Dan Ia pun Tersenyum Melihat dan Menatapku
Posted by legendabuana on June 9, 2008
Dan ia pun tersenyum melihatku. Aku sangat mencintai cahayaku. Cinta membuatku gila. Bahkan sampai saat ini aku pun tidak menyangka aku berani mengatakan bahwa aku mencintainya dan aku sangat menginginkannya. Entah cinta. Entah nafsu. Tetapi aku memendam hasrat yang sangat terhadapnya. Cinta membuatku gila ataukah kegilaan yang membuatku mencinta?
***
Arti namanya adalah cahaya. Ia merupakan cahaya yang selalu menyinari dan menghangatkan hari-hariku ketika jalanku mulai terasa redup dan dingin. Bahkan sampai saat ini cahayanya masih menyilaukan hatiku.
Ia meninggalkanku disaat aku mulai benar-benar mencintainya dan yakin untuk menjalani hari-hariku bersamanya walau tentangan datang dari pelbagai arah.
“Dulu aku pernah sayang kamu tapi sekarang rasa sayang itu sudah hilang. Aku nggak sayang kamu lagi.” Ujarnya suatu malam dan itu sangat mengagetkanku sebab satu minggu sebelumnya ia masih bermanja denganku.
Menangis dan menyesal. Hanya itu yang dapat kulakukan dan kurasakan. Terlalu menyakitkan bagiku sementara aku sudah mulai mencintainya. Kembali hari-hari bersamanya mulai muncul dipikiranku bagai film yang berganti scene. Matanya yang selalu lembut ketika memandangku, tangannya yang besar dan hangat ketika membelaiku, hembusan nafas hangatnya yang teratur ketika menciumku. Aku mulai merindukannya dan memberanikan diri untuk bertanya jika aku memiliki suatu keyakinan yang sama dengan dirinya apakah semuanya akan berubah dan ia bilang “Ya”. Imanku hampir goyah.
Cukup lama aku menata diriku kembali hingga akhirnya aku meneleponnya selama satu jam dan ia meneleponku balik selama satu jam pula. Dan aku, tanpa mempedulikan harga diriku, mengungkapkan keinginanku untuk memiliki bagian dari dirinya. Ia menyanggupi. Dan disinilah aku berdiri, di dalam kamar yang hangat menunggunya keluar dari kamar mandi.
***
“Diluar hujan.” Ucapku memecah keheningan ketika ia keluar dari kamar mandi bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih.
“Bagus dong, diluar dingin dan kita bisa saling menghangatkan dalam kamar ini.” Jawabnya sambil mengenakan kaos putih. Sedetik aku merasa jijik dengan ucapannya barusan. Tetapi nafasku tertahan ketika aku melihat dirinya. Satu tahun hampir berlalu ketika perpisahan itu terjadi dan tubuhnya makin bertambah besar. Kulitnya yang putih bagi sukunya membuatku makin jatuh cinta karena ia berbeda. Bagian perutnya yang paling kusuka. Tidak six-pack seperti pria-pria metropolis lainnya, tidak gendut, juga tidak kurus, tetapi cukup berisi. Garis halus berwarna hitam berjajar rapi lurus dari atas pusar hingga ke bawah pusar.
Kemudian ia duduk di atas ranjang. Mengambil remote TV dan mulai menyalakan TV. Aku tetap terpaku melihat dirinya yang begitu indah membuatku terbius dalam keheningan ini. Empat jam yang lalu, Pukul 13.00 kami masih berada di tengah kemacetan lalu lintas ibukota. Dalam waktu empat jam yang begitu cepat kurasa, kami sudah berada dalam satu kamar yang hangat di suatu rumah peristirahatan milik temanku yang berada dekat dengan kaki gunung di selatan Ibukota. Hanya kami berdua tiada orang lain. Entah keberanian darimana datangnya sehingga membuatku benar-benar melancarkan niatku untuk memiliki bagian dari dirinya. Entah apa yang ada dipikirannya hingga ia menyanggupi dan mau datang bersamaku ke rumah peristirahatan yang jauh dari keramaian kota.
Dua puluh empat jam sebelumnya, aku tengah merayu temanku yang aku anggap sebagai matahariku untuk meminjamkan rumah peristirahatan yang baru ia beli dengan harga murah ini. Matahariku adalah orang yang sangat dekat denganku sejak dulu. Katanya ia sangat menyayangiku sehingga apapun yang aku minta pasti dikabulkan. Ketika ia berkata bahwa ia menyayangiku, aku hanya tersenyum kepadanya dan mengatakan bahwa aku sayang padanya tidak lebih sebagai sahabat. Sebenarnya orang tuaku menginginkan aku untuk menikah dengannya karena mereka mengenal dekat orang tuanya. Tetapi, aku belum merasa yakin untuk menghabiskan sisa hidupku bersamanya karena aku hanya menganggap ia sebagai teman dekatku tersayang.
***
“Hei, kok melamun? Ada apa?” Tegur cahayaku. Dan ia sudah berdiri tepat dihadapanku dengan tangan kanannya memegang sisi jendela disamping kiri pinggangku dan tangan kirinya membelai rambutku. Nafasnya terasa lembut menyentuh anak rambutku yang ada di dahiku.
“Nggak kok.” Aku bingung harus menjawab apa. Inilah kelemahanku, kikuk bila berada dihadapan orang yang aku suka. Ia menatapku tajam seakan-akan aku ini hasil buruan yang siap dimakannya. Jengah aku ditatap begitu, aku sedikit mendorong tubuhnya untuk memberiku jalan menuju ranjang empuk tempat ia menonton TV tadi.
Ada perasaan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku ketika melewati tubuhnya. Ia berjalan mengikutiku. Kemudian aku duduk di atas ranjang menghadap kearah TV dan mulai mengganti-ganti channel TV. Ia duduk tepat di belakangku dan mulai memelukku serta menciumi leherku. Aku bingung harus berbuat apa. Aku menyukai ketika ia mencium leherku dulu. Rasanya seperti ada yang memberi kehangatan hingga ke tulang. Entah kenapa ketika ia mencium leherku saat ini, tidak lagi kurasakan kehangatan yang mencapai tulang walaupun jantungku berdebar sangat kencang.
“Ada apa dengan kamu, sayang?” tegur cahayaku lembut. Aku mulai menggeser tubuhku ke sisi kanan dan setengah rebahan. Ada apa denganku? Bukankah ini yang aku inginkan? Perasaanku sangat tidak nyaman, padahal orang yang aku cintai ada di sisiku. Mataku masih tertuju pada layar TV, tetapi terlihat jelas olehnya bahwa aku melamun.
“Apa yang sedang kamu pikirkan? Biasanya kamu bawel kenapa sekarang jadi pendiam?” tegurnya lagi, kali ini ia sudah ikut berbaring di samping kiriku dan menatapku lekat-lekat sambil tangannya memainkan rambutku. Aku hanya menggelengkan kepala dan balas menatapnya. Biasanya aku tidak pernah berani menatap orang yang aku suka, tetapi pada detik ini aku berani menatapnya. Apa mungkin sebenarnya aku sudah tidak mencintainya? Padahal jantungku berdebar sangat keras.
Ia mulai menciumi pipi kiriku dan aku mulai bergeming. Ia mencium bibirku dan aku membalas ciumannya. Nafasnya mulai tidak teratur tetapi menyapu kulit wajahku dengan halus.
Tanpa kusadari aku mulai luruh dalam pelukannya. Dari bibirku, ciumannya mulai turun ke dagu dan leherku. Tangannya berada dikepalaku dengan ibu jarinya dibelaikan lembut pada pipiku. Aku merasakan gairah yang ada didirinya sedangkan aku hanya tampak seperti boneka dalam genggamannya yang diperlakukan sangat halus olehnya. Tak ada gairah yang muncul pada diriku. Tak ada rasa senang bahwa ia mencumbuku dengan mesra. Tak ada perasaan nyaman ketika ia merengkuh tubuhku. Yang ada hanyalah perasaan tidak nyaman yang berkecamuk dalam hatiku.
Apa yang sudah aku perbuat hari ini? Apa yang sudah aku perbuat dua puluh empat jam yang lalu? Meminjam rumah peristirahatan ini hanya untuk melenyapkan emosiku sesaat tanpa memikirkan akibatnya. Bagaimana jadinya jika aku betul-betul memiliki bagian dari dirinya? Apa yang harus aku katakan pada orang tuaku?
Cahayaku seperti sudah tak peduli dengan apapun. Ia terus menciumi leherku, kembali ke wajah dan bibirku, kemudian turun ke dadaku. Entah kapan ia melepas kaos dan celanaku, yang pasti saat ini ia berusaha membuka penutup dadaku. Dan herannya, tak sedikit pun aku menolak apa yang ia perbuat.
Cahayaku…cahaya yang selalu menyinari hari-hariku dulu. Cahaya yang menghangatkan hatiku ketika aku bersamanya. Saat ini yang kurasa malah sebaliknya. Aku tidak merasakan kehangatan ketika ia membelaiku. Butiran cair berwarna bening mulai jatuh dipipiku ketika aku mengedipkan mata.
***
Mengapa air mata ini terus keluar? Apa yang terjadi pada diriku? Haruskah aku senang dan bahagia karena sebentar lagi ia akan memberikan bagian dari dirinya kepadaku? Mengapa aku terus menangis sedangkan ia sepertinya senang melihat tubuhku yang polos berbaring di kasur yang empuk, di bawah selimut yang hangat yang mungkin sebentar lagi berganti dengan sentuhan kulitnya yang hangat dikulitku?
Bunyi sirene terdengar memecah keheningan dan nafas menderu cahayaku. Aku menolehkan kepalaku ke sisi kanan tubuhku tepat ke atas meja kecil disisi ranjang ini. Ada yang mengirimkan pesan singkat padaku. Aneh, padahal tempat ini terpencil dan cuaca juga sedang tidak baik tetapi bunyi sirene pertanda datangnya pesan singkat itu juga menandakan bahwa HP-ku mendapatkan sinyal. Tangan kananku mengambil HP yang aku taruh diatas meja tersebut. Cahayaku mengumpat kesal karena pada saat seperti ini pun aku masih menyempatkan diri melihat pesan singkat itu.
Message 1: Selama sinar cahayamu menyilaukan hatimu biarlah sinar itu terus menuntunmu dan jangan sampai membutakanmu.
From: “matahari”
06.58 pm 15 Maret 2006
Terpaku aku membaca pesan itu. Airmata yang terhenti keluar lagi. Kali ini aku tahu mengapa aku menangis. Aku bangkit, tidak peduli bahwa tak ada sehelai benang pun ditubuhku, aku mengambil pakaianku yang tergeletak di lantai dan cepat-cepat aku kenakan. Kemudian aku membereskan pakaianku yang ada di lemari. Begitu saja aku masukkan ke dalam tasku. Mengambil kunci mobil yang ada di atas meja rias. Dan aku berusaha membuka pintu ketika cahayaku mendadak bangkit dan mendekatiku.
“Ada apa sih? Siapa yang SMS kamu?” Katanya bingung melihat ulahku.
“Maaf, aku harus pulang.” Jawabku singkat.
“Tapi ada apa? Terus bagaimana dengan aku? Kamu nggak mau nerusin rencana kamu?” Tanyanya lagi. Dan ia terlihat berantakan sekali.
“Maaf tapi aku harus pulang. Sekarang.” Jawabku singkat dan airmata terus membasahi pipiku. Kemudian cahayaku hanya memberikan kecupan di keningku dan membukakan pintu kamar. Aku berlari keluar kamar menuju ruang tamu, membuka pintu depan. Dengan tidak mempedulikan gerimis aku membuka pintu mobil dan pergi meninggalkan cahayaku. Meninggalkan masa laluku. Meninggalkan romantisme masa lalu yang indah.
Aku merasakan detak jantungku berdebar ketika aku mengendarai mobilku menuju ibukota. Menuju kota yang tak pernah tidur. Disitu, mungkin, ia menungguku dengan gelisah. Tak terasa perjalananku hari ini hampir berakhir. Aku tak tahu apakah akhirnya akan baik ataukah buruk. Aku belokkan mobilku ke arah kanan memasuki gerbang perumahanku dan berhenti tepat didepan rumah putih berhalaman luas tanpa pagar setelah aku banting setir ke arah kiri dan menabrak tong sampah hingga isinya berhamburan. Buru-buru aku keluar dari kendaraan itu tanpa menutup pintunya dan berlari menuju pintu kayu berwarna cokelat tua.
Aku pencet bel. Kuulangi beberapa kali hingga pintu terbuka. Matahariku berdiri dihadapanku dengan mulut menganga karena kaget. Aku peluk dirinya dan berkata, “cahaya itu hampir membutakanku padahal cahayanya hanya cahaya kecil dibanding cahayamu yang baru mulai kusadari begitu menghangatkanku hingga ke sum-sum tulangku. Rasa hangat yang terus menjalar dan mengalir selama darahku terus mengalir. Maaf, tapi aku sayang kamu.”
Aku terisak dan ia melepaskan diri dari pelukanku. Kemudian matahariku membelai rambutku dan bibirnya membentuk senyuman manis.
Dan ia tersenyum menatapku. Kusadari bahwa aku mulai menyayanginya dan yakin akan menghabiskan hari-hariku bersamanya.
Jakarta, 14 Juli 2006