Legendabuana’s Weblog

hanya sekedar kata dan kalimat yang merupakan buah pikiranku

MAHAMERU DAN RINJANI

Posted by legendabuana on May 30, 2008

“Suatu kemarahan dalam diri yang tidak dapat aku kuasai

Entah karena apa, mungkin karena diriku sendiri

Kemarahan yang bercampur rasa kecewa amat dalam

Mungkin karena harapan semu yang sangat besar

Aku tahu yang aku harapkan itu tak mungkin

Dengan harapan semu, aku tak bisa menjalani hari-hari yang makin berat

Beban yang kupikul sendiri mengikis akal dan perasaan

Sehingga terkoyak logika yang kususun sendiri

Apapun itu namanya, aku merasa amat marah pada apa yang aku pikirkan, tapi tak dapat kujawab

Tak tahu aku jawabannya

Tak ada yang dapat meredam perasaanku

Semakin jauh kuberjalan semakin sakit dadaku

Dan pada akhirnya, aku hanya bisa… PASRAH!

Jakarta, 20 Mei 2004

Air mata yang saya tahan menetes di buku catatan Mahameru. Terasa betul penderitaannya dalam kemarahan yang ia rasakan. Tidak habis saya berpikir, kesendiriannya dalam berjuang tanpa pernah mengeluh. Dalam menghadapi hal-hal yang ia anggap tidak benar, ia selalu mencoba menegakkan apa yang menurutnya benar. Bukan mencoba. Mahameru memang selalu menegakkan apa yang ia anggap benar. Suatu kebenaran yang kadang kala diragukan orang-orang yang tidak mengerti dirinya. Dan apa yang ia tegakkan itu, tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik. Tetapi Mahameru tidak pernah mengeluh. Juga tidak pernah menyesalinya.

Tulisan terakhir dalam buku catatan Mahameru membuat saya makin meneteskan banyak air mata. Mahameru sosok yang sangat saya hormati, berjuang dalam kesendiriannya menentang sesuatu yang tidak benar. Tindakan-tindakannya dalam berjuang kerap membuat saya takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada dirinya. Tulisan-tulisannya selalu membuat ia diinterogasi penguasa-penguasa militer. Tetapi dia tidak pernah takut untuk terus berjuang. Hal itu makin membuat saya bertambah kagum pada dirinya.

Saya mengagumi serta menghormati Mahameru sebagai sosok berkarakter kuat dan juga berintelek. Kepekaan sosialnya yang tinggi membuatnya menjadi seorang pejuang yang idealis. Ketakutan-ketakutan saya terhadap dirinya yang kerap menyerempet bahaya dalam berjuang merupakan rasa peduli saya pada dirinya. Saya juga berusaha untuk selalu mendukung dan berusaha untuk mengerti dirinya. Walaupun berat dilakukan tetapi saya selalu berusaha karena saya teramat peduli kepadanya sehingga menumbuhkan rasa cinta di hati saya.

Cinta… bahkan sampai akhir hayatnya Mahameru tidak pernah membicarakan cinta kepada diri saya. Ia agak skeptis mengenai hal itu. Antinya untuk sebuah kata dan rasa yang ia sekap. Tetapi karena saya teramat menghormatinya… menghormati sikap dan pribadinya, maka saya juga tidak pernah menanyakan atau menyatakan cinta kepada Mahameru. Yang saya lakukan hanya membuktikan perasaan cinta saya dengan mendukung dan mengerti dirinya. Dan saya rasa Mahameru cukup puas dengan hal itu.

Saya tahu, bahwa ia butuh dimengerti dan didukung oleh seseorang dan saya-lah yang melakukan itu. Saya pun puas karena dengan hal tersebut saya menjadi orang yang paling dekat dengannya. Dan yang membuat saya lebih puas karena saya juga menjadi tempat bergantung baginya.

Saya menangis dalam mengenang Mahameru. Laki-laki yang saya cintai dan hormati. Meninggal dalam kesendirian yang menguasai keidealisannya. Pernah saya bertanya, “Apa kamu tidak takut berjuang sendiri?” Saya menanyakan itu karena melihat beberapa temannya sudah mulai lelah untuk terus berjuang, dan melihat Mahameru tetap berjuang. Ia tersenyum dan menjawab, ”Seorang idealis akan selalu berjuang sendiri dan ia harus siap untuk sendiri. Saya seorang idealis, karena itu saya akan terus berjuang sendiri dan saya siap untuk itu.”

Miris hatiku mengingat itu. Berbagai macam perasaan yang berkecamuk di dalam diri saya membuat saya tidak kuasa untuk terus mengeluarkan air mata. Rasa haru yang teramat sangat menyeruak apabila mengingat sesuatu yang ia perjuangkan dilakukan dengan ketulusan hati. Dan tak pernah ia berharap apa pun. Mahameru melakukannya dengan keikhlasan penuh.

“Rinjani, kenapa menangis?” tanya Mahameru suatu ketika saat ia bersiap berjuang bersama teman-temannya yang tersisa.

“Saya takut terjadi sesuatu pada dirimu. Saya juga takut kamu memperjuangkan sesuatu yang sia-sia,” jawabku, yang hanya berdiri di pintu sekretariat organisasi mahasiswa di mana Mahameru duduk sebagai ketua.

“Mungkin saya akan berjuang sendiri jika teman-teman yang lain lelah mengikuti keidealisan kami. Tetapi saya siap berjuang sendiri dengan keidealisan saya yang tidak akan sia-sia. Kalaupun sia-sia….” Ia tersenyum dan mengusap air mata di pipi saya.

“Saya puas karena saya berjuang dengan idealisme saya, di mana tersimpan rasa tulus, ikhlas dari seorang warga negara untuk tanah airnya. Jadi jangan menangis lagi. Dan jangan takut terjadi sesuatu pada diri saya, karena saya tidak akan mati semudah itu.” Mahameru mengusap kepalaku dan pergi meninggalkanku.

Setelah pembicaraan itu saya selalu berusaha untuk mengerti dirinya dengan mencari dan mempelajari makna perjuangan, idealisme, kebenaran, juga kehidupan. Saya selalu mencari agar dapat menyelami pikiran-pikiran Mahameru. Perjuangan dengan idealismenya dalam menegakkan kebenaran mungkin tujuan hidup Mahameru. Mahameru, saya, serta mahasiswa lain ataupun manusia di belahan dunia manapun yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, pasti akan menjadikan nilai-nilai itu suatu idealisme pada diri masing-masing. Dan akan berpengaruh pula pada kehidupan masing-masing.

Dengan pencarian yang saya lakukan itu, saya banyak mendapatkan pelajaran-pelajaran yang tertanam dalam hati dan pikiran saya. Secara pelan dan bertahap saya pun menjadi orang yang idealis seperti Mahameru. Banyak buku-buku yang saya baca serta saya pahami, dan hal itu membuat suatu pemikiran yang benar-benar mengubah saya menjadi perempuan yang matang dalam berpikir. Membuat saya sadar bahwa hidup yang saya jalani terdapat banyak ketidakadilan, terdapat banyak sesuatu yang tidak benar, terdapat banyak penderitaan, kesengsaraan. Dan hanya orang-orang yang sadar dan tidak menutup mata dengan hal itu yang harus memperbaikinya. Orang-orang tersebut adalah orang-orang yang idealis tetapi hanya sedikit jumlahnya. Selebihnya hanyalah orang-orang munafik yang menutup mata atas penderitaan, ketidakadilan. Serta menutup mata atas sesuatu yang tidak benar.

Mahameru mengubah saya menjadi lebih terbuka melihat dunia yang saya geluti. Mahameru juga mengubah saya menjadi lebih berani dalam bersikap dan mengeluarkan pendapat di tengah orang-orang yang menekan hak berpendapat. Dan saya tidak peduli dengan orang-orang itu. Saya seperti baru dilahirkan ketika untuk pertama kalinya dapat mengeluarkan kebebasan berpendapat dengan pemikiran yang saya pikirkan sendiri. Saya seperti mendapatkan kemerdekaan dan hal itu karena Mahameru.

Saya juga menjadi lebih mengerti dirinya dan lebih mendukung dia. Teman-teman saya banyak yang berpendapat bahwa saya sama seperti Mahameru. Seorang yang idealis. Dan keras kepala. Pendapat itu justru membuat saya bangga. Bukan karena saya sama seperti Mahameru, tetapi saya bangga karena pemikiran saya adalah keidealisan saya yang diakui teman-teman.

Kembali saya mengenang Mahameru yang meninggal dalam kesendirian yang menguasai keidealisannya. Kembali pula saya meneteskan air mata dalam mengenangnya. Sosok yang mengubah pemikiran saya dalam mengenal dunia. Sosok yang saya cintai. Saya kagumi. Sosok yang saya hormati.

Perjuangan Mahameru yang menurutnya tidak sia-sia karena ia tulus dalam berjuang. Tetapi pada kenyataannya negara ini tidak berubah keadaannya menjadi lebih baik, bahkan semakin buruk. Apakah pernah terlintas kekecewaan dalam diri Mahameru? Yang saya tahu dia tidak pernah kecewa apalagi menyerah. Mahameru pun selalu menekankan bahwa seorang idealis harus siap berjuang sendiri, harus siap kesepian dan menderita dalam berjuang. Kita juga tidak boleh kecewa dan berpikir bahwa perjuangan kita sia-sia, karena itu bisa melemahkan hati dan dapat menutup hati kita yang tulus dalam berjuang. Kita juga tidak boleh menyerah dalam berjuang karena kalau menyerah berarti kalah. Kata-kata Mahameru terus saya tanam di dalam hati sehingga membentuk kekuatan dalam diri. Membentuk suatu kepercayaan diri dalam menghadapi apa yang saya perjuangkan.

Tangis saya pun berhenti ketika mengingat kata-kata Mahameru bahwa kita tidak boleh menyerah dalam berjuang. Ironis sekali! Di buku catatan Mahameru yang ia tulis sehari sebelum meninggal dalam kesendirian yang menguasai keidealisannya, ia berkata, ”Dan pada akhirnya, aku hanya bisa…PASRAH!” PASRAH? PASRAH? Untuk pertama kalinya setelah sekian lama saya tidak mengerti Mahameru. Dia selalu menekankan bahwa orang tidak boleh menyerah. Ironis sekali ia menulis kata pasrah yang berarti menyerah. Tangis saya berhenti melihat tulisan “PASRAH”. Entah apa yang saya rasakan, jantung saya berdetak kencang sekali.

Tangis saya pun meledak lagi. Mahameru yang saya kagumi, yang saya cintai, yang saya hormati, yang mengubah pandangan hidup saya, yang mengubah cara berpikir saya, yang selalu berjuang dengan penuh keidealisan, yang berjuang dengan rasa tulus dan ikhlas, yang tidak pernah takut akan kesendirian, yang tidak pernah kecewa akan perjuangan yang akan sia-sia, yang tidak pernah menyerah; meninggal dalam kesendirian yang menguasai keidealisannya. Mahameru meninggal dalam… KEPASRAHAN yang menguasai jiwanya. o

Jakarta, 8 Juni 2004

*Pernah dimuat di harian Suara Pembaruan Minggu|15 September 2005*

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>