Legendabuana’s Weblog

hanya sekedar kata dan kalimat yang merupakan buah pikiranku

Archive for June 11th, 2008

Hidup Terlalu Indah Untuk Dikeluhkan

Posted by legendabuana on June 11, 2008

Kelamnya malam mulai menelan lembayung senja. Perlahan warna hitam itu memenuhi angkasa. Kerlap-kerlip cahaya mulai menerangi sudut-sudut kota. Angin malam bertiup lembut membelai wajah seorang gadis yang berjalan di trotoar protokol kota Jakarta. Ia menengadahkan kepalanya ke atas. Rembulan malu-malu menampakkan wujudnya di balik awan yang terlihat seperti kabut tipis di langit gelap tak berbintang. Bagai perasaan yang dipendamnya.

Memaknai segalanya dalam dada yang berkecamuk membuatnya lelah. Tapi hal itu tak tampak di wajah manisnya. Gadis itu terlihat kuat dengan tulang-tulang yang besar dan wajah manis yang tegar. Tetapi di dalam hati, sesungguhnya ia sangat lemah. Apalagi bila berkaitan dengan perasaan. Ia bisa menjadi sangat melankolis ketika malam menjelang.

Gadis itu melangkahkan kaki memasuki sebuah warung kopi pinggir jalan dimana terdapat bangku-bangku panjang yang diduduki sekitar 4 laki-laki dan 2 perempuan. Gadis itu tersenyum melihat teman-temannya yang sedang mengobrol dan tertawa.

“Hanya orang-orang bodoh yang lupa bahwa hidup ini sebenarnya terlalu indah untuk dikeluhkan,” kata laki-laki yang duduk paling ujung dengan rokok berada di sudut bibirnya. Ia tertawa tertahan membuat perutnya yang gendut berguncang hebat.

“Hidup terlalu indah untuk dikeluhkan? Baru saja aku mengeluhkan hidupku. Lelah dengan pekerjaanku, muak dengan keidealisan ayahku yang membuat suasana di rumah menjadi kurang nyaman, dan masalah perasaan yang membuatku galau,” kata gadis yang datang tadi. Tatapannya yang kosong tertuju pada jalan raya di depan warung kopi.

Jalan raya itu penuh dengan kendaraan yang berlalu lalang. Jakarta pada malam hari tidak pernah sepi. Bahkan ada orang-orang yang memulai hidupnya ketika malam menjelang. Pekerja-pekerja malam yang terkadang dinilai negatif oleh masyarakat padahal adapula pekerja-pekerja malam yang bekerja secara halal.

“Kenapa harus mengeluh? Aku tahu, karena kamu merasa hidupmu tidak seperti apa yang kamu inginkan. Benar kan?” tanya laki-laki yang duduk tepat di hadapannya.

“Ya, memang tidak semua yang aku inginkan bisa menjadi kenyataan. Tapi menurutku, selama aku berusaha menginginkan hal itu dan hal itu menjadi suatu harapan, untuk itulah aku hidup. Karena harapan itu aku masih tetap bertahan hidup,” jelas gadis itu. Matanya tak lagi sendu tapi menyala.

“Kamu lelah dengan pekerjaanmu? Bukannya kamu sangat menyukai pekerjaanmu? Sebagai seorang jurnalis sekaligus penulis, hobi yang menjadi pekerjaan itu sangat menyenangkan, bukan?” ujar perempuan yang duduk di sampingnya. Perempuan itu adalah senior 2 tingkat di atasnya ketika kuliah. Ia sangat menyukai extreme sport seperti climbing dan ia sangat menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan hobinya.

“Mengenai keidealisan ayah kamu, saat ini pun kamu mengalami dilema kan? Antara jurnalis sebagai wujud dari realita kamu dan penulis yang merupakan wujud dari keidealisan kamu,” kata perempuan itu lagi. Tepat sasaran, gadis itu hanya mendesah. Apa yang dikatakan seniornya itu tepat dengan apa yang ia rasakan. Rasa-rasanya ia mengerti apa yang dirasakan ayahnya.

“Kalau masalah perasaan, mungkin Richard Ashcroft pernah bilang there are so many things I can do, just like fallin in love with u’ tapi menurut aku ‘there are so many things we can do, not only fallin in love’ ya nggak?” celetuk laki-laki yang membuka pembicaraan mengenai hidup ini sebenarnya terlalu indah untuk dikeluhkan. Gadis itu tersenyum mendengar celetukan temannya yang bertubuh subur.

Kekosongan yang ia rasakan sangat dingin tadi tiba-tiba berubah menjadi kehangatan. Banyak hal yang ia ingin lakukan sebagai seorang jurnalis dan penulis, keidealisan ayahnya pun seharusnya tak diambil pusing, dan masalah perasaan cinta tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Rasa hangat dan semangat menjalani sesuatu mulai tumbuh di hatinya. Ia tersenyum mengingat kebodohannya tadi. Bersama teman-temannya, ia merasakan bahwa hidup memang terlalu indah untuk dikeluhkan.

Jakarta, 14 Desember 2006

Modified: Jakarta, 22 Maret 2007

Posted in idealisme | Tagged: | 4 Comments »

Kisah Caramel

Posted by legendabuana on June 11, 2008

Akhirnya setelah hampir 7 minggu menjelajah hutan dan gunung di Kalimantan, sampai juga aku di Jakarta. Dan hampir 7 minggu itu pula aku tidak menghubungi Hans sama sekali. Kekasihku itu kurang menyukai kegiatanku yang berkaitan dengan naik gunung dan menjelajah hutan atau gunung. Menurutnya terlalu berbahaya bagi wanita. Sebelum aku berangkat pun kami sempat bertengkar dan Hans pun menyerah. Ia membiarkan aku pergi. Aku tidak menyukai Hans yang begitu keras kepala melarangku mengikuti kegiatan-kegiatan itu. Tetapi, aku pun begitu keras kepala menjalani hal yang aku suka sehingga terkesan tak mempedulikan dirinya. Aku tidak terlalu peduli dengan perasaannya padahal ia begitu baik mengkhawatirkanku. Kalau dipikir-pikir sepertinya ia yang selalu memperhatikanku dan mengucapkan kata-kata sayang. Lalu sebenarnya apa arti Hans bagiku? Terlepas dari sikapnya yang seperti itu, aku sayang dia tapi aku terlalu gengsi untuk mengakuinya padahal ia kekasihku.

Rinai air hujan turun membasahi bumi. Tanah pun mengeluarkan bau yang sedap karena sentuhan hujan. Wangi segar pepohonan memenuhi ruang jiwa serasa ada semangat baru yang muncul didalam diri. Angin bertiup kencang membuat tubuh menggigil kedinginan.

“Cara, kamu ngapain disitu?” tegurku ketika melihat gadis manis yang kupanggil Cara termenung di bangku biru dengan tangan yang terjulur ke arah hujan. Gadis itu menoleh melihatku, kemudian tersenyum dan berjalan ke arah klub jurnalistik dan sastra yang pernah dipimpin olehnya satu tahun lalu. Ada yang berbeda dengan senyumannya. Dan matanya yang biasanya berbinar terlihat redup. Tak ambil peduli karena aku baru sampai di Jakarta, tapi tak urung tanda tanya besar muncul dibenakku, “Apa karena Caya?”

***

From: Caramel

To: Hazel

Sent: Sunday, January 8, 2006 12:09 AM

Subject: Tentang Cahayaku

Hazel, aku pikir semuanya baik-baik saja. Aku tidak pernah menduga hal ini akan terjadi. Semua begitu tiba-tiba hingga membuatku melayang. Setelah lebih dekat lagi, entah kenapa aku merasa asing padahal bisa dibilang aku-lah gadis yang paling dekat dengannya. Dia tidak pernah memberitahu apa yang ada di hati dan pikirannya. Aku tahu semua cerita, semua kisah pasti memiliki akhir. Setiap gadis pasti tidak pernah tahu akhir dari kisahnya bahagia atau tidak sebelum ia menjalaninya, tetapi aku sudah bisa meraba bahwa kisahku akan berakhir dengan uraian air mata. Dan yang pasti aku tidak pernah tahu kapan kisahku akan berakhir. Walaupun perih aku harus tetap menjalaninya karena aku ingin tahu kapan kisahku berakhir dan benarkah akan berakhir dengan air mata yang membasahi pipiku?

Email yang dikirim oleh Cara membuatku khawatir akan keadaan dirinya. Hari-hari belakangan ini Cara terlihat lebih murung. Padahal harusnya ia berbahagia karena perasaannya kepada Caya berbalas setelah satu tahun mereka bersahabat dan memendam rasa itu. Hampir 6 bulan mereka terlihat akrab dan sangat dekat. Dimana ada Cara pasti ada Caya. Apa yang telah terjadi hingga membuat Cara terlihat begitu murung?

Kulangkahkan kakiku menuju jendela kamar setelah aku matikan komputer di meja belajarku. Sebelum kututup jendela, kulihat langit malam yang begitu mendung hingga tak terlihat setitik cahaya bintang. Tak sabar aku menunggu kelam berganti terang agar segera aku menjemput Cara di rumahnya. Bersama menuju ke kampus dan mendengarkan keluh kesahnya.

***

“Selamat pagi, Cara,” tegurku begitu ia naik ke mobilku dengan harapan dia akan berceloteh riang. Tak seperti biasanya, hari ini ia hanya tersenyum.

“Kamu kenapa? Cerita dong ada apa? Gila ya aku baru sampai Jakarta 1 minggu lalu dan kamu masih belum kasih tahu ada gosip apa di kampus dan terlebih lagi cerita kamu tentang Caya,” cerocosku menghilangkan keheningan diantara kami. Dan Cara masih memandang keluar jendela mobilku.

Babe, nanti siang nggak ada kuliah kan? Ke Cozy yuk, pengen coklat panas nih maklum di gunung aku cuma minum air putih doang. Lagipula udara hari ini dingin banget jadi pengen coklat panas-nya Cozy. Mau kan?” cerocosku lagi.

“Boleh, aku juga pusing nih pengen butter-caramel hangat.” Akhirnya keluar juga beberapa patah kata dari mulut sahabatku itu. Aku tahu kalau dia paling suka ke Cozy, café di belakang kampus yang suasananya sangat bersahabat dan hangat selain live music yang terus-menerus dimainkan dari pukul 11 siang hingga 11 malam.

Saat mengikuti kuliah hari ini, rasanya waktu berjalan amat lambat. Mungkin karena aku ingin kuliah ini segera usai sehingga aku bisa segera ke Cozy dan mendengar ocehan sahabatku itu. Sudah lama aku tak mendengar kicauannya.

Jam di tanganku akhirnya menunjukkan pukul 13.30. Dan itu artinya, kuliah untuk hari ini selesai sudah. Dosen belum keluar kelas tetapi aku sudah berlari keluar. Setengah berlari, aku menuju tangga keluar gedung Y dan kubelokkan badanku ke arah kiri. Sambil menghindar dari gerimis siang itu, aku menyebrang jalan menuju Cozy.

“Duh maaf ya Ra. Kamu nunggu lama ya?” tanyaku begitu melihat Cara di sofa sebelah kanan pintu masuk.

“Nggak kok. Aku sudah pesanin coklat hangat buat kamu.” Senyumnya mengembang dan suaranya sudah seperti biasa, bernada riang. Di hadapannya sudah ada butter-caramel yang isinya tinggal separo serasa menunjukkan bahwa peminumnya sudah datang sejak lama.

“Thanks. Wah, aku kangen banget pengen kesini setelah balik dari Kalimantan. Belum sempat karena kan aku harus bikin laporan perjalananku,” ocehku dan Cara hanya tersenyum.

“Enak ya. Kalau ada waktu kita traveling berdua yuk? Aku pengen refreshing nih. Jenuh di Jakarta.” Mulutnya menguncup seakan-akan mengeluhkan dunia padahal dunia terlalu indah untuk dikeluhkan.

“Ra, Caya kemana? Tadi kok nggak kuliah? Harusnya kan kuliah bareng aku jam 11 tadi,” tanyaku sambil mengaduk-aduk coklat hangat yang baru datang dan gadis manis yang aku tanya hanya menunduk sambil menghirup minumannya.

“Kalau boleh tahu kalian ada masalah?” tanyaku lagi dan kembali mata Cara meredup. Ia pun menggelengkan kepala.

“Masalah? Kamu sudah bisa menebak kan masalah aku dan Caya apa?” Cara malah balik bertanya dan membuatku mereka-reka masalah yang terjadi diantara mereka.

“Dia bilang sudah nggak mungkin untuk diteruskan karena kita berbeda tapi dia juga bilang kalau perasaan dia ke aku nggak akan berubah.” Kalimat itu dikeluarkan Cara dengan suara tertahan.

“Bohong. Jadi, putus nih?” Tanpa sadar aku berucap dan Cara menganggukkan kepalanya.

“Masa aku bohong sih? Baru tadi aku bicara dengan dia sebelum kamu datang.” Cara tertawa kering seakan kejadian yang akan ia ceritakan merupakan kebodohannya.

“Ternyata kisahku berakhir hari ini dan berakhir dengan menyedihkan tetapi aku nggak berurai air mata kok karena dia masih sayang aku. Hanya status hubungannya saja yang berubah.” Cara tersenyum manis dan dimatanya terlihat rasa tulus.

***

Kulayangkan pandanganku ke langit kelam tak berbintang. Mendung masih menggelayut bukan pertanda akan turun hujan. Seperti wajah Caramel tadi siang, muram tetapi bukan berarti air mata akan mengalir di pipinya. Entah apakah malam ini ia sedang menangisi kisah cintanya yang telah berakhir dengan akhir yang menyedihkan?

Masih teringat akan email Cara yang dikirimkan tadi malam. Mungkinkah sebenarnya ia sudah tahu bahwa kisah cintanya berakhir hari ini? Kurasa ia tahu pasti apa yang ada di pikiran Caya. Keputusan yang diambil oleh Caya mungkin berat bagi mereka berdua. Hanya karena prinsip yang berbeda maka kasih yang ada diantara mereka pun tertahan oleh prinsip tersebut. Dan yang dapat mereka lakukan hanya menatap kisah lalu mereka sebagai kenangan yang indah. Beruntunglah pasangan-pasangan yang tidak memiliki perbedaan yang mendasar.

Satu hal yang membuatku tersadar, aku dan Hans, walaupun sering bertengkar mengenai minatku tetapi tak ada satu pun perbedaan yang dapat memisahkan kami. Entah mengapa malam ini aku begitu melankolis, semuanya membuatku tersadar bahwa aku menyayangi Hans lebih besar dari sebelumnya dan aku melupakan gengsiku untuk mengakui bahwa aku benar-benar menyayanginya. Tanpa sadar aku sudah mengirimkan pesan manis yang tidak pernah kukirimkan sebelumnya ke telepon seluler Hans.

Hans, aku sudah pulang…

Aku kangen kamu…

Aku sayang kamu…

XOXO

From: Hazel

11.36 pm 9-JAN-2006

Jakarta, 10 Agustus 2006

Posted in idealisme | Tagged: | Leave a Comment »

Tidak Selamanya Hujan Menyebalkan

Posted by legendabuana on June 11, 2008

Hujan lagi? Menyebalkan. Bagiku, selamanya hujan adalah hal yang menyebalkan. Duh sebentar lagi jalan-jalan pasti macet. Kalau tidak salah hitung, sudah 6 kali hujan turun sepanjang hari ini.

“De, sepertinya tambah deras deh.” Seru Fanie, sahabatku yang duduk di samping kiriku di dalam sedan hitam kesayanganku ini. “Makin dingin pula, nggak usah pakai AC ya?” Sambungnya lagi.

“Nggak usah pakai AC? Kan jadi pengap, Fan.” Sewotku. Betul dugaanku. Dalam waktu hitungan menit, mobil-mobil di sekitarku berjalan perlahan. Hujan turun sangat deras.

“Terus gimana dong? Dingin nih, aku lupa bawa sweater.” Serunya, kemudian ia terdiam beberapa saat dan berkata, “eh, kita mampir ke Life aja. Ngopi-ngopi sambil baca buku asyik juga tuh.”

“Life?? Apaan tuh?” Tanyaku menengok sekilas ke Fanie dengan mengerutkan keningku dan kembali menatap jalan di depanku sambil sesekali menginjak rem karena kendaraan di depanku sekali-sekali berhenti.

“Itu lhoh, library-café yang baru dibuka 2 minggu lalu di dekat rumah sakit ibu-anak. Ada di kiri jalan di depan, sebentar lagi kita sampai kok. Untung belum kelewatan.” Oceh Fanie. Library-café? Boleh juga deh, nongkrong dulu. Masih jam 7, belum terlalu malam.

“Ya udah, kasih tahu gue harus belok kapan.” Sahutku.

***

Lima belas menit kemudian, Fanie dan aku sudah berada di dalam café yang di bagian dalamnya terdapat berpuluh-puluh rak buku. Kami mengambil tempat duduk dekat dengan jendela untuk melihat hujan turun. Caramel panas milikku mengepul dan mengeluarkan bau yang harum dihadapanku sedangkan Espresso milik Fanie mengeluarkan keharuman biji kopi yang membangkitkan semangat.

“Kamu mau minjem buku? Aku udah jadi member disini.” Kata Fanie.

Member Library ya?” Tanyaku disertai dengan anggukan Fanie. “Boleh juga. Bayar berapa? Buku-bukunya lengkap?” Sambungku.

“Gratis. Buku-bukunya lumayan lengkap. Buku yang kamu cari kemarin di Gramedia apa? Anna Karenin ya? Yang karangan Leo-Leo itu ada kok. Komik Topeng Kaca yang kamu suka, lengkap.” Jawab Fanie layaknya tim promosi Library-Café ini. Aku tertawa geli melihat tingkah sahabatku. Aku hirup Caramel-ku sambil melayangkan pandangan ke luar jendela. Hujan masih terus turun, tambah lebat malah. Aku benci hujan. Mungkin karena pertama kali aku melihat kekasihku, Ruben mencium gadis lain ketika hujan turun. Kemudian, ketika akhirnya aku putus dengan Ruben hujan turun pula. Tidak ada hubungannya sih, tetapi hujan selalu membuatku menjadi seorang yang melankolis.

“Bengong terus. Kenapa? Masih mikirin Ruben ya? He’s jerk. Udahlah fuggedabout him okay? Oh ya, pokoknya kamu harus jadi member disini karena owner-nya lucu banget.” Kata Fanie menggebu-gebu yang memecah lamunanku.

“Kata siapa owner-nya lucu?” Tanyaku geli melihat wajah Fanie.

“Kataku. Baru saja aku ngomong hehehe… Mba Fiena pernah kesini bareng teman-temannya dan dia bilang owner-nya lucu banget masih muda pula.” Fanie tersenyum simpul. Oh, pantesan Fanie jadi member, ternyata ada niat lain hehehehe….

“Eh, mas…mas…daftar jadi member dong.” Teriak Fanie tiba-tiba pada seorang laki-laki yang memegang kertas-kertas tidak jauh dari tempat kami duduk. Laki-laki itu tersenyum dan menghampiri kami.

“Ya, mba? Mau jadi member? Berdua? Bawa foto? Kalau nggak bawa, menyusul nggak apa-apa kok.” Tanya laki-laki itu ramah dan ia pun duduk di puff di samping kiriku dan samping kanan Fanie.

“Nggak, sendiri eh aku sih udah, temanku yang mau jadi member.” Jawab Fanie, mukanya bersemu merah pertanda dia gugup. Pasti karena laki-laki ini. Memang menarik. Kulitnya bersih, matanya tajam, badannya besar, tangannya juga besar, hidungnya mancung, rambut cepak, alisnya tebal, lekuk bibir yang indah. Struktur wajah yang sempurna. Padahal ia bisa jadi model tapi kok malah jadi pelayan disini? Aah itu kan jalan yang sudah diatur Tuhan. Hemm…sepertinya aku akan sering datang nih kalau pelayannya dia.

“Aauw!! Gila, kira-kira dong kalau injak kakiku. Sakit tau!” Teriakku karena kaki kananku diinjak Fanie.

“Maaf, De hehehe…” Fanie menunjuk formulir dihadapanku. Pelayan itu cekikikan. Menyebalkan. Tapi kok makin cakep ya?

“Pinjem pulpen, Fan.” Pintaku. Sebelum Fanie mengambil pulpen di tasnya, pelayan itu sudah mengulurkan pulpennya. Aku mengambilnya dan sedikit menyentuh tangannya. Hangat.

“Te…terima kasih.” Kataku sambil tersenyum. Duh berengsek, kenapa aku jadi gugup begini?

“Diisi saja dulu. Saya tinggal, nanti akan ada yang mengambil.” Katanya sambil berdiri.

Tidak lama, aku pun sudah sibuk mengisi formulir tersebut sambil mendengarkan ocehan Fanie.

“Ya ampun tuh cowok ganteng banget ya. Tapi sayang pelayan.” Kata Fanie sedikit meremehkan pekerjaannya.

“Memang kenapa Fan kalau dia pelayan? Mungkin saja dia mahasiswa yang part-time, seperti Ega yang tajir banget tapi part-time jadi pelayan di Starbucks.” Kataku masih konsen mengisi formulir.

“Formulirnya, sudah mba?” Tanya seorang perempuan, membuatku menengok ke arahnya.

“Sebentar lagi ya, mba.” Sahutku.

“Baik, saya tunggu.” Perempuan itu menunggu sambil berdiri. Aneh, pelayan yang tampan tadi menunggu sambil duduk. Tak ambil pusing, buru-buru aku selesaikan mengisi formulir yang diakhiri dengan tanda tanganku dan aku serahkan fotoku.

“Ditunggu 30 menit untuk mencetak kartunya ya, Mba.” Kata perempuan itu yang disertai dengan anggukanku.

***

Sepanjang hari hujan terus, rasanya aku ingin pulang dan tidur di ranjangku yang empuk, di bawah selimutku yang hangat. Tidak…tidak….kalau aku pulang pasti akan sendiri di kamar dan aku akan kembali mengingat Ruben. Tidak, aku tidak mau pulang. Pfiuh…aku lirik jam tanganku, 10 menit lagi kuliah siang ini selesai.

“De, ke Life yuk?” Bisik Fanie pelan takut terdengar oleh dosen yang berdiri di hadapannya. Aku pun mengangguk dan terbayang dibenakku pelayan tampan Life. Aku tersenyum sendiri. Beberapa hari lalu ketika aku meminjam novel, pelayan tampan itu tersenyum padaku. Hari ini pasti dia ada.

Gerimis masih terus turun ketika kami memasuki tempat parkir library-café itu. Kami berlari kecil menghindar dari terpaan air menuju ke dalam café.

“Selamat siang. Mau pesan apa?” tegur seseorang dan ternyata pelayan tampan itu. Aku menatapnya sambil menyebutkan pesananku, Hot Royal Caramel. Kudengar Fanie menyebutkan Espresso kesukaannya. Mataku terus tertuju pada pelayan itu hingga ia menghilang ke balik tembok berwarna merah pemisah antara café dan library.

“Woy, mata tuh?” semprot Fanie, membuatku kaget dan tertawa kecil. “Heran deh, masa sih kamu ngegebet pelayan itu?” sambungnya. Aku mengerutkan kening.

“Ada yang salah?” Tanyaku.

“Dia pelayan, De.”

“Terus? Aku nggak peduli. Dia ganteng ya?” Untuk pertama kalinya pelayan itu aku puji, aku tidak peduli dengan tatapan Fanie yang seakan-akan bilang bahwa aku gila. Aku tertawa geli melihat ekspresi sahabatku itu. Daripada kena semburan Fanie lagi, aku mengambil novel “Anna Karenin” karya Leo Tolstoi yang aku pinjam beberapa hari lalu dari library Life.

“Ini Esspreso-nya dan untuk nona yang manis ini Hot Royal Caramel khusus untuk kamu.” Goda pelayan tampan itu yang tidak aku sadari kedatangannya. Aku tersenyum senang. What did he said? Nona yang manis? Ampun deh. Sahabat yang duduk di hadapanku melotot ketika aku tersenyum kepada pelayan itu.

“Terima kasih, tuan yang tampan.” Tanpa sadar aku mengucapkan kata-kata itu yang membuat Fanie menganga.

“Terima kasih juga aku dibilang tampan. Baru mulai baca karya-nya Tolstoi ya?” Tanya pelayan itu yang tiba-tiba duduk di puff sebelah kiriku. Aku sih senang-senang saja tetapi Fanie…o-ow…wajahnya kok sudah seperti kepiting yang direbus ya?

“Nggak kok. Dulu aku pernah baca Tuan dan Hamba, Perang dan Damai, dan sebelum pinjam Anna Karenin, aku baru selesai baca Kebangkitan.” Ucapku penuh semangat. Kalau soal Tolstoi bisa dibilang aku cukup tahu. He’s my favorite writer.

“Wow…berat juga bacaan kamu. Aku suka banget sama Tolstoi khususnya novel Kebangkitan.” Katanya. Aku menganggukkan kepalaku.

“Aku juga suka Kebangkitan, banyak banget filosofi yang terkandung didalamnya.” Kataku dan kemudian mengalirlah dari mulutku adegan-adegan dimana Nekhlyudov yang berjuang untuk mendapatkan kembali cinta Katyusa, tokoh dalam novel itu. Sepertinya laki-laki tampan ini cukup cerdas sebagai seorang pelayan. Dia tahu tentang filsafat seperti bagaimana pendapat Plato mengenai ultim manusia, dia juga tahu mengenai sejarah dan kebudayaan Indonesia, dia juga tahu tentang musik kesukaanku Britpop. Dia tahu semua hal ck…ck…ck… Wawasannya yang luas membuatku kagum.

Tidak terasa Caramel-ku hampir habis dan Fanie manyun melihatku asyik berbicara dengan pelayan ini tanpa mempedulikan dia.

“Maaf ya? Aku jadi ganggu kalian.” Ucapnya merasa tidak enak melihat wajah Fanie yang kesal.

“Minuman kalian sudah hampir habis. Ditambah lagi ya?” Katanya seperti sedang membujuk Fanie yang kelihatan sangat marah padanya.

“Nggak usah kok, kami sudah mau pulang.” Suara Fanie terdengar sangat ketus. Aku jadi tidak enak hati.

“Kok pulang? Eh maaf…” Pelayan tampan itu sedikit kecewa sambil melirikku. Aku pun tersenyum dilirik begitu.

“Nggak apa-apa kok.” Jawabku. Fanie sudah siap-siap berdiri.

“Benar nih nggak mau lagi? Ya sudah kalau begitu kalian nggak usah bayar. Aku yang traktir. Oh ya, terima kasih ya sudah ngobrol-ngobrol. Sering-sering kesini ya? Aku tunggu kamu. Ehm…nama kamu siapa?” Kata pelayan tampan itu sambil malu-malu melihat ke arahku. Kali ini Fanie sudah berdiri dan mau tidak mau aku ikut berdiri dan pelayan itu juga ikut berdiri. Tangannya yang besar terulur ke arahku. Aku menyambut tangannya dan mengucapkan namaku, “Dena.”

Ia tersenyum kaget. Dan ia menyebutkan namanya, “Aku Dean. Aku owner Life. Kamu sering-sering datang ya? Eh, aku boleh minta nomer HP kamu?”

Aku kaget setengah mati, bukan karena namaku dan dia mirip, tetapi laki-laki yang disangka pelayan olehku dan sahabatku yang konyol itu ternyata pemilik library-café ini. Dan ia juga meminta nomor HP-ku. Mulut Fanie langsung menganga lebih lebar dari tadi.

Hemm…ternyata tidak selamanya hujan itu menyebalkan. Kali ini aku merasa beruntung hujan datang. J

Posted in idealisme | Tagged: | Leave a Comment »

Mata Yang Tersenyum

Posted by legendabuana on June 11, 2008

Di tepi dermaga ia duduk membisu

Melihat lukisan alam terpampang jelas

Namun, matanya kosong membeku

Seakan lukisan itu hal yang biasa baginya

Pada satu titik mataku terbius

Dirinya, dengan segala kekosongannya

Ingin hati tuk merengkuh

Apa yang ada di jiwanya

Sudah hampir satu minggu aku selalu melihatnya duduk di tepi dermaga. Menatap laut yang berwarna biru keemasan dengan tatapan kosong. Tak mempedulikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Serasa ia berada di dunianya sendiri tanpa ada orang lain. Matanya yang indah dan tajam terlihat sendu. Menatap matahari terbenam dengan kesenduannya.

Memasuki minggu kedua, hatiku tergerak untuk duduk di sampingnya. Ia hanya menoleh sekilas kepadaku, padahal aku sudah melempar senyuman manisku. Dilihat dari dekat ternyata ia cukup tampan. Kulit cokelatnya yang terawat dan bersih menandakan ia berasal dari keluarga berada. Alisnya hitam tebal dengan bola mata yang jernih bagai mata bayi tanpa dosa. Ia mengenakan kaos katun putih yang nyaman dan celana pendek katun berwarna krem. Tangan kanan dan jari-jarinya dibalut perban menandakan bahwa ia pernah mengalami kejadian yang membuat tangannya cedera. Aku terus menatapnya lekat-lekat tetapi tatapannya terus tertuju pada lautan yang tak berujung. Aku yakin kalau ia tahu aku menatapnya lekat-lekat.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, ia terus duduk membeku melihat lembayung senja berganti dengan kelamnya malam. Setelah melihat bintang yang paling terang muncul, wajahnya terlihat lega dan ia berdiri kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan menelusuri pantai ke arah utara menaiki tangga menuju kompleks pertokoan di pinggir jalan. Aku terus melihat punggungnya hingga ia menghilang di balik ramainya orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan raya di atas pantai. Ia menghilang bersamaan deburan ombak malam hari.

***

Entah mengapa aku sangat ingin melukisnya. Melukis struktur wajahnya yang sempurna. Melukis kesenduannya yang mempesona. Dan melukis makna matanya yang misterius.

“Namanya Hans,” ujar Jamie –sahabatku– pada suatu sore ketika aku tak lagi duduk di samping laki-laki itu. Aku menoleh ke arah Jamie. Kemudian wajah bulat yang selalu membuatku tertawa itu menceritakan kisah Hans yang ia ketahui dari kakak Hans yang tinggal di dekat rumahnya. Hans adalah pelukis terkenal di kota tetangga yang dikelilingi dengan bukit-bukitnya yang indah. Ia pelukis naturalis dan kurang menyukai udara panas pantai. Hampir tiga bulan lalu, lukisannya mendapatkan penghargaan seni rupa tertinggi oleh Dewan Kesenian Nasional. Pada malam penghargaan, ia dan kekasihnya mengalami kecelakaan. Rasa bersalah akan kematian kekasihnya membawanya ke tempat yang kurang ia sukai. Kota pantai, daerah tempat ku tinggal hampir 20 tahun. Rasa kecewa karena tangan kanannya tidak dapat berfungsi dengan baik lagi membuat ia terus tenggelam menatap lembayung berganti dengan kelam. Kelamnya malam membawa dirinya akan kenangan kekasihnya dan lukisan hatinya. Cerita Jamie tentang dirinya membuatku tersentuh sekaligus kecewa. Tersentuh karena ia begitu mencintai kekasihnya yang terus ia kenang dan kecewa karena tingkah laku yang menyiksa dirinya seperti manusia yang tidak memiliki ultim.

***

Minggu keempat aku melihatnya masih termangu dengan tatapan kosong menatap laut yang berwarna keemasan. Tanpa aku sadari, aku pun duduk di sampingnya di tepi dermaga.

Aku keluarkan buku sketsaku yang berukuran A3 serta peralatan melukisku. Dan aku mulai melukis dirinya. Sepertinya ia tidak merasa terganggu aku melukisnya. Aku perhatikan bentuk wajahnya dari samping. Dan mulai kutuangkan ke dalam buku sketsaku. Sebelum cahaya matahari menghilang aku menuliskan puisi di bawah sketsaku,

Terlalu indah mata yang kosong menatap kenangan lalu membeku

Adakah kudapat melukismu dengan mata indahmu yang tersenyum?

Tak lupa kucantumkan namaku dan tahun pembuatan sketsa ini, Hazel, 2006.

Tidak terasa langit yang berwarna lembayung mulai meredup. Menandakan malam segera tiba. Lampu-lampu di dermaga sudah mulai menyala. Lelaki itu bangkit dan tanpa sadar aku mengucapkan terima kasih. Seakan-akan aku berterima kasih kepada modelku. Ia menatapku. Ekspresi wajahnya tidak berubah. Ia menatapku dan melihat buku sketsaku. Matanya seakan terkejut melihat wajahnya ada dalam bentuk sketsa di bukuku. Sudut bibirnya naik membentuk satu senyuman di wajahnya yang ramah. Dan tidak terasa lagi olehku kekosongan pada matanya. Matanya tersenyum melihatku dan wajahnya dalam sketsaku.

Jakarta, 15 Maret 2007

Posted in idealisme | Tagged: , | 4 Comments »