PARA PELACUR KEHIDUPAN
Posted by legendabuana on May 30, 2008
Kata-kata itu saya temukan beberapa waktu lalu di profile Friendster seorang sahabat, Cornelia. Entah mengapa saya menyukai kata-kata tersebut. Para Pelacur Kehidupan.
Dalam KBBI alias Kamus Besar Bahasa Indonesia, pelacur memiliki arti wanita tuna susila. Wanita yang menjual dirinya. Tapi dalam pengertian saya, para pelacur kehidupan merupakan orang-orang yang menjual dirinya untuk kehidupannya. Pelacur alias wanita tuna susila merupakan bagian dari para pelacur kehidupan. Bahkan kita pun merupakan para pelacur kehidupan.
Di ibukota negara seperti Jakarta, banyak kaum urban yang menetap. Gegar budaya pun kerap terjadi. Alhasil, gaya hidup yang tinggi pun menjadi suatu harga diri. Uang menjadi Tuhan. Dalam pemahaman saya, saat ini fenomena ini sedang melanda kaum urban di Jakarta. Menjadi para pelacur kehidupan. Tidak hanya terjadi pada perempuan tetapi juga para lelaki.
Banyak kaum urban yang bekerja di gedung mewah yang bertempat di kawasan bisnis dengan bayaran yang tinggi. Bayaran tinggi untuk menunjang gaya hidup yang tinggi. Tingkat stress pun menjadi tinggi. Bayangkan saja, berangkat dan pulang kerja terkena macet. Bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Rutinitas menjadi bagian dan hasilnya pun kepenatan yang tak kunjung hilang. Bekerja hanya menjadi suatu rutinitas yang tak ada rasa cinta didalamnya. Tak ada perasaan senang dalam menjalaninya. Hanya demi materi yang telah menjadi Tuhan untuk memenuhi gaya hidup. Inilah pemahaman saya terhadap para pelacur kehidupan.
Pernah hal ini saya perbincangkan dengan Cornelia ketika kami online via YM. Dan saya mendapatkan sebuah cerita menarik dari sahabat saya itu. Bahwa ada seorang wanita tuna susila yang pernah ia temui dan, ini yang menarik, wanita tuna susila tersebut bekerja karena ia menyukai sex. Materi yang ia dapat adalah nilai tambah. Menurut saya, ia tidak termasuk ke dalam para pelacur kehidupan walau profesinya adalah pelacur.
Tentang pekerjaan yang disenangi dan kemudian saya perbincangkan dengan Bang Ully Debrur, sangat menyenangkan jika kita menjalani pekerjaan yang disukai. Artinya kita tidak akan pernah terjebak dengan rutinitas yang membuat penat. Jika kita menyenangi pekerjaan kita, hal yang bersifat materi adalah nilai plus dari pekerjaan kita. Hal yang bersifat materi maupun bukan adalah nilai tambah. Dan secara keseluruhan, itu akan menjadi gaya hidup kita. Kita memiliki gaya hidup kita sendiri tanpa terpaku dengan gaya hidup tinggi kota besar. Pada akhirnya kita pun tidak akan menjadi salah satu dari para pelacur kehidupan.
Jakarta, 23 Mei 2008
Thomas Silvano said
sedikit tanggapan:
Apakah ukuran menjadi pelacur hanya dilihat dari apakah kita mencintai pekerjaan kita atau tidak?
Kalau di atas tadi disebutkan ada perempuan yang menjadi pelacur karena dia menyukai seks, sehingga ia menjalani itu dengan senang hati karena memang itu kebutuhannya, lalu bagaimana seandainya kalau ada orang yang ternyata memang menyukai uang dan kesenangan, dan ia bekerja keras untuk uang dan kesenangan hidup yang disukainya itu.
Apakah dia sudah pantas diberi jabatan pelacur?
Bagaimana pula dengan orang-orang yang bekeja keras dan terjun dalam dunia kerja yang diselimuti rutinitas dan kejenuhan karena memang karena keterpaksaan, apakah keterpaksaannya juga dapat membuat ia terjerumus dalam dunia pelacuran kehidupan, apakah tidak lebih tepat jika kejenuhan dan ketidakcintaan terhadap pekerjaan adalah siksaan bagi yang menjalaninya karena terpaksa?
Bekerja keras untuk dapat uang banyak dijaman sekarang adalah tuntutan hidup karena memang standard dan biaya hidup di jaman yang serba “beli” ini apalagi di kota-kota besar sangat tinggi dan kesenangan adalah kebutuhan (mungkin) setelah penat dan lelah bekerja sehari-hari, agar ketika kembali bekerja pada hari berikutnya dapat bekerja lagi secara maksimal.
Sedikit pandangan dari saya tentang pelacur kehidupan, mengacu pada pengertian kata “pelacur” di Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu wanita tuna susila atau wanita yang menjual dirinya (jika benar demikian artinya, sangat saya sayangkan karena pelacur juga ada yang laki-laki lho), maka pelacur kehidupan adalah orang-orang yang menjual dirinya dalam arti yang sebenar-benarnya dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan materi yang dapat memuaskan hasrat dan kebutuhannya.
Agak sedikit berbeda bukan, dengan orang-orang yang bekerja keras demi uang dan kesenangan, karena mungkin saja cara yang mereka lakukan tidak sampai jual diri.
legendabuana said
hay bung thomas,,,senangnya kau kasih komentar hehehhehe
jadi yg ingin gw sampein sebenernya,,,fenomena yg terjadi di kota besar kebanyakan para kaum urban itu punya gaya hidup yg tinggi dalam artian membeli barang beremerek, barang mewah, pergi ke club dari rabu malam hingga sabtu malam, hal-hal yg mengeluarkan uang relatif banyak untuk harga dirinya agar dibilang kaum metropolitan. Akhirnya, kebanyakan dari mereka bekerja dengan bayaran yang tinggi. Tidak peduli jenis pekerjaannya apa, tetapi bayarannya harus tinggi. “Soul” atas pekerjaan yg mereka lakukan pun ga ada. Mereka terjebak dgn rutinitas.
Hanya karena mereka ingin mendapatkan gaya hidup yg seperti itulah yg gw namakan pelacur kehidupan.
Intinya si menjual diri untuk kehidupan yang mewah, yang penuh dengan gaya hidup tinggi untuk harga diri yang tinggi yang sebenarnya ga perlu juga seperti itu jadinya kan akan berpengaruh ke pekerjaan dgn anggapan ga masalah kerja apa aja yg penting bayarannya tinggi. Nah, sekarang jika mendapatkan pekerjaan yg tidak menyenangkan bagi orang tersebut tapi bayarannya sangat tinggi dan dapat menunjang gaya hidupnya yg tinggi demi harga dirinya yg tinggi pula, bukankah orang tersebut menjual dirinya untuk kehidupan yang penuh dengan gaya hidup yang tinggi demi harga dirinya yang tinggi pula?bukankah ia dapat disebut dengan pelacur kehidupan?
hehehhehehehehhehehe
Thomas Silvano said
“Akhirnya, kebanyakan dari mereka bekerja dengan bayaran yang tinggi” (alinea pertama) ini gak jelas bung? siapa dan profesi seperti apa yang mau kau coba jelaskan?
“Tidak peduli jenis pekerjaannya apa, tetapi bayarannya harus tinggi” (kalimat berikutnya di alienea yang sama) ini juga makin nambah gakjelas pekerjaan/profesi yg seperti apa?? orang kantoran di bidang marketing atau model, atau bintang film dll misalnya, yang kerjaannya gak jam kantor dan bisa dapat bayaran yg tinggi kalo berhasil , apakah dia nikmati pekerjaannya atau tidak yg jelas dari pekerjaan itu dia dapat uang halal dan punya hak utk menikmati itu dan mendapat status kaum metroplis, apa yang salah dengan itu?
atau mungkin bisa kau bantu menyebutkan jenis pekerjaan yg tidak disukai tapi menghasilkan banyak uang?
Menurut saya, argumentasimu soal kaum metropolis, gaya hidup dan bentuk konkret pelacuran kehidupan tidak kuat dan sama sekali tidak mendasar, mungkin butuh sedikit klasifikasi dan spesifikasi mengenai apa yang ingin kau sampaikan agar mengena pada pesan yang ingin kau sampaikan lewat tulisan ini.
“yang penting adalah apa yang kau tulis, bukan apa yang kau pikirkan” (entah siapa yg mengeluarkan pernyataan ini, saya lupa namanya) tapi ini mungkin benar dalam dunia tulis menulis
legendabuana said
memang sengaja ga menyebut spesifik,,,presentasi bebas aja thomas,,karena memang inilah yg terjadi di kota besar,,,rutinitas, menginginkan pekerjaan yg entah disukai maupun tidak yg penting bayaran tinggi, gaya hidup tinggi, harga diri yang tinggi untuk menunjukkan dirinya yg paling berduit,,,inilah karakter kaum urban saat ini yg gw pahami,,,segala sesuatunya dihitung menggunakan uang atau materi,,,padahal ada hal-hal yg tidak terhitung dengan materi seperti kepuasan batin, link yg besar, karya, mungkin eksistensi diri, dan lainlain,,,
Thomas Silvano said
tapi apa yang kau pahami itu sangat bebas interpretasinya dan justru membuat tulisanmu nggak tepat sasaran, karena tidak semua kaum urban yang bekerja di perkotaan punya sifat dan karakter yang sama .
apalagi soal pekerjaan yang tidak dusukai tapi bayarannya tinggi, hehehe, apa mungkin ada orang yang nggak suka pekerjaan yang bayarannya tinggi? kalau ada yang seperti apa?
O ya, saya lupa menyinggung soal pelacur yang menyukai seks di atas, kau bilang di bukan tergolong pelacur kehidupan. Benarkah? Bukankah dia juga menjual dirinya, sekalipun dia menyukai seks?
Dia juga dibayar atas kesukaannya tersebut yang sebetulnya kalau dia memang menyukai seks bisa saja ia dapatkan tanpa harus melacur toh?
legendabuana said
ey mas hehehehhehe,,,memang ga semua kaum urban thomas, kan gw juga ga menyebutkan semua,,,hemmm pekerjaan dengan bayaran tinggi, menurut gw yg mereka suka hanya bayaran tingginya belum tentu pekerjaannya,,,kemudian ttg pelacur yg menyukai seks, menurut gw ia bukan tergolong pelacur kehidupan karena uang yg ia dapatkan adalah nilai tambah dan bukan untuk memenuhi gaya hidupnya yang tinggi agar harga dirinya tetap terjaga,,,
eniwei thomas, komen cerita gw yg laen dooooooong hihihihihii,,,
Thomas Silvano said
one last comment Bung:
soal pelacur itu lagi, nilai tambah apanya Bung? bukannya justru dia melacur malah makin ngerendahin harga dirinya? lagian akan lebih mahal kalau dia malah gak melacurlah.. dan kalau memang dia gak butuh uang dari melacur kenapa harus melacur? terlepas dia suka atau nggak sama seks, ketika orang bisa membayar untuk bisa bersetubuh sama dia, itu pelacur bung namanya. kalo gak percaya, liat aja lagi definisi pelacur yang kau tulis di awal tulisan ini.
legendabuana said
hihihihihihihihi sipsip thomas,,,actually gw memang masih perlu banyak berlatih menulis dalam hal logika berpikir,,,am juz write down what i think,,,
terima kasih atas tanggapan-tanggapannya yah,,,
Marlon Hoe said
Sepakat nih ama Thomas. G mengejar materi itu jelas. G punya banyak kebutuhan yang harus g penuhi. G pengen bikin sekolah dari TK sampai universitas. G pengen punya penerbitan sendiri. G butuh banyak uang.
Masak lu tega bener ngatain g pelacur, Bung???
Tapi apakah uang menjadi Tuhan??? Ga juga. G justru berdoa ama Tuhan untuk memberikan g semangat dalam mencari uang yang g butuhkan.
Dan ada perbedaan yang jelas antara wanita tuna susila (pekerja seks komersil) dengan penikmat seks. Penikmat seks malah rela mengeluarkan biaya untuk mendapatkannya. Jadi cerita Cornelia bahwa ada WTS yng senang sex, selama ia masih terima uang, tetap saja pelacur.
Terus selama kita memandang pekerjaan sebagai tujuan, kita akan terjebak dalam tanda tanya menyenangi atau tidak menyenangi pekerjaan. Akan berbeda saat kita memandang pekerjaan sebagai proses. Maka tidak perlu senang atau tidak, karena pekerjan menjadi bagian kecil dari pencapaian tujuan.
Kira-kira begitu sih…
legendabuana said
waaaaaaaaaaaaaa akhirnya marlon comment juga di blog gw hehehehhehehehe
sebenernya kritik gw ttg pelacur kehidupan itu adalah orang bekerja tanpa rasa cinta pada pekerjaannya yg hanya dibutakan oleh materi untuk memenuhi prestise yg tinggi,,,