Pertemuan
Posted by legendabuana on July 8, 2008
Ia meniti jejak yang pernah ditinggalkannya. Menatap merahnya langit yang dalam sekejap berganti menjadi kelam. Ia meresapi hembusan angin. Seakan angin dapat menghapus kesalahannya. Ia membasuh wajahnya dengan air laut. Seakan air laut itu dapat membasuh dosanya menjadi murni kembali. Bayangan wajah seorang gadis masih terekam dalam ingatannya. Mata yang penuh kepedihan masih menusuk jantungnya. Mata dan wajah yang membuat dirinya sulit untuk tertawa lagi. Membuatnya sulit untuk melangkahkan kaki ke depan. Sebab itu ia meniti jejaknya kembali.
“Pada akhirnya aku menerima lamaran Haikal, sahabatku itu. Bukan karena ia mengetahui apa yang telah terjadi padaku dan tetap setia menemaniku. Tetapi karena ia yang membuatku bangkit kembali,” ujar gadis itu seraya tersenyum. Ia tersenyum samar.
“Bagaimana kabarmu, Rey? Aku dengar kuliahmu tersendat. Ada masalah apa? Padahal kamu kan cerdas,” ujar gadis itu lagi. Ia mengangguk kaku.
“Sedang merasa jenuh saja, Kayla,” sahut Rey. Lama mereka terdiam. Rey menatap gadis itu. Dirasanya gadis itu memiliki suatu kekuatan yang luar biasa. Sehebat apapun dirinya, ia bahkan tak memiliki kekuatan itu.
“Jenuh? Itu kan tanggung jawab kamu terhadap orang tuamu. Jadikan itu menyenangkan dong,” seru Kayla.
“Aku menghilangkan sebuah jiwa yang suci yang tumbuh dalam ragaku pun untuk masa depan kamu. Dan dengan santainya kamu bilang jenuh?” suara Kayla terdengar bergetar. Masalah itu lagi, keluh Rey dalam hati. Rey terdiam.
“Maaf,” bisik Rey, “hanya saja, aku belum memiliki kekuatan untuk melangkah ke depan”.
Kata-kata yang ingin ia ungkapkan pun terungkap. Sejak kejadian yang disebut Kayla, ia seakan tidak memiliki tempat untuk berbicara. Teman-temannya yang mengetahui hal tersebut seperti membuat stigma buruk mengenai dirinya. Ia merasa amat bersalah pada gadis itu. Dan hal itu yang membuat dirinya tak dapat melangkah. Seakan-akan ia berjalan pada satu putaran tanpa henti.
“Masih merasa bersalah?” tanya Kayla. Tepat sasaran, jantung Rey berdetak keras. Ia mengangguk kemudian menundukkan kepala.
“Tadinya aku menganggap hal itu salah. Menghilangkan sebuah jiwa yang suci yang tumbuh dalam ragaku. Walau masih berupa gumpalan darah, tapi hal itu tetap saja salah, Rey,” kata Kayla.
“Semua manusia memiliki kesalahan, Rey. Kita tidak pernah luput dari hal tersebut dalam hidup kita. Aku belajar mengenai kejadian lalu. Hal tersebut merupakan sebuah pengalaman yang amat berharga untukku. Walau menyakitkan, tetapi berharga. Aku pernah membencimu teramat sangat. Tetapi itu tidak memuaskan hatiku. Kemudian aku pergi menjauh. Menjauhi segala kenyamanan bersamamu yang membuat hatiku sakit. Bersama waktu, aku membasuh perih. Dan luka itu pun tertutup sedikit demi sedikit. Bersama dengan menutupnya luka itu, aku pun berusaha merelakan semua dan memaafkan kamu. Sebab itu aku dapat melalui semuanya dan melangkah ke depan. Tidak semua aku lakukan sendiri. Haikal yang terus menemaniku. Dan berkat hal itu, aku jatuh cinta kepadanya. Aku ingin hidup bersamanya, sebab itu aku menerima lamarannya,” tutur Kayla.
Tangan gadis itu membelai lembut rambut Rey. Rey menengadahkan kepalanya. Menatap Kayla. Ia merasa gadis itu memberikan kekuatan kepadanya untuk bangkit. Untuk melangkah ke depan.
***
Pertemuan terakhir dengan Kayla membawa suatu perubahan besar pada diri Rey. Ia seperti seorang yang telah disucikan kembali. Seperti orang-orang Hindu di India yang merasa berdosa, dan untuk menghapus dosanya mereka mandi di Sungai Gangga. Hal itu membuat mereka seakan terlahir kembali menjadi seorang yang suci, tidak berdosa.
Seperti itulah yang dirasakan Rey. Sentuhan lembut Kayla dirambutnya membuatnya seakan terlahir kembali menjadi Rey yang baru. Yang bersemangat melangkahkan kaki ke depan menyambut jalannya yang masih panjang dalam hidupnya.
Di sudut kamar tidur, Kayla berdoa. Berdoa untuk seseorang yang pernah memberikannya suatu jiwa yang suci dalam raganya. Ia berdoa agar laki-laki tersebut terlahir kembali sebagai laki-laki yang kuat menghadapi masalah hidupnya.
Jakarta, 1 Juli 2008