Legendabuana’s Weblog

hanya sekedar kata dan kalimat yang merupakan buah pikiranku

Archive for June 9th, 2008

Tuhan Memilih Takdir dan Nasibku dari Mimpi yang Kurajut

Posted by legendabuana on June 9, 2008

Ada sebuah rahasia dibalik mimpi yang terwujud. Yakni, keyakinan akan mimpi tersebut pasti terwujud. Seperti aku yang selalu bermimpi untuk memiliki dirinya. Aku memiliki keyakinan bahwa suatu saat nanti, aku pasti dapat memilikinya. Sebab ia sosok yang indah dimataku.

Berawal dari rasa sakit yang disebabkan oleh Louis. Ia teman main kakak laki-lakiku yang beda usia sekitar 3 tahun denganku. Aku mengenal Louis sejak masa sekolah dasar. Aku dekat dengannya sejak kelas 2 sekolah menengah dan terus berlanjut hingga aku kuliah. Selama 7 tahun ini, aku terus bermimpi untuk menjadi pengantinnya. Mimpi anak kecil yang menginginkan menjadi pengantin laki-laki yang merupakan kekasih pertama dan terakhirnya. Aku yang terlalu naïf dan polos dalam menjalani hubungan dengan Louis tidak pernah tahu bahwa laki-laki itu bisa berpaling ke wanita yang lebih cantik atau lebih manis atau yang sesuai dengan dirinya. Aku percaya dengan kata-kata manis dan rayuan-rayuannya yang mampu membuatku terbang hingga keawan. Tapi tanpa kusadari, ternyata aku sudah jatuh sampai ke perut bumi saat ia berjalan dengan teman kuliahnya dulu. Menyakitkan tapi tak ada air mata yang keluar. Hanya desahan nafasku yang panjang yang membuatku terbangun dari mimpi-mimpi yang ternyata kurajut sendiri. Selama satu tahun kemudian aku menjalani hidup dengan hati yang sepi.

Perlahan aku bangkit dan mencoba menikmati hidup dalam sepiku. Saat berpisah dengan Louis, aku pikir aku tidak akan pernah terpesona pada seorang laki-laki lagi. Terlalu menyakitkan, hubungan yang sudah aku bina selama tujuh tahun hancur begitu saja. Yang paling menyakitkanku adalah kebiasaan yang telah aku jalani selama tujuh tahun terakhir bersama Louis tiba-tiba tidak aku jalani lagi sekarang. Kebiasaan bersama orang yang kita cintai adalah racun yang dapat menghancurkan kita pelan-pelan.

Adalah ia, sosok yang indah itu, yang mewarnai hidupku selanjutnya. Mengentaskan sepi di hati dan kekosongan yang melandaku. Hanya ia yang mampu membuatku begitu.

Sebelum bertemu dengan sosok yang indah itu, aku menjalani hidup dengan hati yang gelisah dan sepi. Kemudian, sosok yang indah itu, Mataniari, datang mengobati kegelisahanku ketika tak ada yang dapat mengobatinya bahkan Tuhan pun tak dapat mengobatinya, itu menurutku. Ia yang memenuhi kehampaan hati ini ketika Tuhan tak dapat memenuhinya, itu juga menurutku. Ia yang menyelamatkan aku dari situasi kesendirian yang mencekam ketika Tuhan tak dapat menyelamatkan aku, itu masih menurutku. Oleh karenanya, kepadanya kupagutkan hasratku, kuikatkan hasratku kepadanya. Tapi tak pernah kumengikat dirinya dengan cintaku.

Aku selalu berpikir Tuhan memberikanku rasa kasih untuk kuberikan pada seseorang yang aku kasihi. Tuhan memberikanku rasa kasih yang berlimpah sehingga aku tak dapat membendung rasa kasih yang kuberikan padanya. Semua mengalir begitu saja dan terhenti ketika aku menemukan batas yang tak mungkin aku tembus. Pada saat itu aku berpikir, Tuhan memberikan aku rasa sakit yang begitu perih untuk aku lalui. Akhirnya aku mencoba untuk bersahabat dengan waktu. Aku membiarkan waktu membasuh perihku. Mengobati rasa sakit karena rasa kasih yang diberikan oleh Tuhan.

Semakin bertambah dewasa usiaku, semakin bertambah pula rasa hampa dijiwaku. Hanya seorang yang aku kasihi yang dapat memenuhi kehampaan jiwa ini. Mungkin lebih tepat jika aku katakan menghilangkan rasa hampa dan bukan memenuhi rasa hampa. Dengan hilangnya rasa hampa, aku dapat memperhatikan warna-warni dunia yang beragam. Jika ia datang dengan memenuhi rasa hampa, aku hanya bisa melihat warna-warni dunia tanpa memperhatikannya.

Pada akhirnya, aku pun berpikir, manusialah yang menciptakan sebuah perasaan yang tak dapat dicegah rasa sakitnya. Tuhan hanya memberikan rasa kasih kepada setiap manusia dan manusia lah yang memilih memberikan rasa kasih tersebut kepada siapa yang pantas. Bila ia memberikan rasa kasih tersebut kepada orang lain yang tidak pantas maka ia akan mendapatkan rasa sakit. Rasa sakit di hati yang perihnya serasa mengiris-iris.

Berkaca padahal itu, akupun tak lagi meyakini mimpiku pasti terwujud. Tetapi, aku merajut mimpiku untuk terwujud. Sebab, aku yakin Tuhan telah memilih takdir dan nasibku dari mimpi yang kurajut.

Jakarta, 21 April 2008

Posted in idealisme | Tagged: | 2 Comments »

Suara Gaia, Rakyat Negeri Kabut

Posted by legendabuana on June 9, 2008

Dahulu kala ada cerita mengenai orang-orang yang dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan yang disebut pengikut iblis. Sebab itu, orang-orang tersebut dijauhi dan dibakar hidup-hidup seperti Joan of Arc. Cerita mengenai pengikut iblis itu berkembang lantaran, menurut legenda, iblis pernah mencuri dengar rencana-rencana Tuhan akan takdir kehidupan bagi ruh yang ditiupkan ke tubuh manusia. Kemudian iblis memilih manusia-manusia dan memberitahukan rencana-rencana Tuhan tersebut. Sehingga manusia yang dipilih iblis dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan yang seharusnya tak bisa dan tak boleh diintip.

***

Negeri ini adalah negeri yang selalu berselimut kabut. Maka banyak orang menyebutnya Negeri Kabut. Di pagi hari, kabut turun ke seluruh negeri mencipta kesegaran membangkit semangat untuk beraktifitas. Di petang hari, kabut pun turun membawa penat pergi setelah seharian lelah beraktifitas, waktu yang sangat nikmat untuk terlelap. Tetapi, akhir-akhir ini, kabut pun turun pada siang hari. Kabut yang membawa kegelisahan bagi rakyat Negeri Kabut.

Senja merupakan seorang yang dipercaya rakyat Negeri Kabut dapat menghilangkan kabut yang turun di siang hari. Mungkin karena ia seorang tua yang dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan maka ia dipercaya oleh rakyat Negeri Kabut.

“Awal kabut di siang hari turun bertepatan dengan terpilihnya Presiden Siang menjadi pemimpin di negeri ini,” ujar Senja ketika beberapa rakyat negeri mimpi mengeluh mengenai kabut yang turun di siang hari. Mereka pun percaya karena Senja seorang tua yang dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan.

“Jadi bagaimana kami dapat menghilangkan kabut ini? Sebab kami tak dapat beraktifitas,” kata salah seorang rakyat menanyakan solusi pada Senja.

“Saya percaya, sebab saya mendapat bisikan Tuhan, bahwa kabut di siang hari akan hilang jika Presiden Siang mengundurkan diri,” ujarnya sambil tersenyum penuh rahasia.

Beberapa rakyat yang mendengar perkataan Senja menyebarkannya ke teman-temannya, sanak saudaranya, kerabatnya, iparnya, dan seluruh rakyat pun mengetahui perkataan Senja. Rakyat pun mengadakan pertemuan. Isinya untuk memaksa Presiden Siang mengundurkan diri. Hampir seluruh rakyat menyetujuinya. Mereka berpendapat bahwa apa yang mereka inginkan merupakan “bisikan” Tuhan.

Adalah Gaia, seorang gadis cilik yang dapat “melihat” masa lalu dan masa depan tetapi selalu ia pendam untuk dirinya sendiri. Ia melihat kesibukan orang-orang di Negeri Kabut akan perkataan Senja. Hampir seluruh rakyat setiap hari berdemontrasi di depan Gedung Kepresidenan, tidak peduli kabut yang makin menebal di siang hari. Gaia melihat sekelompok rakyat yang membakar segala sesuatu guna menepis kabut di siang hari. Keadaan semakin kacau ketika sebagian rakyat mulai merusak Negeri Kabut. Mereka berteriak-teriak di jalan raya dengan membawa obor dan membakar segala sesuatu. Keadaan yang kisruh membuat gadis cilik itu takut.

Pada suatu hari ketika keadaan makin tidak terkendali, Gaia pun berlari ke rumah Senja. Senja hanya terkikik ketika gadis cilik itu mengatakan bahwa Senja membuat segalanya menjadi tak terkendali.

“Aku hanya memberitahukan apa yang ‘dibisikkan’ Tuhan padaku,” sahutnya sambil tersenyum meremehkan anak kecil itu.

“Apakah Tuhan dapat berbicara?” tanya Gaia polos.

“Ya, Tuhan dapat ‘berbicara’ denganku,” jawab Senja.

“Bagaimana kau yakin bahwa itu Tuhan?” tanya Gaia lagi.

“Karena suara rakyat menurutku adalah suara Tuhan,” jawabnya gamblang. Gaia terdiam. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Senja. Yang ia mengerti adalah, Senja mengaku mendapatkan ‘bisikan’ dari Tuhan dan memberitahukannya kepada rakyat Negeri Kabut. Kemudian rakyat Negeri Kabut pun menyuarakan ‘suara’ mereka, sebab mereka yakin bahwa itu ‘suara’ dari Tuhan.

Gaia pun menangis. Di alam pikirannya tergambar kekacauan yang akan berakhir dengan kematian banyak orang. Gaia pun menjadi takut. Ia adalah salah satu rakyat Negeri Kabut. Jika ia sudah dewasa nanti apakah yang ia ucapkan merupakan ‘suara’ Tuhan?

Ia teringat akan cerita ibunya yang mengetahui bahwa ia dapat ‘melihat’ masa lalu dan masa depan. Ia teringat cerita mengenai iblis yang pernah mencuri dengar rencana-rencana Tuhan akan takdir kehidupan bagi ruh yang ditiupkan ke tubuh manusia. Kemudian iblis memilih manusia-manusia dan memberitahukan rencana-rencana Tuhan tersebut. Sehingga manusia yang dipilih iblis dapat “mengintip” masa lalu dan masa depan yang seharusnya tak bisa dan tak boleh diintip.

Gaia pun terdiam. Mengenai masa lalu dan masa depan yang ia ‘lihat’, ia pendam untuk dirinya sendiri. Kemudian ia berjalan pulang ke rumah dan berdoa untuk Negeri Kabut. Sebab ia meyakini doa. Doanya pada Tuhan adalah suara dirinya sebagai rakyat Negeri Kabut. Dan Tuhan dengan suara-Nya pasti akan memberikan kebaikan untuk Negeri Kabut ini.

Jakarta, 24 Mei 2008

Posted in idealisme | Tagged: | Leave a Comment »

Dan Ia pun Tersenyum Melihat dan Menatapku

Posted by legendabuana on June 9, 2008

Dan ia pun tersenyum melihatku. Aku sangat mencintai cahayaku. Cinta membuatku gila. Bahkan sampai saat ini aku pun tidak menyangka aku berani mengatakan bahwa aku mencintainya dan aku sangat menginginkannya. Entah cinta. Entah nafsu. Tetapi aku memendam hasrat yang sangat terhadapnya. Cinta membuatku gila ataukah kegilaan yang membuatku mencinta?

***

Arti namanya adalah cahaya. Ia merupakan cahaya yang selalu menyinari dan menghangatkan hari-hariku ketika jalanku mulai terasa redup dan dingin. Bahkan sampai saat ini cahayanya masih menyilaukan hatiku.

Ia meninggalkanku disaat aku mulai benar-benar mencintainya dan yakin untuk menjalani hari-hariku bersamanya walau tentangan datang dari pelbagai arah.

“Dulu aku pernah sayang kamu tapi sekarang rasa sayang itu sudah hilang. Aku nggak sayang kamu lagi.” Ujarnya suatu malam dan itu sangat mengagetkanku sebab satu minggu sebelumnya ia masih bermanja denganku.

Menangis dan menyesal. Hanya itu yang dapat kulakukan dan kurasakan. Terlalu menyakitkan bagiku sementara aku sudah mulai mencintainya. Kembali hari-hari bersamanya mulai muncul dipikiranku bagai film yang berganti scene. Matanya yang selalu lembut ketika memandangku, tangannya yang besar dan hangat ketika membelaiku, hembusan nafas hangatnya yang teratur ketika menciumku. Aku mulai merindukannya dan memberanikan diri untuk bertanya jika aku memiliki suatu keyakinan yang sama dengan dirinya apakah semuanya akan berubah dan ia bilang “Ya”. Imanku hampir goyah.

Cukup lama aku menata diriku kembali hingga akhirnya aku meneleponnya selama satu jam dan ia meneleponku balik selama satu jam pula. Dan aku, tanpa mempedulikan harga diriku, mengungkapkan keinginanku untuk memiliki bagian dari dirinya. Ia menyanggupi. Dan disinilah aku berdiri, di dalam kamar yang hangat menunggunya keluar dari kamar mandi.

***

“Diluar hujan.” Ucapku memecah keheningan ketika ia keluar dari kamar mandi bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih.

“Bagus dong, diluar dingin dan kita bisa saling menghangatkan dalam kamar ini.” Jawabnya sambil mengenakan kaos putih. Sedetik aku merasa jijik dengan ucapannya barusan. Tetapi nafasku tertahan ketika aku melihat dirinya. Satu tahun hampir berlalu ketika perpisahan itu terjadi dan tubuhnya makin bertambah besar. Kulitnya yang putih bagi sukunya membuatku makin jatuh cinta karena ia berbeda. Bagian perutnya yang paling kusuka. Tidak six-pack seperti pria-pria metropolis lainnya, tidak gendut, juga tidak kurus, tetapi cukup berisi. Garis halus berwarna hitam berjajar rapi lurus dari atas pusar hingga ke bawah pusar.

Kemudian ia duduk di atas ranjang. Mengambil remote TV dan mulai menyalakan TV. Aku tetap terpaku melihat dirinya yang begitu indah membuatku terbius dalam keheningan ini. Empat jam yang lalu, Pukul 13.00 kami masih berada di tengah kemacetan lalu lintas ibukota. Dalam waktu empat jam yang begitu cepat kurasa, kami sudah berada dalam satu kamar yang hangat di suatu rumah peristirahatan milik temanku yang berada dekat dengan kaki gunung di selatan Ibukota. Hanya kami berdua tiada orang lain. Entah keberanian darimana datangnya sehingga membuatku benar-benar melancarkan niatku untuk memiliki bagian dari dirinya. Entah apa yang ada dipikirannya hingga ia menyanggupi dan mau datang bersamaku ke rumah peristirahatan yang jauh dari keramaian kota.

Dua puluh empat jam sebelumnya, aku tengah merayu temanku yang aku anggap sebagai matahariku untuk meminjamkan rumah peristirahatan yang baru ia beli dengan harga murah ini. Matahariku adalah orang yang sangat dekat denganku sejak dulu. Katanya ia sangat menyayangiku sehingga apapun yang aku minta pasti dikabulkan. Ketika ia berkata bahwa ia menyayangiku, aku hanya tersenyum kepadanya dan mengatakan bahwa aku sayang padanya tidak lebih sebagai sahabat. Sebenarnya orang tuaku menginginkan aku untuk menikah dengannya karena mereka mengenal dekat orang tuanya. Tetapi, aku belum merasa yakin untuk menghabiskan sisa hidupku bersamanya karena aku hanya menganggap ia sebagai teman dekatku tersayang.

***

“Hei, kok melamun? Ada apa?” Tegur cahayaku. Dan ia sudah berdiri tepat dihadapanku dengan tangan kanannya memegang sisi jendela disamping kiri pinggangku dan tangan kirinya membelai rambutku. Nafasnya terasa lembut menyentuh anak rambutku yang ada di dahiku.

“Nggak kok.” Aku bingung harus menjawab apa. Inilah kelemahanku, kikuk bila berada dihadapan orang yang aku suka. Ia menatapku tajam seakan-akan aku ini hasil buruan yang siap dimakannya. Jengah aku ditatap begitu, aku sedikit mendorong tubuhnya untuk memberiku jalan menuju ranjang empuk tempat ia menonton TV tadi.

Ada perasaan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku ketika melewati tubuhnya. Ia berjalan mengikutiku. Kemudian aku duduk di atas ranjang menghadap kearah TV dan mulai mengganti-ganti channel TV. Ia duduk tepat di belakangku dan mulai memelukku serta menciumi leherku. Aku bingung harus berbuat apa. Aku menyukai ketika ia mencium leherku dulu. Rasanya seperti ada yang memberi kehangatan hingga ke tulang. Entah kenapa ketika ia mencium leherku saat ini, tidak lagi kurasakan kehangatan yang mencapai tulang walaupun jantungku berdebar sangat kencang.

“Ada apa dengan kamu, sayang?” tegur cahayaku lembut. Aku mulai menggeser tubuhku ke sisi kanan dan setengah rebahan. Ada apa denganku? Bukankah ini yang aku inginkan? Perasaanku sangat tidak nyaman, padahal orang yang aku cintai ada di sisiku. Mataku masih tertuju pada layar TV, tetapi terlihat jelas olehnya bahwa aku melamun.

“Apa yang sedang kamu pikirkan? Biasanya kamu bawel kenapa sekarang jadi pendiam?” tegurnya lagi, kali ini ia sudah ikut berbaring di samping kiriku dan menatapku lekat-lekat sambil tangannya memainkan rambutku. Aku hanya menggelengkan kepala dan balas menatapnya. Biasanya aku tidak pernah berani menatap orang yang aku suka, tetapi pada detik ini aku berani menatapnya. Apa mungkin sebenarnya aku sudah tidak mencintainya? Padahal jantungku berdebar sangat keras.

Ia mulai menciumi pipi kiriku dan aku mulai bergeming. Ia mencium bibirku dan aku membalas ciumannya. Nafasnya mulai tidak teratur tetapi menyapu kulit wajahku dengan halus.

Tanpa kusadari aku mulai luruh dalam pelukannya. Dari bibirku, ciumannya mulai turun ke dagu dan leherku. Tangannya berada dikepalaku dengan ibu jarinya dibelaikan lembut pada pipiku. Aku merasakan gairah yang ada didirinya sedangkan aku hanya tampak seperti boneka dalam genggamannya yang diperlakukan sangat halus olehnya. Tak ada gairah yang muncul pada diriku. Tak ada rasa senang bahwa ia mencumbuku dengan mesra. Tak ada perasaan nyaman ketika ia merengkuh tubuhku. Yang ada hanyalah perasaan tidak nyaman yang berkecamuk dalam hatiku.

Apa yang sudah aku perbuat hari ini? Apa yang sudah aku perbuat dua puluh empat jam yang lalu? Meminjam rumah peristirahatan ini hanya untuk melenyapkan emosiku sesaat tanpa memikirkan akibatnya. Bagaimana jadinya jika aku betul-betul memiliki bagian dari dirinya? Apa yang harus aku katakan pada orang tuaku?

Cahayaku seperti sudah tak peduli dengan apapun. Ia terus menciumi leherku, kembali ke wajah dan bibirku, kemudian turun ke dadaku. Entah kapan ia melepas kaos dan celanaku, yang pasti saat ini ia berusaha membuka penutup dadaku. Dan herannya, tak sedikit pun aku menolak apa yang ia perbuat.

Cahayaku…cahaya yang selalu menyinari hari-hariku dulu. Cahaya yang menghangatkan hatiku ketika aku bersamanya. Saat ini yang kurasa malah sebaliknya. Aku tidak merasakan kehangatan ketika ia membelaiku. Butiran cair berwarna bening mulai jatuh dipipiku ketika aku mengedipkan mata.

***

Mengapa air mata ini terus keluar? Apa yang terjadi pada diriku? Haruskah aku senang dan bahagia karena sebentar lagi ia akan memberikan bagian dari dirinya kepadaku? Mengapa aku terus menangis sedangkan ia sepertinya senang melihat tubuhku yang polos berbaring di kasur yang empuk, di bawah selimut yang hangat yang mungkin sebentar lagi berganti dengan sentuhan kulitnya yang hangat dikulitku?

Bunyi sirene terdengar memecah keheningan dan nafas menderu cahayaku. Aku menolehkan kepalaku ke sisi kanan tubuhku tepat ke atas meja kecil disisi ranjang ini. Ada yang mengirimkan pesan singkat padaku. Aneh, padahal tempat ini terpencil dan cuaca juga sedang tidak baik tetapi bunyi sirene pertanda datangnya pesan singkat itu juga menandakan bahwa HP-ku mendapatkan sinyal. Tangan kananku mengambil HP yang aku taruh diatas meja tersebut. Cahayaku mengumpat kesal karena pada saat seperti ini pun aku masih menyempatkan diri melihat pesan singkat itu.

Message 1: Selama sinar cahayamu menyilaukan hatimu biarlah sinar itu terus menuntunmu dan jangan sampai membutakanmu.

From: “matahari”

06.58 pm 15 Maret 2006

Terpaku aku membaca pesan itu. Airmata yang terhenti keluar lagi. Kali ini aku tahu mengapa aku menangis. Aku bangkit, tidak peduli bahwa tak ada sehelai benang pun ditubuhku, aku mengambil pakaianku yang tergeletak di lantai dan cepat-cepat aku kenakan. Kemudian aku membereskan pakaianku yang ada di lemari. Begitu saja aku masukkan ke dalam tasku. Mengambil kunci mobil yang ada di atas meja rias. Dan aku berusaha membuka pintu ketika cahayaku mendadak bangkit dan mendekatiku.

“Ada apa sih? Siapa yang SMS kamu?” Katanya bingung melihat ulahku.

“Maaf, aku harus pulang.” Jawabku singkat.

“Tapi ada apa? Terus bagaimana dengan aku? Kamu nggak mau nerusin rencana kamu?” Tanyanya lagi. Dan ia terlihat berantakan sekali.

“Maaf tapi aku harus pulang. Sekarang.” Jawabku singkat dan airmata terus membasahi pipiku. Kemudian cahayaku hanya memberikan kecupan di keningku dan membukakan pintu kamar. Aku berlari keluar kamar menuju ruang tamu, membuka pintu depan. Dengan tidak mempedulikan gerimis aku membuka pintu mobil dan pergi meninggalkan cahayaku. Meninggalkan masa laluku. Meninggalkan romantisme masa lalu yang indah.

Aku merasakan detak jantungku berdebar ketika aku mengendarai mobilku menuju ibukota. Menuju kota yang tak pernah tidur. Disitu, mungkin, ia menungguku dengan gelisah. Tak terasa perjalananku hari ini hampir berakhir. Aku tak tahu apakah akhirnya akan baik ataukah buruk. Aku belokkan mobilku ke arah kanan memasuki gerbang perumahanku dan berhenti tepat didepan rumah putih berhalaman luas tanpa pagar setelah aku banting setir ke arah kiri dan menabrak tong sampah hingga isinya berhamburan. Buru-buru aku keluar dari kendaraan itu tanpa menutup pintunya dan berlari menuju pintu kayu berwarna cokelat tua.

Aku pencet bel. Kuulangi beberapa kali hingga pintu terbuka. Matahariku berdiri dihadapanku dengan mulut menganga karena kaget. Aku peluk dirinya dan berkata, “cahaya itu hampir membutakanku padahal cahayanya hanya cahaya kecil dibanding cahayamu yang baru mulai kusadari begitu menghangatkanku hingga ke sum-sum tulangku. Rasa hangat yang terus menjalar dan mengalir selama darahku terus mengalir. Maaf, tapi aku sayang kamu.”

Aku terisak dan ia melepaskan diri dari pelukanku. Kemudian matahariku membelai rambutku dan bibirnya membentuk senyuman manis.

Dan ia tersenyum menatapku. Kusadari bahwa aku mulai menyayanginya dan yakin akan menghabiskan hari-hariku bersamanya.

Jakarta, 14 Juli 2006

Posted in idealisme | Tagged: | Leave a Comment »