Legendabuana’s Weblog

hanya sekedar kata dan kalimat yang merupakan buah pikiranku

Aku, Rio, Leo, dan Anak Rambutku

Posted by legendabuana on July 8, 2008

Sayang…sayang…anak rambutku sayang…

Entah kenapa aku sangat menyukai anak rambutku. Halus, hitam, lebat. Tumbuh di atas dahi dan ketika aku ikat rambutku, anak rambut itu seperti membentuk frame yang membingkai wajahku dengan manis. Tetapi terkadang rambutku terkesan berantakan karena anak rambutku yang sulit diatur. Kata orang, kalau sulit diatur itu artinya si empunya juga sulit diatur. Mungkin juga aku sulit diatur. Keluargaku memandang aku sebagai anak yang tidak dapat diatur. Aku selalu menyangkal semua aturan orang tuaku. Mungkin tidak semua, hanya beberapa yang kuanggap tidak benar maka akan kusangkal. Itulah kenapa keluargaku memandang aku sulit diatur.

Kembali ke soal anak rambut, aku benar-benar memelihara anak rambutku seperti aku memelihara rambutku. Terkadang kalau sedang creambath di salon, banci-banci salon itu selalu melupakan anak rambut karena bagi mereka yang penting rambutnya, aku selalu berpesan kepada salah satu banci salon langgananku agar seluruh rambut beserta anak rambutku ikut diberi cream dan meminta dipijat bagian dahiku agar merangsang pertumbuhan anak rambutku. Apakah ada pengaruhnya atau tidak, aku tak tahu. Yang pasti aku sangat menyayangi anak rambutku.

***

Bulan Juni tahun ini usiaku bertambah. Seperempat abad sudah aku hidup. Sebagai seorang wanita, sudah sepantasnya aku menjadi seorang ibu. Menikah dan memiliki anak seharusnya menjadi tahap kehidupanku selanjutnya setelah karir yang aku jalani terus meningkat. Tetapi sebagai seorang perempuan yang memiliki darah Jawa dan calon suami yang juga memiliki darah Jawa, pernikahan kami nanti pasti akan memakai adat Jawa. Dalam adat Jawa, perempuan yang menikah harus dicukur anak rambutnya sama seperti di India yang menandainya dengan bindi berwarna merah di dahi. Aku belum siap untuk mencukur anak rambut yang sangat kusayangi ini. Lagipula, apakah aku yakin untuk menghabiskan sisa hidupku bersama laki-laki yang sedang dekat denganku saat ini?

Pertanyaan yang klise, ujar salah seorang kawan. Kalau kamu mencintai dia berarti kamu yakin untuk hidup bersamanya. Mungkin juga. Tetapi, apakah aku harus membuktikan dulu keyakinanku misalkan dengan cara traveling berdua dengannya atau mencoba untuk tinggal satu atap dengannya? Ide gila.

Meyakinkan diri bahwa Rio bisa menjadi suami yang baik sebenarnya tidak sulit. Maksudku, sudah hampir 4 tahun kami dekat dan dia cukup membuktikan bahwa ia setia dan menghormatiku sebagai wanita. Ia memiliki karir yang baik dalam arti jabatan serta finansial. Selama 2 tahun terakhir ini ia ditugaskan oleh kantornya ke Tokyo. Ia berharap aku bersedia menikah dengannya dan aku akan diboyong pula ke Tokyo. Walaupun terpisah jarak ribuan kilometer dan dalam 2 tahun ini kami bertemu kurang lebih 3 kali, tetapi ia terus mencintaiku. Apalagi yang kurang? Mungkin tidak ada yang kurang hingga akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang sangat berbeda dari Rio. Ia senior satu angkatan di atasku di kampus. Namanya Leo.

Berawal dari pesan singkat yang menanyakan kabarku. Aku tidak mengenal nomor yang mengirimkanku pesan, maka aku membalasnya karena aku pikir ia adalah Leo teman sekolahku dulu. Terus menerus selama dua hari kami saling membalas pesan singkat yang dikirimkan. Hingga pada hari selasa malam ia menungguku di lobby kantor. Aku tertawa melihatnya karena ternyata ia seniorku di kampus dulu.

Beberapa kali kami jalan bersama setiap jam kantor usai. Aku tidak pernah memberitahukan statusku yang sudah memiliki kekasih yang ingin menikahiku. Aku sangat menikmati waktu-waktu yang kuhabiskan bersamanya. Dengan tidak adanya Rio di sampingku, maka aku memiliki waktu yang lebih bersama Leo.

Lama-kelamaan timbul rasa nyaman bila bersama Leo. Dan ini sangat berbahaya, karena bisa-bisa aku jatuh cinta padanya. Mumpung rasa itu masih dapat aku kendalikan, aku pun menganggap Leo sebatas sebagai teman.

Mungkin karena terbawa suasana, pada kamis malam seusai clubbing, ia mencium bibirku sambil membelai lembut anak rambutku yang turun ke dahi dan aku hanya terdiam menikmatinya. Sesampainya di rumah, aku terus memikirkan ciuman itu. Apakah ini yang dinamakan dengan selingkuh?

“Wuah gaya hidup kamu benar-benar metrosexual ya?” ujar salah seorang teman setelah aku menceritakan hubunganku dengan Leo.

“Lagipula, kamu mau dan dia mau, ya sudah. Jalani saja tanpa pakai perasaan,” kata temanku yang lain.

Ya, jalani tanpa menggunakan perasaan. Mungkin aku sudah terbawa perasaan karena aku sudah terbiasa bersamanya, walaupun selama empat tahun aku terbiasa dengan kehadiran Rio. Tapi sejak Rio pindah ke Tokyo, aku merindukan kehadiran seorang laki-laki di sisiku. Dan Leo yang mengisinya beberapa bulan terakhir ini. Tidak hanya mengisi hari-hariku, ia juga memberikan ciuman-ciuman yang liar dan belaian tangannya pada anak rambutku dengan lembut. Sama seperti aku yang menyukai anak rambutku, Leo pun menyukai anak rambutku.

Bingung memikirkan segalanya. Dan bila aku sudah bingung, tanpa sadar jari-jari tanganku mulai memainkan anak rambut kesayanganku.

***

Satu hal yang aku sadari adalah, sejak awal Leo memang tidak berniat serius denganku. Hal yang sangat nyata adalah suku dan agamanya beda denganku. Di dalam keluarganya, ia diharuskan menikah dengan suku yang sama untuk meneruskan marga keluarganya, karena ia anak laki-laki satu-satunya. Sedangkan aku adalah peranakan Padang-Jawa yang memegang teguh keyakinan dan ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw untuk umat manusia. Jadi, bagaimana mungkin kami akan menjalin hubungan yang serius? Yang ada saat ini hanyalah hubungan sesaat yang sangat aku nikmati. Sempat terlintas dalam benakku, berdosakah aku terhadap Rio karena memiliki hubungan sesaat dengan Leo? Tidak munafik, aku pun tertarik dengan Leo padahal aku tahu hubungan ini tidak akan berkembang.

Aku pun tahu bahwa aku hanya sekedar wanita pelarian Leo. Maksudku, ia baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya tanpa ada alasan yang jelas. Ia pernah berkata, “Aku bisa memendam rasa cinta terhadap kekasih yang meninggalkan aku. Tapi aku tidak bisa menghilangkan kebiasaan mencium seorang wanita dan bercinta dengan wanita”.

Aku pun sudah menegaskan bahwa hubungan apapun yang akan kami jalani buatku tidak masalah, asal tidak bercinta. Bercinta dengan seseorang yang baru aku kenal adalah perbuatan gila. Aku masih menghormati nilai-nilai bercinta yang suci.

Di sudut sebelah kanan bawah layar komputerku ada yang berkedip. Ada email baru masuk di inbox-ku. Aku arahkan mouse-ku ke inbox.

From: Rizkyo

To: Gadis

Sent: Thursday, November 2, 2006, 01.34 PM

Message: babe, bulan depan aku ada rapat besar di Jakarta. Aku kangen kamu. Ada yang ingin aku bicarakan juga. Aku harap kali ini kamu menjawabnya. Love U…

Aku tahu pasti yang akan dibicarakan Rio. Mengenai pernikahan. Aku menghela nafas panjang. Pernikahan. Ada sedikit keraguan dalam diriku untuk menikah dengannya. Entah apa arti dari keraguan ini.

Telepon selulerku berbunyi, segera aku lihat layar yang tertera. Leo. Aku tersenyum.

“Ya Leo, ada apa?” sapaku sambil berjalan menuju toilet wanita.

“Kemarin aku bertemu Lola,” jawabnya. Hatiku mencelos ketika ia menyebut nama kekasih yang meninggalkannya.

And then?” tanyaku sedikit tidak bersemangat.

“Aku ingin dia tetap menjadi kekasihku. Tapi dia masih ragu, begitu pula aku.”

“Lho kenapa ragu?”

“Dia mau sekolah lagi ke luar negeri.”

“Lalu apa masalahnya?”

“Dia mau sekolah ke luar negeri,” ulangnya dengan gemas.

“Memang ada masalah dengan hal itu?” tanyaku heran, “kamu cinta dia dan dia juga cinta kamu kan?”

“Ya, tapi dia mau ke luar negeri selama 2 tahun. Orang yang sudah menikah dan terpisah jarak saja bisa selingkuh,” katanya kesal.

“Kamu selalu berpikir buruk. Menurutku, tidak ada permasalahan. Asal ada cinta, rasa percaya, dan komunikasi. Lagipula dia cocok sama kamu. Dia pariban[1] kamu, kan?”

“Tidak semudah itu,” jawabannya membuatku heran. Apalagi yang ia permasalahkan? Lola yang sangat ia cintai ternyata masih mencintai dia. Hanya karena wanita itu ingin sekolah ke luar negeri, ia ragu untuk menjalin lagi hubungannya dengan Lola.

Tersadar akan sesuatu, aku pun memikirkan kembali hubunganku dengan Rio. Aku sangat mencintai Rio. Dan Rio pun mencintaiku. Hal yang paling membuatku bahagia adalah Rio sangat menghargai seorang wanita. Walaupun ia sedikit pemalu dan tidak nakal seperti Leo, tetapi selama 4 tahun kami dekat, tidak sekalipun ia memaksakan kehendaknya kepadaku. Hubungan percintaanku dengan Rio berjalan lembut dengan penuh rasa cinta dan kasih. Sedangkan hubunganku dengan Leo, walaupun cuma sesaat dan tidak jelas, hanya hubungan fisik yang penuh dengan hasrat semata.

***

“Apa kabar? Kamu kelihatan lebih manis,” ucap Rio setelah mencium keningku. Aku tersenyum, jantungku berdetak lebih kencang. Bukan karena Rio mengucapkan kalimat tersebut tetapi karena ia makin terlihat tampan dan dewasa.

Tadi siang aku tidak bisa menjemput Rio di bandara dan malam ini aku sengaja datang ke rumahnya. Tidak mengerti kenapa aku lebih memilih datang ke rumah Rio ketimbang pergi bersama Leo yang mengajakku ke Venue-Kemang malam ini.

Berdampingan kami berjalan masuk ke ruang keluarga rumah Rio, Rio melingkarkan tangan kanannya di pinggangku.

“Mama dan Rei ke mana, Yo?” tanyaku menanyakan ibu dan adik perempuannya.

“Ke Bandung pagi tadi, jemput Papa, mungkin pulang besok,” jawab Rio.

Aku duduk di sofa besar di tengah ruang keluarga rumah Rio. Tanpa sadar tanganku mulai memainkan anak rambutku. Aku sangat menyukai ruang keluarga rumah Rio. Didominasi warna terakota yang hangat dan teduh, membuatku ingin berlama-lama di ruangan ini.

Rio mengambil tanganku dan menggenggamnya erat. Kemudian tangan kanannya merogoh saku celana jeansnya dan mengeluarkan cincin polos berwarna silver.

“Untuk kesekian kalinya aku bertanya. Maukah kamu menikah denganku?” tanya Rio dengan wajah bersemu merah. Aku tersenyum melihatnya dan tanpa sadar mengusap kepalanya. Aku ambil cincinnya dan aku pasangkan dijari manis tangan kananku.

“Ukurannya pas. Terima kasih,” ucapku dan kucium pipi kanannya. Rio hanya menatapku tanpa berkata apa-apa. Aku tertawa.

“Jadi, kapan keluarga kamu akan ke rumahku untuk melamar secara resmi?”

“Segera,” jawabnya pendek. Ia tersenyum dengan wajah yang bersemu merah.

***

Yang bisa aku lakukan, hanya tersenyum dan tersenyum sambil membayangkan wajah tampan Rio yang bersemu merah. Keputusanku untuk menikah dengannya mungkin membuatnya bingung. Aku pun bingung dengan keputusanku. Tetapi rasa sayangku pada Rio mengalahkan semuanya. Sebuah tekad mulai menyusup ke jiwaku. Aku ingin menikmati hidupku bersama Rio.

Dua malam setelah aku menerima lamaran Rio, keluarganya datang ke rumah. Secara resmi aku telah dilamar. Secara perlahan aku mulai menghindari Leo walaupun daya tarik seksualnya seperti menarikku ke dalam buaiannya. Tidak peduli betapa rindunya aku pada belaian dan ciuman Leo. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri. Dan sebentar lagi, anak rambutku akan dicukur pertanda aku resmi menjadi Ny. Rizkyo Pradono.

Tanggal sudah ditentukan dan persiapan pernikahan sudah dilaksanakan. Dua minggu lagi aku akan resmi menjadi Ny. Rizkyo Pradono. Jantungku berdebar menunggu hari pernikahanku. Menjelang pernikahanku, aku belum memberitahu Leo mengenai Rio dan pernikahanku. Beberapa kali kami bertemu karena ia menungguku di lobby kantor. Mau tidak mau, aku menemaninya makan malam atau hanya sekedar mendengarnya bercerita mengenai Lola yang tidak ingin melanjutkan hubungan dengannya lagi. Beberapa kali bertemu, beberapa kali pula ia berusaha menciumku dan selalu aku tolak. Aku sudah bertekad untuk menikahi Rio dan menjauhi Leo.

Hingga pada suatu siang, enam hari menjelang pernikahanku. Kami bertemu di rumah salah seorang teman perempuanku yang dekat dengan rumah Leo dan ia mengantarku pulang.

“Kenapa akhir-akhir ini kamu dingin terhadap aku?” tanyanya ketika kami sampai di daerah Permata Hijau.

“Dingin? Biasa saja kok,” jawabku.

“Tumben kamu ke rumah Reggy?” tanyanya lagi. Aku menghela napas panjang.

“Antar undangan,” jawabku pendek. Niatku, aku akan memberitahunya mengenai Rio dan pernikahanku.

“Undangan apa?” tanyanya bingung.

“Undangan pernikahanku,” jawabku menatap Leo.

“Pernikahan?” Ia mengerem mobilnya mendadak. Jantungku berdetak kencang.

“Kamu mau menikah?” tanyanya terbata-bata. Dan aku mengangguk mantap. Entah dari mana datangnya keberanian ini.

“Kenapa tiba-tiba? Bukannya kamu belum punya pacar?”

“Tidak tiba-tiba kok,” kemudian dengan rasa keberanian yang besar, aku bercerita mengenai hubunganku dengan Rio dan lamarannya yang tidak kunjung aku jawab, keraguanku akan suatu pernikahan, dan keputusanku untuk menikah.

“Tapi aku tetap bersyukur kamu hadir mengisi hari-hariku. Aku sangat berterima kasih atas semuanya. Ciuman-ciuman yang kamu berikan. Belaian-belaian lembut untuk anak rambutku. Cerita-cerita kamu mengenai hubungan kamu dan Lola membuatku tersadar kalau aku sangat mencintai Rio dan ingin hidup bersamanya melalui sebuah pernikahan,” jelasku. Wajah Leo berubah menjadi muram.

“Selamat ya. Semoga kamu bahagia,” katanya dengan suaranya yang khas. Berat dan hangat.

***

Besok adalah hari pernikahanku. Hari ini, anak rambutku yang aku sayangi sudah tercukur habis. Tetapi tidak dengan rasa sayangku terhadap Leo. Rasa itu tidak akan habis menurutku. Tapi, aku sudah mengubah rasa sayang yang penuh hasrat menggebu-gebu menjadi satu perasaan yang tulus.

Sayang…sayang…anak rambutku sayang….

Jakarta, 1 Desember 2006


[1] Pariban (bhs batak): anak perempuan dari adik laki-laki ibu yang boleh dinikahi.

2 Responses to “Aku, Rio, Leo, dan Anak Rambutku”

  1. aneze said

    Hola Bunga..
    Mampir lagi nih gua,
    sekedar baca-baca Cerita ini,
    wah ternyata ada “Perselingkuhan”, hihihi, -Danger Zone-
    kaya nonton sinetron bacanye!!! hahaha..
    hati-hati lo bung, karma itu berlaku
    “what goes around comes around”

    Gua mau tanya nih,
    ini tulisan hasil imajinasi, atau
    hasil pengalaman pribadi??!? hehe

    Apapun itu, gua suka ni ceritanye, “badung” lugas, terampil, mantap bung, gua jadi penggemar cerita2 pendek lo deh bung..hahaha..
    Bersulang!!!
    -Aneze-

  2. legendabuana said

    gyahahahhaha thanks aneze,,,mantap ni yah hahahhaha
    imajinasi ateuh yah terinspirasi dari kisah nyata dikiiiit hahahahaha
    thanks yah bro,,,

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>