Hujan lagi? Menyebalkan. Bagiku, selamanya hujan adalah hal yang menyebalkan. Duh sebentar lagi jalan-jalan pasti macet. Kalau tidak salah hitung, sudah 6 kali hujan turun sepanjang hari ini.
“De, sepertinya tambah deras deh.” Seru Fanie, sahabatku yang duduk di samping kiriku di dalam sedan hitam kesayanganku ini. “Makin dingin pula, nggak usah pakai AC ya?” Sambungnya lagi.
“Nggak usah pakai AC? Kan jadi pengap, Fan.” Sewotku. Betul dugaanku. Dalam waktu hitungan menit, mobil-mobil di sekitarku berjalan perlahan. Hujan turun sangat deras.
“Terus gimana dong? Dingin nih, aku lupa bawa sweater.” Serunya, kemudian ia terdiam beberapa saat dan berkata, “eh, kita mampir ke Life aja. Ngopi-ngopi sambil baca buku asyik juga tuh.”
“Life?? Apaan tuh?” Tanyaku menengok sekilas ke Fanie dengan mengerutkan keningku dan kembali menatap jalan di depanku sambil sesekali menginjak rem karena kendaraan di depanku sekali-sekali berhenti.
“Itu lhoh, library-café yang baru dibuka 2 minggu lalu di dekat rumah sakit ibu-anak. Ada di kiri jalan di depan, sebentar lagi kita sampai kok. Untung belum kelewatan.” Oceh Fanie. Library-café? Boleh juga deh, nongkrong dulu. Masih jam 7, belum terlalu malam.
“Ya udah, kasih tahu gue harus belok kapan.” Sahutku.
***
Lima belas menit kemudian, Fanie dan aku sudah berada di dalam café yang di bagian dalamnya terdapat berpuluh-puluh rak buku. Kami mengambil tempat duduk dekat dengan jendela untuk melihat hujan turun. Caramel panas milikku mengepul dan mengeluarkan bau yang harum dihadapanku sedangkan Espresso milik Fanie mengeluarkan keharuman biji kopi yang membangkitkan semangat.
“Kamu mau minjem buku? Aku udah jadi member disini.” Kata Fanie.
“Member Library ya?” Tanyaku disertai dengan anggukan Fanie. “Boleh juga. Bayar berapa? Buku-bukunya lengkap?” Sambungku.
“Gratis. Buku-bukunya lumayan lengkap. Buku yang kamu cari kemarin di Gramedia apa? Anna Karenin ya? Yang karangan Leo-Leo itu ada kok. Komik Topeng Kaca yang kamu suka, lengkap.” Jawab Fanie layaknya tim promosi Library-Café ini. Aku tertawa geli melihat tingkah sahabatku. Aku hirup Caramel-ku sambil melayangkan pandangan ke luar jendela. Hujan masih terus turun, tambah lebat malah. Aku benci hujan. Mungkin karena pertama kali aku melihat kekasihku, Ruben mencium gadis lain ketika hujan turun. Kemudian, ketika akhirnya aku putus dengan Ruben hujan turun pula. Tidak ada hubungannya sih, tetapi hujan selalu membuatku menjadi seorang yang melankolis.
“Bengong terus. Kenapa? Masih mikirin Ruben ya? He’s jerk. Udahlah fuggedabout him okay? Oh ya, pokoknya kamu harus jadi member disini karena owner-nya lucu banget.” Kata Fanie menggebu-gebu yang memecah lamunanku.
“Kata siapa owner-nya lucu?” Tanyaku geli melihat wajah Fanie.
“Kataku. Baru saja aku ngomong hehehe… Mba Fiena pernah kesini bareng teman-temannya dan dia bilang owner-nya lucu banget masih muda pula.” Fanie tersenyum simpul. Oh, pantesan Fanie jadi member, ternyata ada niat lain hehehehe….
“Eh, mas…mas…daftar jadi member dong.” Teriak Fanie tiba-tiba pada seorang laki-laki yang memegang kertas-kertas tidak jauh dari tempat kami duduk. Laki-laki itu tersenyum dan menghampiri kami.
“Ya, mba? Mau jadi member? Berdua? Bawa foto? Kalau nggak bawa, menyusul nggak apa-apa kok.” Tanya laki-laki itu ramah dan ia pun duduk di puff di samping kiriku dan samping kanan Fanie.
“Nggak, sendiri eh aku sih udah, temanku yang mau jadi member.” Jawab Fanie, mukanya bersemu merah pertanda dia gugup. Pasti karena laki-laki ini. Memang menarik. Kulitnya bersih, matanya tajam, badannya besar, tangannya juga besar, hidungnya mancung, rambut cepak, alisnya tebal, lekuk bibir yang indah. Struktur wajah yang sempurna. Padahal ia bisa jadi model tapi kok malah jadi pelayan disini? Aah itu kan jalan yang sudah diatur Tuhan. Hemm…sepertinya aku akan sering datang nih kalau pelayannya dia.
“Aauw!! Gila, kira-kira dong kalau injak kakiku. Sakit tau!” Teriakku karena kaki kananku diinjak Fanie.
“Maaf, De hehehe…” Fanie menunjuk formulir dihadapanku. Pelayan itu cekikikan. Menyebalkan. Tapi kok makin cakep ya?
“Pinjem pulpen, Fan.” Pintaku. Sebelum Fanie mengambil pulpen di tasnya, pelayan itu sudah mengulurkan pulpennya. Aku mengambilnya dan sedikit menyentuh tangannya. Hangat.
“Te…terima kasih.” Kataku sambil tersenyum. Duh berengsek, kenapa aku jadi gugup begini?
“Diisi saja dulu. Saya tinggal, nanti akan ada yang mengambil.” Katanya sambil berdiri.
Tidak lama, aku pun sudah sibuk mengisi formulir tersebut sambil mendengarkan ocehan Fanie.
“Ya ampun tuh cowok ganteng banget ya. Tapi sayang pelayan.” Kata Fanie sedikit meremehkan pekerjaannya.
“Memang kenapa Fan kalau dia pelayan? Mungkin saja dia mahasiswa yang part-time, seperti Ega yang tajir banget tapi part-time jadi pelayan di Starbucks.” Kataku masih konsen mengisi formulir.
“Formulirnya, sudah mba?” Tanya seorang perempuan, membuatku menengok ke arahnya.
“Sebentar lagi ya, mba.” Sahutku.
“Baik, saya tunggu.” Perempuan itu menunggu sambil berdiri. Aneh, pelayan yang tampan tadi menunggu sambil duduk. Tak ambil pusing, buru-buru aku selesaikan mengisi formulir yang diakhiri dengan tanda tanganku dan aku serahkan fotoku.
“Ditunggu 30 menit untuk mencetak kartunya ya, Mba.” Kata perempuan itu yang disertai dengan anggukanku.
***
Sepanjang hari hujan terus, rasanya aku ingin pulang dan tidur di ranjangku yang empuk, di bawah selimutku yang hangat. Tidak…tidak….kalau aku pulang pasti akan sendiri di kamar dan aku akan kembali mengingat Ruben. Tidak, aku tidak mau pulang. Pfiuh…aku lirik jam tanganku, 10 menit lagi kuliah siang ini selesai.
“De, ke Life yuk?” Bisik Fanie pelan takut terdengar oleh dosen yang berdiri di hadapannya. Aku pun mengangguk dan terbayang dibenakku pelayan tampan Life. Aku tersenyum sendiri. Beberapa hari lalu ketika aku meminjam novel, pelayan tampan itu tersenyum padaku. Hari ini pasti dia ada.
Gerimis masih terus turun ketika kami memasuki tempat parkir library-café itu. Kami berlari kecil menghindar dari terpaan air menuju ke dalam café.
“Selamat siang. Mau pesan apa?” tegur seseorang dan ternyata pelayan tampan itu. Aku menatapnya sambil menyebutkan pesananku, Hot Royal Caramel. Kudengar Fanie menyebutkan Espresso kesukaannya. Mataku terus tertuju pada pelayan itu hingga ia menghilang ke balik tembok berwarna merah pemisah antara café dan library.
“Woy, mata tuh?” semprot Fanie, membuatku kaget dan tertawa kecil. “Heran deh, masa sih kamu ngegebet pelayan itu?” sambungnya. Aku mengerutkan kening.
“Ada yang salah?” Tanyaku.
“Dia pelayan, De.”
“Terus? Aku nggak peduli. Dia ganteng ya?” Untuk pertama kalinya pelayan itu aku puji, aku tidak peduli dengan tatapan Fanie yang seakan-akan bilang bahwa aku gila. Aku tertawa geli melihat ekspresi sahabatku itu. Daripada kena semburan Fanie lagi, aku mengambil novel “Anna Karenin” karya Leo Tolstoi yang aku pinjam beberapa hari lalu dari library Life.
“Ini Esspreso-nya dan untuk nona yang manis ini Hot Royal Caramel khusus untuk kamu.” Goda pelayan tampan itu yang tidak aku sadari kedatangannya. Aku tersenyum senang. What did he said? Nona yang manis? Ampun deh. Sahabat yang duduk di hadapanku melotot ketika aku tersenyum kepada pelayan itu.
“Terima kasih, tuan yang tampan.” Tanpa sadar aku mengucapkan kata-kata itu yang membuat Fanie menganga.
“Terima kasih juga aku dibilang tampan. Baru mulai baca karya-nya Tolstoi ya?” Tanya pelayan itu yang tiba-tiba duduk di puff sebelah kiriku. Aku sih senang-senang saja tetapi Fanie…o-ow…wajahnya kok sudah seperti kepiting yang direbus ya?
“Nggak kok. Dulu aku pernah baca Tuan dan Hamba, Perang dan Damai, dan sebelum pinjam Anna Karenin, aku baru selesai baca Kebangkitan.” Ucapku penuh semangat. Kalau soal Tolstoi bisa dibilang aku cukup tahu. He’s my favorite writer.
“Wow…berat juga bacaan kamu. Aku suka banget sama Tolstoi khususnya novel Kebangkitan.” Katanya. Aku menganggukkan kepalaku.
“Aku juga suka Kebangkitan, banyak banget filosofi yang terkandung didalamnya.” Kataku dan kemudian mengalirlah dari mulutku adegan-adegan dimana Nekhlyudov yang berjuang untuk mendapatkan kembali cinta Katyusa, tokoh dalam novel itu. Sepertinya laki-laki tampan ini cukup cerdas sebagai seorang pelayan. Dia tahu tentang filsafat seperti bagaimana pendapat Plato mengenai ultim manusia, dia juga tahu mengenai sejarah dan kebudayaan Indonesia, dia juga tahu tentang musik kesukaanku Britpop. Dia tahu semua hal ck…ck…ck… Wawasannya yang luas membuatku kagum.
Tidak terasa Caramel-ku hampir habis dan Fanie manyun melihatku asyik berbicara dengan pelayan ini tanpa mempedulikan dia.
“Maaf ya? Aku jadi ganggu kalian.” Ucapnya merasa tidak enak melihat wajah Fanie yang kesal.
“Minuman kalian sudah hampir habis. Ditambah lagi ya?” Katanya seperti sedang membujuk Fanie yang kelihatan sangat marah padanya.
“Nggak usah kok, kami sudah mau pulang.” Suara Fanie terdengar sangat ketus. Aku jadi tidak enak hati.
“Kok pulang? Eh maaf…” Pelayan tampan itu sedikit kecewa sambil melirikku. Aku pun tersenyum dilirik begitu.
“Nggak apa-apa kok.” Jawabku. Fanie sudah siap-siap berdiri.
“Benar nih nggak mau lagi? Ya sudah kalau begitu kalian nggak usah bayar. Aku yang traktir. Oh ya, terima kasih ya sudah ngobrol-ngobrol. Sering-sering kesini ya? Aku tunggu kamu. Ehm…nama kamu siapa?” Kata pelayan tampan itu sambil malu-malu melihat ke arahku. Kali ini Fanie sudah berdiri dan mau tidak mau aku ikut berdiri dan pelayan itu juga ikut berdiri. Tangannya yang besar terulur ke arahku. Aku menyambut tangannya dan mengucapkan namaku, “Dena.”
Ia tersenyum kaget. Dan ia menyebutkan namanya, “Aku Dean. Aku owner Life. Kamu sering-sering datang ya? Eh, aku boleh minta nomer HP kamu?”
Aku kaget setengah mati, bukan karena namaku dan dia mirip, tetapi laki-laki yang disangka pelayan olehku dan sahabatku yang konyol itu ternyata pemilik library-café ini. Dan ia juga meminta nomor HP-ku. Mulut Fanie langsung menganga lebih lebar dari tadi.
Hemm…ternyata tidak selamanya hujan itu menyebalkan. Kali ini aku merasa beruntung hujan datang. J