Hidup Terlalu Indah Untuk Dikeluhkan
Posted by legendabuana on June 11, 2008
Kelamnya malam mulai menelan lembayung senja. Perlahan warna hitam itu memenuhi angkasa. Kerlap-kerlip cahaya mulai menerangi sudut-sudut kota. Angin malam bertiup lembut membelai wajah seorang gadis yang berjalan di trotoar protokol kota Jakarta. Ia menengadahkan kepalanya ke atas. Rembulan malu-malu menampakkan wujudnya di balik awan yang terlihat seperti kabut tipis di langit gelap tak berbintang. Bagai perasaan yang dipendamnya.
Memaknai segalanya dalam dada yang berkecamuk membuatnya lelah. Tapi hal itu tak tampak di wajah manisnya. Gadis itu terlihat kuat dengan tulang-tulang yang besar dan wajah manis yang tegar. Tetapi di dalam hati, sesungguhnya ia sangat lemah. Apalagi bila berkaitan dengan perasaan. Ia bisa menjadi sangat melankolis ketika malam menjelang.
Gadis itu melangkahkan kaki memasuki sebuah warung kopi pinggir jalan dimana terdapat bangku-bangku panjang yang diduduki sekitar 4 laki-laki dan 2 perempuan. Gadis itu tersenyum melihat teman-temannya yang sedang mengobrol dan tertawa.
“Hanya orang-orang bodoh yang lupa bahwa hidup ini sebenarnya terlalu indah untuk dikeluhkan,” kata laki-laki yang duduk paling ujung dengan rokok berada di sudut bibirnya. Ia tertawa tertahan membuat perutnya yang gendut berguncang hebat.
“Hidup terlalu indah untuk dikeluhkan? Baru saja aku mengeluhkan hidupku. Lelah dengan pekerjaanku, muak dengan keidealisan ayahku yang membuat suasana di rumah menjadi kurang nyaman, dan masalah perasaan yang membuatku galau,” kata gadis yang datang tadi. Tatapannya yang kosong tertuju pada jalan raya di depan warung kopi.
Jalan raya itu penuh dengan kendaraan yang berlalu lalang. Jakarta pada malam hari tidak pernah sepi. Bahkan ada orang-orang yang memulai hidupnya ketika malam menjelang. Pekerja-pekerja malam yang terkadang dinilai negatif oleh masyarakat padahal adapula pekerja-pekerja malam yang bekerja secara halal.
“Kenapa harus mengeluh? Aku tahu, karena kamu merasa hidupmu tidak seperti apa yang kamu inginkan. Benar kan?” tanya laki-laki yang duduk tepat di hadapannya.
“Ya, memang tidak semua yang aku inginkan bisa menjadi kenyataan. Tapi menurutku, selama aku berusaha menginginkan hal itu dan hal itu menjadi suatu harapan, untuk itulah aku hidup. Karena harapan itu aku masih tetap bertahan hidup,” jelas gadis itu. Matanya tak lagi sendu tapi menyala.
“Kamu lelah dengan pekerjaanmu? Bukannya kamu sangat menyukai pekerjaanmu? Sebagai seorang jurnalis sekaligus penulis, hobi yang menjadi pekerjaan itu sangat menyenangkan, bukan?” ujar perempuan yang duduk di sampingnya. Perempuan itu adalah senior 2 tingkat di atasnya ketika kuliah. Ia sangat menyukai extreme sport seperti climbing dan ia sangat menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan hobinya.
“Mengenai keidealisan ayah kamu, saat ini pun kamu mengalami dilema kan? Antara jurnalis sebagai wujud dari realita kamu dan penulis yang merupakan wujud dari keidealisan kamu,” kata perempuan itu lagi. Tepat sasaran, gadis itu hanya mendesah. Apa yang dikatakan seniornya itu tepat dengan apa yang ia rasakan. Rasa-rasanya ia mengerti apa yang dirasakan ayahnya.
“Kalau masalah perasaan, mungkin Richard Ashcroft pernah bilang ‘there are so many things I can do, just like fallin in love with u’ tapi menurut aku ‘there are so many things we can do, not only fallin in love’ ya nggak?” celetuk laki-laki yang membuka pembicaraan mengenai hidup ini sebenarnya terlalu indah untuk dikeluhkan. Gadis itu tersenyum mendengar celetukan temannya yang bertubuh subur.
Kekosongan yang ia rasakan sangat dingin tadi tiba-tiba berubah menjadi kehangatan. Banyak hal yang ia ingin lakukan sebagai seorang jurnalis dan penulis, keidealisan ayahnya pun seharusnya tak diambil pusing, dan masalah perasaan cinta tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Rasa hangat dan semangat menjalani sesuatu mulai tumbuh di hatinya. Ia tersenyum mengingat kebodohannya tadi. Bersama teman-temannya, ia merasakan bahwa hidup memang terlalu indah untuk dikeluhkan.
Jakarta, 14 Desember 2006
Modified: Jakarta, 22 Maret 2007
OrionKnight said
Wow, this is one interesting point of view. I mean not about the life, but about the way you tell the story. Hahaha. Keep on writing.
And yes, I do agree on the point that in this life, you must do what you like, otherwise you’ll have a wrong perspective on how beautiful life is.
Saying that, I’m on that quest as well. Ciao.
aneze said
-PETUAH BAPA-
Tinggalkan segala Sesal
Lepaskan semua Kecewa
Bingkai semua di relung Cinta
Kelak jadi Guru Bijaksana
“Sulit” bukan tak bisa
“Mustahil” bukan tak mungkin
Tetap tegakkan Kepala
Meski penuh tatap curiga
Tetap busungkan dada
Walau ditampar Sumpah-serapah
Jikalau tiba di puncak cita
Jangan lupakan comberan derita
Hukum Mati rasa sombong
Hormati sesama
“Ora Et LaBora”
-Aneze-
“mengeluh tidak menyelesaikan masalah”
hehe…bung… ko bisa panjang bgt nulisnye
anyway tulisan gua ini menurut lo kurang pas,
tapi pas klo menurut gua…haha…
keep on writing…cheers…
legendabuana said
bang bayu thanks 4 komen,,,
aneze juga makasih dah komen hehhehehhe
tulisan lu cakep nez cakep banget,,,
thanks 4 visiting my blog,,,
muahmuah
fani said
iya bung,,setuju aja deh…hehe…tapi seru bung blog lo,,,kalo gw seeeh,,berhubung tidak terlalu berkomitmen jadinya pasti bolong,,hehe…terus kalo udah ketemu layar plus keyboard tiba2 otak gw blanky,,hihihi…