Kisah Caramel
Posted by legendabuana on June 11, 2008
Akhirnya setelah hampir 7 minggu menjelajah hutan dan gunung di Kalimantan, sampai juga aku di Jakarta. Dan hampir 7 minggu itu pula aku tidak menghubungi Hans sama sekali. Kekasihku itu kurang menyukai kegiatanku yang berkaitan dengan naik gunung dan menjelajah hutan atau gunung. Menurutnya terlalu berbahaya bagi wanita. Sebelum aku berangkat pun kami sempat bertengkar dan Hans pun menyerah. Ia membiarkan aku pergi. Aku tidak menyukai Hans yang begitu keras kepala melarangku mengikuti kegiatan-kegiatan itu. Tetapi, aku pun begitu keras kepala menjalani hal yang aku suka sehingga terkesan tak mempedulikan dirinya. Aku tidak terlalu peduli dengan perasaannya padahal ia begitu baik mengkhawatirkanku. Kalau dipikir-pikir sepertinya ia yang selalu memperhatikanku dan mengucapkan kata-kata sayang. Lalu sebenarnya apa arti Hans bagiku? Terlepas dari sikapnya yang seperti itu, aku sayang dia tapi aku terlalu gengsi untuk mengakuinya padahal ia kekasihku.
Rinai air hujan turun membasahi bumi. Tanah pun mengeluarkan bau yang sedap karena sentuhan hujan. Wangi segar pepohonan memenuhi ruang jiwa serasa ada semangat baru yang muncul didalam diri. Angin bertiup kencang membuat tubuh menggigil kedinginan.
“Cara, kamu ngapain disitu?” tegurku ketika melihat gadis manis yang kupanggil Cara termenung di bangku biru dengan tangan yang terjulur ke arah hujan. Gadis itu menoleh melihatku, kemudian tersenyum dan berjalan ke arah klub jurnalistik dan sastra yang pernah dipimpin olehnya satu tahun lalu. Ada yang berbeda dengan senyumannya. Dan matanya yang biasanya berbinar terlihat redup. Tak ambil peduli karena aku baru sampai di Jakarta, tapi tak urung tanda tanya besar muncul dibenakku, “Apa karena Caya?”
***
From: Caramel
To: Hazel
Sent: Sunday, January 8, 2006 12:09 AM
Subject: Tentang Cahayaku
Hazel, aku pikir semuanya baik-baik saja. Aku tidak pernah menduga hal ini akan terjadi. Semua begitu tiba-tiba hingga membuatku melayang. Setelah lebih dekat lagi, entah kenapa aku merasa asing padahal bisa dibilang aku-lah gadis yang paling dekat dengannya. Dia tidak pernah memberitahu apa yang ada di hati dan pikirannya. Aku tahu semua cerita, semua kisah pasti memiliki akhir. Setiap gadis pasti tidak pernah tahu akhir dari kisahnya bahagia atau tidak sebelum ia menjalaninya, tetapi aku sudah bisa meraba bahwa kisahku akan berakhir dengan uraian air mata. Dan yang pasti aku tidak pernah tahu kapan kisahku akan berakhir. Walaupun perih aku harus tetap menjalaninya karena aku ingin tahu kapan kisahku berakhir dan benarkah akan berakhir dengan air mata yang membasahi pipiku?
Email yang dikirim oleh Cara membuatku khawatir akan keadaan dirinya. Hari-hari belakangan ini Cara terlihat lebih murung. Padahal harusnya ia berbahagia karena perasaannya kepada Caya berbalas setelah satu tahun mereka bersahabat dan memendam rasa itu. Hampir 6 bulan mereka terlihat akrab dan sangat dekat. Dimana ada Cara pasti ada Caya. Apa yang telah terjadi hingga membuat Cara terlihat begitu murung?
Kulangkahkan kakiku menuju jendela kamar setelah aku matikan komputer di meja belajarku. Sebelum kututup jendela, kulihat langit malam yang begitu mendung hingga tak terlihat setitik cahaya bintang. Tak sabar aku menunggu kelam berganti terang agar segera aku menjemput Cara di rumahnya. Bersama menuju ke kampus dan mendengarkan keluh kesahnya.
***
“Selamat pagi, Cara,” tegurku begitu ia naik ke mobilku dengan harapan dia akan berceloteh riang. Tak seperti biasanya, hari ini ia hanya tersenyum.
“Kamu kenapa? Cerita dong ada apa? Gila ya aku baru sampai Jakarta 1 minggu lalu dan kamu masih belum kasih tahu ada gosip apa di kampus dan terlebih lagi cerita kamu tentang Caya,” cerocosku menghilangkan keheningan diantara kami. Dan Cara masih memandang keluar jendela mobilku.
“Babe, nanti siang nggak ada kuliah kan? Ke Cozy yuk, pengen coklat panas nih maklum di gunung aku cuma minum air putih doang. Lagipula udara hari ini dingin banget jadi pengen coklat panas-nya Cozy. Mau kan?” cerocosku lagi.
“Boleh, aku juga pusing nih pengen butter-caramel hangat.” Akhirnya keluar juga beberapa patah kata dari mulut sahabatku itu. Aku tahu kalau dia paling suka ke Cozy, café di belakang kampus yang suasananya sangat bersahabat dan hangat selain live music yang terus-menerus dimainkan dari pukul 11 siang hingga 11 malam.
Saat mengikuti kuliah hari ini, rasanya waktu berjalan amat lambat. Mungkin karena aku ingin kuliah ini segera usai sehingga aku bisa segera ke Cozy dan mendengar ocehan sahabatku itu. Sudah lama aku tak mendengar kicauannya.
Jam di tanganku akhirnya menunjukkan pukul 13.30. Dan itu artinya, kuliah untuk hari ini selesai sudah. Dosen belum keluar kelas tetapi aku sudah berlari keluar. Setengah berlari, aku menuju tangga keluar gedung Y dan kubelokkan badanku ke arah kiri. Sambil menghindar dari gerimis siang itu, aku menyebrang jalan menuju Cozy.
“Duh maaf ya Ra. Kamu nunggu lama ya?” tanyaku begitu melihat Cara di sofa sebelah kanan pintu masuk.
“Nggak kok. Aku sudah pesanin coklat hangat buat kamu.” Senyumnya mengembang dan suaranya sudah seperti biasa, bernada riang. Di hadapannya sudah ada butter-caramel yang isinya tinggal separo serasa menunjukkan bahwa peminumnya sudah datang sejak lama.
“Thanks. Wah, aku kangen banget pengen kesini setelah balik dari Kalimantan. Belum sempat karena kan aku harus bikin laporan perjalananku,” ocehku dan Cara hanya tersenyum.
“Enak ya. Kalau ada waktu kita traveling berdua yuk? Aku pengen refreshing nih. Jenuh di Jakarta.” Mulutnya menguncup seakan-akan mengeluhkan dunia padahal dunia terlalu indah untuk dikeluhkan.
“Ra, Caya kemana? Tadi kok nggak kuliah? Harusnya kan kuliah bareng aku jam 11 tadi,” tanyaku sambil mengaduk-aduk coklat hangat yang baru datang dan gadis manis yang aku tanya hanya menunduk sambil menghirup minumannya.
“Kalau boleh tahu kalian ada masalah?” tanyaku lagi dan kembali mata Cara meredup. Ia pun menggelengkan kepala.
“Masalah? Kamu sudah bisa menebak kan masalah aku dan Caya apa?” Cara malah balik bertanya dan membuatku mereka-reka masalah yang terjadi diantara mereka.
“Dia bilang sudah nggak mungkin untuk diteruskan karena kita berbeda tapi dia juga bilang kalau perasaan dia ke aku nggak akan berubah.” Kalimat itu dikeluarkan Cara dengan suara tertahan.
“Bohong. Jadi, putus nih?” Tanpa sadar aku berucap dan Cara menganggukkan kepalanya.
“Masa aku bohong sih? Baru tadi aku bicara dengan dia sebelum kamu datang.” Cara tertawa kering seakan kejadian yang akan ia ceritakan merupakan kebodohannya.
“Ternyata kisahku berakhir hari ini dan berakhir dengan menyedihkan tetapi aku nggak berurai air mata kok karena dia masih sayang aku. Hanya status hubungannya saja yang berubah.” Cara tersenyum manis dan dimatanya terlihat rasa tulus.
***
Kulayangkan pandanganku ke langit kelam tak berbintang. Mendung masih menggelayut bukan pertanda akan turun hujan. Seperti wajah Caramel tadi siang, muram tetapi bukan berarti air mata akan mengalir di pipinya. Entah apakah malam ini ia sedang menangisi kisah cintanya yang telah berakhir dengan akhir yang menyedihkan?
Masih teringat akan email Cara yang dikirimkan tadi malam. Mungkinkah sebenarnya ia sudah tahu bahwa kisah cintanya berakhir hari ini? Kurasa ia tahu pasti apa yang ada di pikiran Caya. Keputusan yang diambil oleh Caya mungkin berat bagi mereka berdua. Hanya karena prinsip yang berbeda maka kasih yang ada diantara mereka pun tertahan oleh prinsip tersebut. Dan yang dapat mereka lakukan hanya menatap kisah lalu mereka sebagai kenangan yang indah. Beruntunglah pasangan-pasangan yang tidak memiliki perbedaan yang mendasar.
Satu hal yang membuatku tersadar, aku dan Hans, walaupun sering bertengkar mengenai minatku tetapi tak ada satu pun perbedaan yang dapat memisahkan kami. Entah mengapa malam ini aku begitu melankolis, semuanya membuatku tersadar bahwa aku menyayangi Hans lebih besar dari sebelumnya dan aku melupakan gengsiku untuk mengakui bahwa aku benar-benar menyayanginya. Tanpa sadar aku sudah mengirimkan pesan manis yang tidak pernah kukirimkan sebelumnya ke telepon seluler Hans.
Hans, aku sudah pulang…
Aku kangen kamu…
Aku sayang kamu…
XOXO
From: Hazel
11.36 pm 9-JAN-2006
Jakarta, 10 Agustus 2006