Aku Menyayanginya Bagai Nafas
Posted by legendabuana on February 13, 2009
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:”"; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:0in; margin-left:1.5in; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; text-indent:-.25in; line-height:200%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
Ia duduk di hadapanku menghirup hot chocolate-nya yang kental. Kemudian ia menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asap tebal dari mulutnya. Ia melirik kepadaku, dengan matanya yang tajam, dan membuat jantungku berdebar keras. Ia tersenyum dan bertanya, “kenapa?”
Aku menggeleng dan tersenyum. Ia pun membalas senyumku. Kemudian ia menghirup hot chocolate-nya lagi dan setelah itu,sambil menghisap rokoknya dalam-dalam, ia menatap jauh ke belakangku. Ia melamunkan mimpi-mimpinya mungkin, dan aku tak kuasa untuk mengganggunya. Yang bisa kulakukan hanya menatap laki-laki itu.
Laki-laki itu datang dalam kehidupanku, tanpa aku duga. Tiba-tiba Ia datang mewarnai hidupku. Seperti dirinya yang kerap kali mewarnai kanvas putih, ia pun mewarnai “kanvas hidupku”. Begitu pula aku yang mengajarinya untuk mengekspresikan diri dengan kata-kata. Dengan kata-kata, Aku pun mewarnai hidupnya dengan warnaku sendiri.
Coklat, abu-abu, hitam, itu adalah warnanya. Kuning, merah, oranye, itu warnaku. Ia melembutkan hidupku dengan warnanya sedang aku membuat ceria hidupnya dengan warnaku sendiri serta kata-kata sayang yang kerap terucap dari mulutku. Apakah kata-kata sayang itu hanya sekedar terucap di mulut? Yang pasti, hatiku sering mengucapkan kata-kata itu. Aku menyayanginya seperti aku bernafas dan kata-kata sayang itu mengalir dari hatiku seperti air.
Ia seorang pemimpi yang terus mengejar mimpinya. Aku tahu itu dari sorot matanya. Sebab itu pula aku menyayanginya lebih dan lebih lagi. Kesabarannya menghadapi kekeraskepalaanku terkadang membuatku menangis, tetapi aku menyukai ia yang bersabar. Aku menyukai ia yang pemimpi, aku menyukai ia yang mewarnai hidupku, aku menyukai keseluruhan dirinya. Rasa suka itu terkadang membuatku sesak. Dan pada akhirnya aku hanya menghela nafas, aku menyayanginya seperti aku bernafas.
“Pulang yuk,” ajaknya.
“Hot Chocolatenya udah habis?” tanyaku. Dan ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Aku berdiri dan menggandeng dirinya.
Matanya masih menerawang seakan hanyut dalam mimpinya. Aku mengecup pipinya dan matanya tertuju padaku. Hanya kepadaku. Seakan aku pun terbawa dalam mimpinya. Aku ingin masuk ke dalam mimpinya. Apakah aku merupakan salah satu dari bagian mimpinya? Apapun itu, aku hanya menyayanginya bagai nafas,
Jakarta, 3 Februari 2009
Selamat Ulang Tahun, sayang
Aku terus menyayangimu bagai aku bernafas