdebar ketika aku mengendarai mobilku menuju ibukota. Menuju kota yang tak pernah tidur. Disitu, mungkin, ia menungguku dengan gelisah. Tak terasa perjalananku hari ini hampir berakhir. Aku tak tahu apakah akhirnya akan baik ataukah buruk. Aku belokkan mobilku ke arah kanan memasuki gerbang perumahanku dan berhenti tepat didepan rumah putih berhalaman luas tanpa pagar setelah aku banting setir ke arah kiri dan menabrak tong sampah hingga isinya berhamburan. Buru-buru aku keluar dari kendaraan itu tanpa menutup pintunya dan berlari menuju pintu kayu berwarna cokelat tua.

Aku pencet bel. Kuulangi beberapa kali hingga pintu terbuka. Matahariku berdiri dihadapanku dengan mulut menganga karena kaget. Aku peluk dirinya dan berkata, “cahaya itu hampir membutakanku padahal cahayanya hanya cahaya kecil dibanding cahayamu yang baru mulai kusadari begitu menghangatkanku hingga ke sum-sum tulangku. Rasa hangat yang terus menjalar dan mengalir selama darahku terus mengalir. Maaf, tapi aku sayang kamu.”

Aku terisak dan ia melepaskan diri dari pelukanku. Kemudian matahariku membelai rambutku dan bibirnya membentuk senyuman manis.

Dan ia tersenyum menatapku. Kusadari bahwa aku mulai menyayanginya dan yakin akan menghabiskan hari-hariku bersamanya.

Jakarta, 14 Juli 2006

Posted in idealisme | Tagged: | Leave a Comment »

Lembayung Senja

Posted by legendabuana on May 30, 2008

Kerinduan terhadap masa lalu membawaku menelusuri tempat dan jalan-jalan yang pernah kutempuh pada masa kecil. Hingga sampailah aku di sini, pada dermaga ini, tempatku bermain dan tertawa-tawa bersama teman sebaya, Lembayung Senja.

Di dermaga ini Lembayung Senja sering berlatih menari, aku melukis kapal-kapal mewah milik orang kaya yang sedang bersandar. Atau melukis laut, burung-burung camar, matahari senja, dan juga langit senja. Di dermaga ini pula kami sering melamunkan masa depan, yang dengan sangat tidak sabar ingin kami jelang bersama. Kala malam mulai membayang, kami baru beranjak pulang meninggalkan dermaga, untuk kembali lagi ke sana keesokan hari.

Lembayung Senja adalah gadis berkulit putih, dengan rambut hitam panjang terurai bagai air terjun, dan paras teramat cantik. Banyak laki-laki yang tergoda oleh keanggunannya. Tentu saja. Ditambah tubuhnya yang terbilang tinggi untuk anak seumur dia, dan badan yang molek serta kepintarannya menari, Lembayung Senja sungguh akan membuat para lelaki tergila-gila memimpikannya. Padahal, waktu itu dia hanyalah seorang anak perempuan yang masih berusia 12 tahun.

Lembayung Senja lahir ketika langit senja dihiasi warna lembayung, sehingga ayahnya terinspirasi memberi ia nama demikian. Mungkin karena itu pula Lembayung Senja amat menyukai saat-saat dimana dia dan aku duduk berdua di dermaga, sambil melihat ke langit senja, serta melamunkan angan-angan masa kanak kami.

“Suatu hari nanti aku ingin keliling dunia dengan tarian-tarianku. Aku ingin membuai semua penduduk dunia dengan nyanyianku,” ujarnya sambil mengikik.

“Aku ingin keliling dunia dengan lukisan-lukisanku, dan mewarnai penduduk dunia dengan cat airku,” ujarku sambil ikut terkikik-kikik.

“Kalau begitu, kita keliling dunia bersama-sama saja!” kata Lembayung Senja dengan amat gembira. Aku mengangguk, sambil menatap langit senja yang berwarna lembayung.

Angan-angan masa kecil yang sangat indah. Betapa aku rindu ingin kembali ke masa itu. Masa-masa di mana segala sesuatunya berjalan lancar, aman, dan damai. Masa-masa yang penuh dengan gelak tawa kami berdua. Saat itu, walaupun banyak kapal-kapal orang kaya yang merapat di dermaga, tetapi selalu ada tempat bagi kami berdua untuk melepas pandang, sambil duduk-duduk menikmati hembusan angin laut, juga tanpa khawatir apa-apa. Air laut pun masih terlihat jernih, dengan warna birunya yang teduh.

Tapi, setelah tujuh tahun aku pindah dari kota ini, semua terlihat berantakan. Kapal-kapal orang kaya yang bersandar di dermaga tinggal sedikit, itu pun tampak kotor pula. Padahal dulu, aku dan Lembayung Senja memimpikan ingin memiliki satu dari sekian banyak kapal-kapal yang kelihatan mewah itu. Sepanjang dermaga kini banyak sampah, kotor sekali, seperti tidak pernah dibersihkan. Tujuh tahun lalu ada seorang bapak tua yang selalu rajin membersihkan dermaga, tiap malam menjelang, ketika aktivitas di dermaga sudah berhenti. Air laut yang dulu jernih, dengan warna biru yang teduh, sekarang kumuh. Sampah bertebaran di mana-mana, airnya berwarna hijau kehitaman. Ingin rasanya aku menangis melihat semua itu. Kiranya waktu sudah mengubah semuanya.

Tujuh tahun. Waktu selama tujuh tahun telah mengubah segalanya. Termasuk angan-angan masa kanak kami. Yang terekam dalam ingatanku pada tujuh tahun yang lalu itu adalah, di awal minggu pada pertengahan tahun, ayah menyuruh kami sekeluarga bersiap-siap untuk pindah ke daerah selatan. Kata ayah kondisi kotanya relatif lebih aman di situ. Aku belum mengetahui apa-apa saat itu, jadi menurut saja yang dikatakan ayah. Ibu mengemasi pakaian-pakaianku, sedang aku mengemasi peralatan melukisku. Yang aku tahu saat itu hanyalah, kami akan pergi dan aku akan berpisah dengan Lembayung Senja. Tetapi hanya untuk sementara.

Ketika sedang memasukkan kertas-kertas gambarku ke dalam tas, kutemukan gambar Lembayung Senja, dalam momen sedang menari, dengan latar belakang laut biru, dan langit berwarna lembayung. Aku ingat, gambar itu aku lukis dengan menggunakan pinsil warna, seminggu sebelumnya. Ingin sekali aku waktu itu menyerahkannya pada Lembayung Senja. Maka aku lari ke luar kamar. Tapi sesampai di teras ayah memanggilku. “Kamu mau ke mana?” tanya ayah, yang sudah berdiri di ambang pintu, seperti sengaja mengawasi.

“Ke dermaga, mau kasih gambar pada Lembayung Senja. Ia pasti menunggu-nungguku di dermaga,” jawabku, sambil terheran-heran kenapa ayah bertanya begitu. Padahal beliau tahu tiap sore aku ke dermaga. Namun dalam pikiranku waktu itu, aku harus segera memberikan gambar itu kepada Lembayung Senja, sekaligus berpamitan, serta berjanji untuk mewujudkan angan-angan masa kanak-kanak kami. Sebab, besok pagi kami sekeluarga akan berangkat menuju daerah selatan.

“Jangan ke dermaga! Situasi sangat kacau! Keadaan bahaya. Nanti, biar Ayah yang memberikan gambar itu pada ayah si Lembayung,” ujar ayah. Dia tampak panik. Dan aku serahkan gambar itu pada ayah, kembali terheran-heran. Ada apa sebetulnya? Apa yang sedang terjadi? Mengapa ayah begitu panik? Tidak biasanya beliau panik. Biasanya, ayah sangat tenang dalam menghadapi sesuatu.

Malamnya aku tidak bisa tidur, gelisah memikirkan gambar itu. Aku sangsi, apakah ayah akan benar-benar memberikannya pada ayah Lembayung Senja. Apakah ayah Lembayung Senja akan memberikan padanya. Tetapi akhirnya aku terlelap juga. Lalu esok paginya bangun dengan cepat, siap-siap berangkat menuju daerah selatan.

Daerah selatan. Baru pertama kali itu aku datang ke daerah ini, yang sama sekali berbeda dengan daerah utara, tempat tinggalku sebelumnya. Tapi satu hal yang sama pada kedua daerah itu, adalah udaranya. Sama-sama bersih. Bila di utara bersih oleh angin laut, di selatan karena hawa pegunungan. Makanya aku cepat merasa betah di daerah selatan.

Aku juga berpikir kami akan menetap sementara dan segera kembali ke rumah kami dekat dermaga. Tapi ternyata tidak. Dengan alasan keamanan ayah memutuskan tetap tinggal di daerah selatan, dengan udara pegunungannya yang sejuk itu. Namun betapapun aku selalu teringat saat-saat bersama Lembayung Senja, terutama momen-momen kala di dermaga. Aku juga selalu mengingat langit senja, angan-angan masa kanak kami. Dan, tentu saja, selalu mengingat Lembayung Senja, yang entah di mana dia sekarang.

Terakhir kudengar kabar dari seorang kawan sekolahku dulu, yang rumahnya tidak begitu jauh dari rumah Lembayung Senja. Bahwa beberapa hari setelah aku pindah, terjadi kerusuhan etnis di daerah utara. Rumah serta toko-toko dijarah, juga dibakar. Termasuk rumah-toko ayah Lembayung Senja. Ibu dan adiknya ikut terbakar di dalamnya. Ayahnya dipukuli ramai-ramai oleh orang-orang yang tidak jelas datang dari mana. Lebih tragis, nasib Lembayung Senja. Diperkosa orang-orang yang juga tidak jelas datang dari mana. Yang pasti, orang-orang bringas itu berbeda etnis dengan keluarga Lembayung Senja. Namun itu tetap bukan alasan untuk berbuat biadab.

Etnis Lembayung Senja juga berbeda denganku. Tetapi dia dan aku tak pernah peduli itu. Juga kulit ataupun agama kami yang tidak sama. Hubungan kami dijalin atas kemanusiaan.

Aku benar-benar sedih dan prihatin memikirkan nasib Lembayung Senja, juga keluarganya. Mereka sudah seperti saudaraku. Pernah, suatu hari aku ikut diberi uang oleh ayah Lembayung Senja, karena Lembayung Senja meminta uang kepada ayahnya di hadapanku. Pernah juga aku dibelikan Lembayung Senja kertas gambar. Dia juga yang menemaniku di rumah sakit sewaktu aku terkena tipus. Lembayung Senja dan keluarganya menghormatiku ketika aku berpuasa. Dia bahkan sering mengingatkanku bila waktu shalat tiba.

Kebaikan Lembayung Senja serta keluarganya sungguh menyentuh kalbuku. Walau mungkin sebagian orang menganggap hal-hal seperti itu biasa saja, tetapi tidak bagiku. Untukku semua itu teramat istimewa.

Masih kutelusuri tempat dan jalan-jalan masa laluku dengan penuh kerinduan. Pada tiap langkah yang kujejakkan di dermaga, aku kenang kembali semua peristiwa yang kualami bersama Lembayung Senja, tujuh tahun yang lalu. Melihat Lembayung Senja menari, dan kemudian kutuangkan dalam kertas gambarku. Menikmati lantunan lagu yang keluar dari bibirnya yang mungil. Memandang warna lembayung di langit senja, bersama-sama. Lalu tertawa, bersama-sama pula.

Ah, ya, aku ingat kini. Kami pernah mengukir namaku dan nama Lembayung Senja di pasak kayu sebelah barat dermaga. Aku berlari ke sana, mencari-cari ukiran itu. Ah, ini dia…

Lembayung Senja – Penari

Banyu Biru – Pelukis

Yang aku ingat, ketika itu, kami mengukir nama serta cita-cita kami di pasak, supaya kami kelak bisa ke “Barat”, alias ke luar negeri. Keliling dunia, bersama-sama, dengan keahlian kami –seperti yang kami angan-angankan.

Tulisan di atas kayu itu masih jelas keberadaannya. Sedangkan seseorang yang namanya tertulis pada kayu itu, kini tidak jelas lagi. Apakah dia masih hidup, ataukah sudah tiada? Aku tidak tahu. Tetapi yang pasti, kebaikannya masih akan terus hidup, kurindukan dan kuingat, seperti warna lembayung pada senja hari –bila cuaca terang dan baik.

Jakarta, 9 November 2005

Posted in idealisme | Tagged: | 2 Comments »

Senandung Keadilan

Posted by legendabuana on May 30, 2008

Udara panas serta nyanyian-nyanyian anak muda yang memekakkan telinga tidak membuatnya berhenti berjalan. Long march dari makam puteranya menuju lembaga hukum terhormat negara ini tidak menyurutkan niat wanita paruh baya itu berhenti melangkah. Tak peduli dengan panasnya matahari siang yang menyengat kulit. Tak peduli peluh yang membasahi tubuhnya. Tak peduli dengan sesaknya kerumunan orang yang berjalan di sekelilingnya. Tak peduli apapun, hanya untuk mencari suatu makna kata ‘keadilan’.

Lautan manusia yang mengenakan almamater yang berwarna-warni terhampar di belakang wanita yang masih terlihat cantik di usia tuanya. Ia menolehkan wajahnya ke belakang dan terlihatlah warna-warna yang menunjukkan masing-masing universitas dan institusi anak-anak muda. Mereka makin bersemangat untuk bernyanyi. Mereka menyanyikan keadilan yang entah ada di mana. Hal itu makin membuat wanita berambut kelabu itu bersemangat melangkah. Merasa ada orang-orang yang mendukungnya.

Wanita itu berhenti sebentar, menghela nafas, dan melanjutkan perjalanan kembali. Tiba-tiba di sampingnya ikut berjalan seorang gadis manis yang mengenakan almamater warna oranye dengan kerah berwarna hitam. Gadis yang merendengi langkahnya tersenyum kepadanya. Senyumnya menyejukkan hati di tengah panas matahari dan sesaknya massa.

“Ibu capek? Mau saya temani istirahat sebentar?” tanya gadis itu masih dengan senyumannya yang manis. Bagai disiram air dingin di tengah terik, wanita yang dipanggil ibu itu tersenyum dan menggeleng.

“Tidak usah, nanti tertinggal,” katanya.

“Kalau begitu Ibu minum dulu ya?” Gadis itu menyodorkan segelas air mineral.

“Terima kasih,” ujar ibu itu setelah mengambil air tersebut. Ia reguk sedikit, maka legalah keronggokannya yang kering. Kemudian ia habiskan perlahan seakan menikmati rasa yang terkecap dalam air mineral itu. “Terima kasih, Nak.”

Wanita yang dipanggil ibu oleh gadis manis berjaket oranye itu meneruskan perjalanannya. Perjalanan yang akan membuatnya menemui seteguk keadilan, begitu pikirnya. Pikirannya pun melayang ke delapan tahun lalu, ketika ia mendengar peristiwa tubuh putra kesayangannya tertembus timah panas. Hatinya remuk. Hancur. Semangat hidupnya seperti ikut terkubur ketika hari pemakaman putranya tiba. Tetapi, apabila mengingat setan berwujud manusia yang melemparkan timah panas ke tubuh putranya, hatinya pun ikut panas dan bergetar. Semangatnya hidup kembali. Semangat untuk menemukan keadilan bagi putranya.

Ia terus berjalan bersama lautan massa menuju lembaga hukum terhormat negara ini untuk mencari sosok keadilan. Ia terus berjalan dengan tegar sementara matahari makin menghitamkan kulitnya yang berwarna sawo matang.

“Adakah keadilan akan aku temui?” ucapnya. Gadis yang memberinya minuman tersenyum.

“Setidaknya kita berusaha,” ujar gadis itu dengan suara lembut menenangkan hati.

“Perasaanku sewajarnya perasaan ibu yang ditinggalkan puteranya tanpa pamit. Tetapi perasaanku lebih terluka ketika mendengar bagaimana ia meninggal. Kenapa harus anakku? Pertanyaan itu terus menghantuiku,” ucapnya lagi. Gadis itu mendengarkan dan menatapnya lembut seakan mengerti bagaimana perasaannya.

“Kamu tahu, kalau anakku terkena timah panas ketika sedang menolong temannya yang terluka?” Gadis itu mengangguk.

“Padahal anakku tidak berada di antara massa demonstran dan tidak melakukan tindakan anarkis. Anakku hanya melakukan tindakan kemanusiaan ketika melihat kawannya terluka. Tetapi justru anakku yang terluka dan meninggal.”

“Yang aku inginkan hanya mengetahui siapa yang memberikan timah panas itu ke tubuh anakku. Dan, untuk apa? Aku sudah merelakan kepergian anakku, walau berat. Tapi aku tidak rela pelakunya masih bebas berkeliaran. Di masa depan ia mungkin melakukannya lagi terhadap anak dari ibu-ibu yang lain. Sungguh, aku tidak rela para ibu memiliki perasaan yang sama denganku. Cukup aku saja yang kehilangan anakku. Jangan lagi ada anak orang lain.”

“Aku belajar banyak atas kejadian ini. Belajar bersabar dalam memperjuangkan keadilan. Apakah menurutmu negara ini cukup adil dalam memperlakukan warganya? Orang-orang yang memiliki uang banyak walau ia penjahat atau koruptor bisa melenggang bebas. Sedangkan anakku dan teman-temannya yang berjuang untuk kemakmuran negara ini dilempari timah panas. Dipukul, disemprot dengan gas cair yang membuat kulit terasa panas dan gatal. Seakan-akan mereka penjahat. Padahal apa yang mereka lakukan untuk kebaikan bangsa ini. Negara ini.” Gadis yang berada di sebelah kanannya tidak menggeleng maupun mengangguk. Ia terdiam meresapi curahan hati ibu yang gelisah dengan keadaan tersebut.

“Seorang ibu dapat melakukan apapun untuk anaknya. Karena itu aku di sini, berjalan bersama kalian. Bersama-sama menuntut keadilan bagi semua, tidak hanya untuk anakku. Agar di masa mendatang tak ada lagi kejadian serupa.” Ibu itu menghela nafas dan mengelap peluh di dahi menggunakan tangannya yang mulai berkeriput. Gadis manis itu memberikan tisu kepadanya dan diterima dengan senyuman tulus.

“Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin negara ini yang berbaik hati memberikan keadilan untuk kita? Seperti kamu yang berbaik hati memberiku air di tengah panas matahari? Memberikanku tisu di tengah peluh membasahi tubuh? Bila ada yang berbaik hati, sungguh dimuliakan ia oleh Tuhan.” Gadis itu tersipu, tidak menyangka perbuatan yang wajar dilakukan itu ditanggapi istimewa oleh ibu yang tidak ia kenal.

Terus melangkah, mereka berjalan beriringan. Panas matahari makin menyengat kulit. Lembaga hukum terhormat hanya berjarak 10 meter lagi. Seorang anak muda berorasi dengan penuh semangat di depan gerbang lembaga hukum tersebut. Menuntut keadilan dengan menyelesaikan kasus delapan tahun lalu. Ia juga menuntut petinggi lembaga hukum terhormat itu untuk keluar. Terus menerus ia bersama mahasiswa lainnya berteriak-teriak. Dalam waktu setengah jam salah seorang petinggi lembaga hukum keluar. Mahasiswa yang berorasi melakukan pembicaraan dengan petinggi lembaga hukum, terpisahkan pagar besi yang kokoh dan tinggi. Ibu berambut kelabu tadi melihat dari kerumunan massa. Beberapa keluarga korban menghampiri mahasiswa yang terlibat pembicaraan.

Sayup-sayup terdengar pembicaraan itu ke telinga si Ibu. Kasus delapan tahun lalu bukanlah pelanggaran HAM berat dan pemerintah perlu membentuk suatu komisi kebenaran dan rekonsiliasi. Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikiran si Ibu. Kebenaran apalagi yang harus diselidiki? Bukankah suatu kebenaran yang sangat nyata tubuh puteranya tertembus timah panas dan timah panas itu berasal dari senjata militer pemerintah? Bukankah menyabut nyawa seseorang itu melanggar hak asasi manusia?

Dengan kekuatan yang tersisa dalam tubuh kecilnya, si Ibu menyeruak di antara kerumunan, maju ke depan pagar, mendorong mahasiswa tadi dan menatap tajam petinggi lembaga hukum. Ia mengambil sesuatu dalam tasnya yang besar. Telur dan tomat busuk Ia lempar ke tubuh petinggi lembaga hukum yang terhormat itu. Dan Ia juga melemparnya ke halaman gedung lembaga hukum. Puas dengan apa yang ia lakukan, ia masuk kembali ke dalam kerumunan massa. Ke arah gadis manis yang memberinya minum dan tisu.

“Kesabaran pun ada batasnya, Nak. Tidak selamanya aku dapat bersabar. Beruntung dia tidak aku lempar dengan timah panas. Telur dan tomat busuk rasanya cukup setimpal dengan lembaga hukum yang busuk ,” katanya. Gadis itu tersenyum tertahan melihat semua adegan tadi.

Jakarta, 20 Desember 2006

Posted in idealisme | Tagged: | 3 Comments »

PARA PELACUR KEHIDUPAN

Posted by legendabuana on May 30, 2008

Kata-kata itu saya temukan beberapa waktu lalu di profile Friendster seorang sahabat, Cornelia. Entah mengapa saya menyukai kata-kata tersebut. Para Pelacur Kehidupan.

Dalam KBBI alias Kamus Besar Bahasa Indonesia, pelacur memiliki arti wanita tuna susila. Wanita yang menjual dirinya. Tapi dalam pengertian saya, para pelacur kehidupan merupakan orang-orang yang menjual dirinya untuk kehidupannya. Pelacur alias wanita tuna susila merupakan bagian dari para pelacur kehidupan. Bahkan kita pun merupakan para pelacur kehidupan.

Di ibukota negara seperti Jakarta, banyak kaum urban yang menetap. Gegar budaya pun kerap terjadi. Alhasil, gaya hidup yang tinggi pun menjadi suatu harga diri. Uang menjadi Tuhan. Dalam pemahaman saya, saat ini fenomena ini sedang melanda kaum urban di Jakarta. Menjadi para pelacur kehidupan. Tidak hanya terjadi pada perempuan tetapi juga para lelaki.

Banyak kaum urban yang bekerja di gedung mewah yang bertempat di kawasan bisnis dengan bayaran yang tinggi. Bayaran tinggi untuk menunjang gaya hidup yang tinggi. Tingkat stress pun menjadi tinggi. Bayangkan saja, berangkat dan pulang kerja terkena macet. Bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Rutinitas menjadi bagian dan hasilnya pun kepenatan yang tak kunjung hilang. Bekerja hanya menjadi suatu rutinitas yang tak ada rasa cinta didalamnya. Tak ada perasaan senang dalam menjalaninya. Hanya demi materi yang telah menjadi Tuhan untuk memenuhi gaya hidup. Inilah pemahaman saya terhadap para pelacur kehidupan.

Pernah hal ini saya perbincangkan dengan Cornelia ketika kami online via YM. Dan saya mendapatkan sebuah cerita menarik dari sahabat saya itu. Bahwa ada seorang wanita tuna susila yang pernah ia temui dan, ini yang menarik, wanita tuna susila tersebut bekerja karena ia menyukai sex. Materi yang ia dapat adalah nilai tambah. Menurut saya, ia tidak termasuk ke dalam para pelacur kehidupan walau profesinya adalah pelacur.

Tentang pekerjaan yang disenangi dan kemudian saya perbincangkan dengan Bang Ully Debrur, sangat menyenangkan jika kita menjalani pekerjaan yang disukai. Artinya kita tidak akan pernah terjebak dengan rutinitas yang membuat penat. Jika kita menyenangi pekerjaan kita, hal yang bersifat materi adalah nilai plus dari pekerjaan kita. Hal yang bersifat materi maupun bukan adalah nilai tambah. Dan secara keseluruhan, itu akan menjadi gaya hidup kita. Kita memiliki gaya hidup kita sendiri tanpa terpaku dengan gaya hidup tinggi kota besar. Pada akhirnya kita pun tidak akan menjadi salah satu dari para pelacur kehidupan.

Jakarta, 23 Mei 2008

Posted in realisme | Tagged: | 10 Comments »

MAHAMERU DAN RINJANI

Posted by legendabuana on May 30, 2008

“Suatu kemarahan dalam diri yang tidak dapat aku kuasai

Entah karena apa, mungkin karena diriku sendiri

Kemarahan yang bercampur rasa kecewa amat dalam

Mungkin karena harapan semu yang sangat besar

Aku tahu yang aku harapkan itu tak mungkin

Dengan harapan semu, aku tak bisa menjalani hari-hari yang makin berat

Beban yang kupikul sendiri mengikis akal dan perasaan

Sehingga terkoyak logika yang kususun sendiri

Apapun itu namanya, aku merasa amat marah pada apa yang aku pikirkan, tapi tak dapat kujawab

Tak tahu aku jawabannya

Tak ada yang dapat meredam perasaanku

Semakin jauh kuberjalan semakin sakit dadaku

Dan pada akhirnya, aku hanya bisa… PASRAH!

Jakarta, 20 Mei 2004

Air mata yang saya tahan menetes di buku catatan Mahameru. Terasa betul penderitaannya dalam kemarahan yang ia rasakan. Tidak habis saya berpikir, kesendiriannya dalam berjuang tanpa pernah mengeluh. Dalam menghadapi hal-hal yang ia anggap tidak benar, ia selalu mencoba menegakkan apa yang menurutnya benar. Bukan mencoba. Mahameru memang selalu menegakkan apa yang ia anggap benar. Suatu kebenaran yang kadang kala diragukan orang-orang yang tidak mengerti dirinya. Dan apa yang ia tegakkan itu, tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik. Tetapi Mahameru tidak pernah mengeluh. Juga tidak pernah menyesalinya.

Tulisan terakhir dalam buku catatan Mahameru membuat saya makin meneteskan banyak air mata. Mahameru sosok yang sangat saya hormati, berjuang dalam kesendiriannya menentang sesuatu yang tidak benar. Tindakan-tindakannya dalam berjuang kerap membuat saya takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada dirinya. Tulisan-tulisannya selalu membuat ia diinterogasi penguasa-penguasa militer. Tetapi dia tidak pernah takut untuk terus berjuang. Hal itu makin membuat saya bertambah kagum pada dirinya.

Saya mengagumi serta menghormati Mahameru sebagai sosok berkarakter kuat dan juga berintelek. Kepekaan sosialnya yang tinggi membuatnya menjadi seorang pejuang yang idealis. Ketakutan-ketakutan saya terhadap dirinya yang kerap menyerempet bahaya dalam berjuang merupakan rasa peduli saya pada dirinya. Saya juga berusaha untuk selalu mendukung dan berusaha untuk mengerti dirinya. Walaupun berat dilakukan tetapi saya selalu berusaha karena saya teramat peduli kepadanya sehingga menumbuhkan rasa cinta di hati saya.

Cinta… bahkan sampai akhir hayatnya Mahameru tidak pernah membicarakan cinta kepada diri saya. Ia agak skeptis mengenai hal itu. Antinya untuk sebuah kata dan rasa yang ia sekap. Tetapi karena saya teramat menghormatinya… menghormati sikap dan pribadinya, maka saya juga tidak pernah menanyakan atau menyatakan cinta kepada Mahameru. Yang saya lakukan hanya membuktikan perasaan cinta saya dengan mendukung dan mengerti dirinya. Dan saya rasa Mahameru cukup puas dengan hal itu.

Saya tahu, bahwa ia butuh dimengerti dan didukung oleh seseorang dan saya-lah yang melakukan itu. Saya pun puas karena dengan hal tersebut saya menjadi orang yang paling dekat dengannya. Dan yang membuat saya lebih puas karena saya juga menjadi tempat bergantung baginya.

Saya menangis dalam mengenang Mahameru. Laki-laki yang saya cintai dan hormati. Meninggal dalam kesendirian yang menguasai keidealisannya. Pernah saya bertanya, “Apa kamu tidak takut berjuang sendiri?” Saya menanyakan itu karena melihat beberapa temannya sudah mulai lelah untuk terus berjuang, dan melihat Mahameru tetap berjuang. Ia tersenyum dan menjawab, ”Seorang idealis akan selalu berjuang sendiri dan ia harus siap untuk sendiri. Saya seorang idealis, karena itu saya akan terus berjuang sendiri dan saya siap untuk itu.”

Miris hatiku mengingat itu. Berbagai macam perasaan yang berkecamuk di dalam diri saya membuat saya tidak kuasa untuk terus mengeluarkan air mata. Rasa haru yang teramat sangat menyeruak apabila mengingat sesuatu yang ia perjuangkan dilakukan dengan ketulusan hati. Dan tak pernah ia berharap apa pun. Mahameru melakukannya dengan keikhlasan penuh.

“Rinjani, kenapa menangis?” tanya Mahameru suatu ketika saat ia bersiap berjuang bersama teman-temannya yang tersisa.

“Saya takut terjadi sesuatu pada dirimu. Saya juga takut kamu memperjuangkan sesuatu yang sia-sia,” jawabku, yang hanya berdiri di pintu sekretariat organisasi mahasiswa di mana Mahameru duduk sebagai ketua.

“Mungkin saya akan berjuang sendiri jika teman-teman yang lain lelah mengikuti keidealisan kami. Tetapi saya siap berjuang sendiri dengan keidealisan saya yang tidak akan sia-sia. Kalaupun sia-sia….” Ia tersenyum dan mengusap air mata di pipi saya.

“Saya puas karena saya berjuang dengan idealisme saya, di mana tersimpan rasa tulus, ikhlas dari seorang warga negara untuk tanah airnya. Jadi jangan menangis lagi. Dan jangan takut terjadi sesuatu pada diri saya, karena saya tidak akan mati semudah itu.” Mahameru mengusap kepalaku dan pergi meninggalkanku.

Setelah pembicaraan itu saya selalu berusaha untuk mengerti dirinya dengan mencari dan mempelajari makna perjuangan, idealisme, kebenaran, juga kehidupan. Saya selalu mencari agar dapat menyelami pikiran-pikiran Mahameru. Perjuangan dengan idealismenya dalam menegakkan kebenaran mungkin tujuan hidup Mahameru. Mahameru, saya, serta mahasiswa lain ataupun manusia di belahan dunia manapun yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, pasti akan menjadikan nilai-nilai itu suatu idealisme pada diri masing-masing. Dan akan berpengaruh pula pada kehidupan masing-masing.

Dengan pencarian yang saya lakukan itu, saya banyak mendapatkan pelajaran-pelajaran yang tertanam dalam hati dan pikiran saya. Secara pelan dan bertahap saya pun menjadi orang yang idealis seperti Mahameru. Banyak buku-buku yang saya baca serta saya pahami, dan hal itu membuat suatu pemikiran yang benar-benar mengubah saya menjadi perempuan yang matang dalam berpikir. Membuat saya sadar bahwa hidup yang saya jalani terdapat banyak ketidakadilan, terdapat banyak sesuatu yang tidak benar, terdapat banyak penderitaan, kesengsaraan. Dan hanya orang-orang yang sadar dan tidak menutup mata dengan hal itu yang harus memperbaikinya. Orang-orang tersebut adalah orang-orang yang idealis tetapi hanya sedikit jumlahnya. Selebihnya hanyalah orang-orang munafik yang menutup mata atas penderitaan, ketidakadilan. Serta menutup mata atas sesuatu yang tidak benar.

Mahameru mengubah saya menjadi lebih terbuka melihat dunia yang saya geluti. Mahameru juga mengubah saya menjadi lebih berani dalam bersikap dan mengeluarkan pendapat di tengah orang-orang yang menekan hak berpendapat. Dan saya tidak peduli dengan orang-orang itu. Saya seperti baru dilahirkan ketika untuk pertama kalinya dapat mengeluarkan kebebasan berpendapat dengan pemikiran yang saya pikirkan sendiri. Saya seperti mendapatkan kemerdekaan dan hal itu karena Mahameru.

Saya juga menjadi lebih mengerti dirinya dan lebih mendukung dia. Teman-teman saya banyak yang berpendapat bahwa saya sama seperti Mahameru. Seorang yang idealis. Dan keras kepala. Pendapat itu justru membuat saya bangga. Bukan karena saya sama seperti Mahameru, tetapi saya bangga karena pemikiran saya adalah keidealisan saya yang diakui teman-teman.

Kembali saya mengenang Mahameru yang meninggal dalam kesendirian yang menguasai keidealisannya. Kembali pula saya meneteskan air mata dalam mengenangnya. Sosok yang mengubah pemikiran saya dalam mengenal dunia. Sosok yang saya cintai. Saya kagumi. Sosok yang saya hormati.

Perjuangan Mahameru yang menurutnya tidak sia-sia karena ia tulus dalam berjuang. Tetapi pada kenyataannya negara ini tidak berubah keadaannya menjadi lebih baik, bahkan semakin buruk. Apakah pernah terlintas kekecewaan dalam diri Mahameru? Yang saya tahu dia tidak pernah kecewa apalagi menyerah. Mahameru pun selalu menekankan bahwa seorang idealis harus siap berjuang sendiri, harus siap kesepian dan menderita dalam berjuang. Kita juga tidak boleh kecewa dan berpikir bahwa perjuangan kita sia-sia, karena itu bisa melemahkan hati dan dapat menutup hati kita yang tulus dalam berjuang. Kita juga tidak boleh menyerah dalam berjuang karena kalau menyerah berarti kalah. Kata-kata Mahameru terus saya tanam di dalam hati sehingga membentuk kekuatan dalam diri. Membentuk suatu kepercayaan diri dalam menghadapi apa yang saya perjuangkan.

Tangis saya pun berhenti ketika mengingat kata-kata Mahameru bahwa kita tidak boleh menyerah dalam berjuang. Ironis sekali! Di buku catatan Mahameru yang ia tulis sehari sebelum meninggal dalam kesendirian yang menguasai keidealisannya, ia berkata, ”Dan pada akhirnya, aku hanya bisa…PASRAH!” PASRAH? PASRAH? Untuk pertama kalinya setelah sekian lama saya tidak mengerti Mahameru. Dia selalu menekankan bahwa orang tidak boleh menyerah. Ironis sekali ia menulis kata pasrah yang berarti menyerah. Tangis saya berhenti melihat tulisan “PASRAH”. Entah apa yang saya rasakan, jantung saya berdetak kencang sekali.

Tangis saya pun meledak lagi. Mahameru yang saya kagumi, yang saya cintai, yang saya hormati, yang mengubah pandangan hidup saya, yang mengubah cara berpikir saya, yang selalu berjuang dengan penuh keidealisan, yang berjuang dengan rasa tulus dan ikhlas, yang tidak pernah takut akan kesendirian, yang tidak pernah kecewa akan perjuangan yang akan sia-sia, yang tidak pernah menyerah; meninggal dalam kesendirian yang menguasai keidealisannya. Mahameru meninggal dalam… KEPASRAHAN yang menguasai jiwanya. o

Jakarta, 8 Juni 2004

*Pernah dimuat di harian Suara Pembaruan Minggu|15 September 2005*

Posted in idealisme | Tagged: | Leave a Comment »