Legendabuana’s Weblog

hanya sekedar kata dan kalimat yang merupakan buah pikiranku

Archive for May, 2008

Lembayung Senja

Posted by legendabuana on May 30, 2008

Kerinduan terhadap masa lalu membawaku menelusuri tempat dan jalan-jalan yang pernah kutempuh pada masa kecil. Hingga sampailah aku di sini, pada dermaga ini, tempatku bermain dan tertawa-tawa bersama teman sebaya, Lembayung Senja.

Di dermaga ini Lembayung Senja sering berlatih menari, aku melukis kapal-kapal mewah milik orang kaya yang sedang bersandar. Atau melukis laut, burung-burung camar, matahari senja, dan juga langit senja. Di dermaga ini pula kami sering melamunkan masa depan, yang dengan sangat tidak sabar ingin kami jelang bersama. Kala malam mulai membayang, kami baru beranjak pulang meninggalkan dermaga, untuk kembali lagi ke sana keesokan hari.

Lembayung Senja adalah gadis berkulit putih, dengan rambut hitam panjang terurai bagai air terjun, dan paras teramat cantik. Banyak laki-laki yang tergoda oleh keanggunannya. Tentu saja. Ditambah tubuhnya yang terbilang tinggi untuk anak seumur dia, dan badan yang molek serta kepintarannya menari, Lembayung Senja sungguh akan membuat para lelaki tergila-gila memimpikannya. Padahal, waktu itu dia hanyalah seorang anak perempuan yang masih berusia 12 tahun.

Lembayung Senja lahir ketika langit senja dihiasi warna lembayung, sehingga ayahnya terinspirasi memberi ia nama demikian. Mungkin karena itu pula Lembayung Senja amat menyukai saat-saat dimana dia dan aku duduk berdua di dermaga, sambil melihat ke langit senja, serta melamunkan angan-angan masa kanak kami.

“Suatu hari nanti aku ingin keliling dunia dengan tarian-tarianku. Aku ingin membuai semua penduduk dunia dengan nyanyianku,” ujarnya sambil mengikik.

“Aku ingin keliling dunia dengan lukisan-lukisanku, dan mewarnai penduduk dunia dengan cat airku,” ujarku sambil ikut terkikik-kikik.

“Kalau begitu, kita keliling dunia bersama-sama saja!” kata Lembayung Senja dengan amat gembira. Aku mengangguk, sambil menatap langit senja yang berwarna lembayung.

Angan-angan masa kecil yang sangat indah. Betapa aku rindu ingin kembali ke masa itu. Masa-masa di mana segala sesuatunya berjalan lancar, aman, dan damai. Masa-masa yang penuh dengan gelak tawa kami berdua. Saat itu, walaupun banyak kapal-kapal orang kaya yang merapat di dermaga, tetapi selalu ada tempat bagi kami berdua untuk melepas pandang, sambil duduk-duduk menikmati hembusan angin laut, juga tanpa khawatir apa-apa. Air laut pun masih terlihat jernih, dengan warna birunya yang teduh.

Tapi, setelah tujuh tahun aku pindah dari kota ini, semua terlihat berantakan. Kapal-kapal orang kaya yang bersandar di dermaga tinggal sedikit, itu pun tampak kotor pula. Padahal dulu, aku dan Lembayung Senja memimpikan ingin memiliki satu dari sekian banyak kapal-kapal yang kelihatan mewah itu. Sepanjang dermaga kini banyak sampah, kotor sekali, seperti tidak pernah dibersihkan. Tujuh tahun lalu ada seorang bapak tua yang selalu rajin membersihkan dermaga, tiap malam menjelang, ketika aktivitas di dermaga sudah berhenti. Air laut yang dulu jernih, dengan warna biru yang teduh, sekarang kumuh. Sampah bertebaran di mana-mana, airnya berwarna hijau kehitaman. Ingin rasanya aku menangis melihat semua itu. Kiranya waktu sudah mengubah semuanya.

Tujuh tahun. Waktu selama tujuh tahun telah mengubah segalanya. Termasuk angan-angan masa kanak kami. Yang terekam dalam ingatanku pada tujuh tahun yang lalu itu adalah, di awal minggu pada pertengahan tahun, ayah menyuruh kami sekeluarga bersiap-siap untuk pindah ke daerah selatan. Kata ayah kondisi kotanya relatif lebih aman di situ. Aku belum mengetahui apa-apa saat itu, jadi menurut saja yang dikatakan ayah. Ibu mengemasi pakaian-pakaianku, sedang aku mengemasi peralatan melukisku. Yang aku tahu saat itu hanyalah, kami akan pergi dan aku akan berpisah dengan Lembayung Senja. Tetapi hanya untuk sementara.

Ketika sedang memasukkan kertas-kertas gambarku ke dalam tas, kutemukan gambar Lembayung Senja, dalam momen sedang menari, dengan latar belakang laut biru, dan langit berwarna lembayung. Aku ingat, gambar itu aku lukis dengan menggunakan pinsil warna, seminggu sebelumnya. Ingin sekali aku waktu itu menyerahkannya pada Lembayung Senja. Maka aku lari ke luar kamar. Tapi sesampai di teras ayah memanggilku. “Kamu mau ke mana?” tanya ayah, yang sudah berdiri di ambang pintu, seperti sengaja mengawasi.

“Ke dermaga, mau kasih gambar pada Lembayung Senja. Ia pasti menunggu-nungguku di dermaga,” jawabku, sambil terheran-heran kenapa ayah bertanya begitu. Padahal beliau tahu tiap sore aku ke dermaga. Namun dalam pikiranku waktu itu, aku harus segera memberikan gambar itu kepada Lembayung Senja, sekaligus berpamitan, serta berjanji untuk mewujudkan angan-angan masa kanak-kanak kami. Sebab, besok pagi kami sekeluarga akan berangkat menuju daerah selatan.

“Jangan ke dermaga! Situasi sangat kacau! Keadaan bahaya. Nanti, biar Ayah yang memberikan gambar itu pada ayah si Lembayung,” ujar ayah. Dia tampak panik. Dan aku serahkan gambar itu pada ayah, kembali terheran-heran. Ada apa sebetulnya? Apa yang sedang terjadi? Mengapa ayah begitu panik? Tidak biasanya beliau panik. Biasanya, ayah sangat tenang dalam menghadapi sesuatu.

Malamnya aku tidak bisa tidur, gelisah memikirkan gambar itu. Aku sangsi, apakah ayah akan benar-benar memberikannya pada ayah Lembayung Senja. Apakah ayah Lembayung Senja akan memberikan padanya. Tetapi akhirnya aku terlelap juga. Lalu esok paginya bangun dengan cepat, siap-siap berangkat menuju daerah selatan.

Daerah selatan. Baru pertama kali itu aku datang ke daerah ini, yang sama sekali berbeda dengan daerah utara, tempat tinggalku sebelumnya. Tapi satu hal yang sama pada kedua daerah itu, adalah udaranya. Sama-sama bersih. Bila di utara bersih oleh angin laut, di selatan karena hawa pegunungan. Makanya aku cepat merasa betah di daerah selatan.

Aku juga berpikir kami akan menetap sementara dan segera kembali ke rumah kami dekat dermaga. Tapi ternyata tidak. Dengan alasan keamanan ayah memutuskan tetap tinggal di daerah selatan, dengan udara pegunungannya yang sejuk itu. Namun betapapun aku selalu teringat saat-saat bersama Lembayung Senja, terutama momen-momen kala di dermaga. Aku juga selalu mengingat langit senja, angan-angan masa kanak kami. Dan, tentu saja, selalu mengingat Lembayung Senja, yang entah di mana dia sekarang.

Terakhir kudengar kabar dari seorang kawan sekolahku dulu, yang rumahnya tidak begitu jauh dari rumah Lembayung Senja. Bahwa beberapa hari setelah aku pindah, terjadi kerusuhan etnis di daerah utara. Rumah serta toko-toko dijarah, juga dibakar. Termasuk rumah-toko ayah Lembayung Senja. Ibu dan adiknya ikut terbakar di dalamnya. Ayahnya dipukuli ramai-ramai oleh orang-orang yang tidak jelas datang dari mana. Lebih tragis, nasib Lembayung Senja. Diperkosa orang-orang yang juga tidak jelas datang dari mana. Yang pasti, orang-orang bringas itu berbeda etnis dengan keluarga Lembayung Senja. Namun itu tetap bukan alasan untuk berbuat biadab.

Etnis Lembayung Senja juga berbeda denganku. Tetapi dia dan aku tak pernah peduli itu. Juga kulit ataupun agama kami yang tidak sama. Hubungan kami dijalin atas kemanusiaan.

Aku benar-benar sedih dan prihatin memikirkan nasib Lembayung Senja, juga keluarganya. Mereka sudah seperti saudaraku. Pernah, suatu hari aku ikut diberi uang oleh ayah Lembayung Senja, karena Lembayung Senja meminta uang kepada ayahnya di hadapanku. Pernah juga aku dibelikan Lembayung Senja kertas gambar. Dia juga yang menemaniku di rumah sakit sewaktu aku terkena tipus. Lembayung Senja dan keluarganya menghormatiku ketika aku berpuasa. Dia bahkan sering mengingatkanku bila waktu shalat tiba.

Kebaikan Lembayung Senja serta keluarganya sungguh menyentuh kalbuku. Walau mungkin sebagian orang menganggap hal-hal seperti itu biasa saja, tetapi tidak bagiku. Untukku semua itu teramat istimewa.

Masih kutelusuri tempat dan jalan-jalan masa laluku dengan penuh kerinduan. Pada tiap langkah yang kujejakkan di dermaga, aku kenang kembali semua peristiwa yang kualami bersama Lembayung Senja, tujuh tahun yang lalu. Melihat Lembayung Senja menari, dan kemudian kutuangkan dalam kertas gambarku. Menikmati lantunan lagu yang keluar dari bibirnya yang mungil. Memandang warna lembayung di langit senja, bersama-sama. Lalu tertawa, bersama-sama pula.

Ah, ya, aku ingat kini. Kami pernah mengukir namaku dan nama Lembayung Senja di pasak kayu sebelah barat dermaga. Aku berlari ke sana, mencari-cari ukiran itu. Ah, ini dia…

Lembayung Senja – Penari

Banyu Biru – Pelukis

Yang aku ingat, ketika itu, kami mengukir nama serta cita-cita kami di pasak, supaya kami kelak bisa ke “Barat”, alias ke luar negeri. Keliling dunia, bersama-sama, dengan keahlian kami –seperti yang kami angan-angankan.

Tulisan di atas kayu itu masih jelas keberadaannya. Sedangkan seseorang yang namanya tertulis pada kayu itu, kini tidak jelas lagi. Apakah dia masih hidup, ataukah sudah tiada? Aku tidak tahu. Tetapi yang pasti, kebaikannya masih akan terus hidup, kurindukan dan kuingat, seperti warna lembayung pada senja hari –bila cuaca terang dan baik.

Jakarta, 9 November 2005

Posted in idealisme | Tagged: | 2 Comments »

Senandung Keadilan

Posted by legendabuana on May 30, 2008

Udara panas serta nyanyian-nyanyian anak muda yang memekakkan telinga tidak membuatnya berhenti berjalan. Long march dari makam puteranya menuju lembaga hukum terhormat negara ini tidak menyurutkan niat wanita paruh baya itu berhenti melangkah. Tak peduli dengan panasnya matahari siang yang menyengat kulit. Tak peduli peluh yang membasahi tubuhnya. Tak peduli dengan sesaknya kerumunan orang yang berjalan di sekelilingnya. Tak peduli apapun, hanya untuk mencari suatu makna kata ‘keadilan’.

Lautan manusia yang mengenakan almamater yang berwarna-warni terhampar di belakang wanita yang masih terlihat cantik di usia tuanya. Ia menolehkan wajahnya ke belakang dan terlihatlah warna-warna yang menunjukkan masing-masing universitas dan institusi anak-anak muda. Mereka makin bersemangat untuk bernyanyi. Mereka menyanyikan keadilan yang entah ada di mana. Hal itu makin membuat wanita berambut kelabu itu bersemangat melangkah. Merasa ada orang-orang yang mendukungnya.

Wanita itu berhenti sebentar, menghela nafas, dan melanjutkan perjalanan kembali. Tiba-tiba di sampingnya ikut berjalan seorang gadis manis yang mengenakan almamater warna oranye dengan kerah berwarna hitam. Gadis yang merendengi langkahnya tersenyum kepadanya. Senyumnya menyejukkan hati di tengah panas matahari dan sesaknya massa.

“Ibu capek? Mau saya temani istirahat sebentar?” tanya gadis itu masih dengan senyumannya yang manis. Bagai disiram air dingin di tengah terik, wanita yang dipanggil ibu itu tersenyum dan menggeleng.

“Tidak usah, nanti tertinggal,” katanya.

“Kalau begitu Ibu minum dulu ya?” Gadis itu menyodorkan segelas air mineral.

“Terima kasih,” ujar ibu itu setelah mengambil air tersebut. Ia reguk sedikit, maka legalah keronggokannya yang kering. Kemudian ia habiskan perlahan seakan menikmati rasa yang terkecap dalam air mineral itu. “Terima kasih, Nak.”

Wanita yang dipanggil ibu oleh gadis manis berjaket oranye itu meneruskan perjalanannya. Perjalanan yang akan membuatnya menemui seteguk keadilan, begitu pikirnya. Pikirannya pun melayang ke delapan tahun lalu, ketika ia mendengar peristiwa tubuh putra kesayangannya tertembus timah panas. Hatinya remuk. Hancur. Semangat hidupnya seperti ikut terkubur ketika hari pemakaman putranya tiba. Tetapi, apabila mengingat setan berwujud manusia yang melemparkan timah panas ke tubuh putranya, hatinya pun ikut panas dan bergetar. Semangatnya hidup kembali. Semangat untuk menemukan keadilan bagi putranya.

Ia terus berjalan bersama lautan massa menuju lembaga hukum terhormat negara ini untuk mencari sosok keadilan. Ia terus berjalan dengan tegar sementara matahari makin menghitamkan kulitnya yang berwarna sawo matang.

“Adakah keadilan akan aku temui?” ucapnya. Gadis yang memberinya minuman tersenyum.

“Setidaknya kita berusaha,” ujar gadis itu dengan suara lembut menenangkan hati.

“Perasaanku sewajarnya perasaan ibu yang ditinggalkan puteranya tanpa pamit. Tetapi perasaanku lebih terluka ketika mendengar bagaimana ia meninggal. Kenapa harus anakku? Pertanyaan itu terus menghantuiku,” ucapnya lagi. Gadis itu mendengarkan dan menatapnya lembut seakan mengerti bagaimana perasaannya.

“Kamu tahu, kalau anakku terkena timah panas ketika sedang menolong temannya yang terluka?” Gadis itu mengangguk.

“Padahal anakku tidak berada di antara massa demonstran dan tidak melakukan tindakan anarkis. Anakku hanya melakukan tindakan kemanusiaan ketika melihat kawannya terluka. Tetapi justru anakku yang terluka dan meninggal.”

“Yang aku inginkan hanya mengetahui siapa yang memberikan timah panas itu ke tubuh anakku. Dan, untuk apa? Aku sudah merelakan kepergian anakku, walau berat. Tapi aku tidak rela pelakunya masih bebas berkeliaran. Di masa depan ia mungkin melakukannya lagi terhadap anak dari ibu-ibu yang lain. Sungguh, aku tidak rela para ibu memiliki perasaan yang sama denganku. Cukup aku saja yang kehilangan anakku. Jangan lagi ada anak orang lain.”

“Aku belajar banyak atas kejadian ini. Belajar bersabar dalam memperjuangkan keadilan. Apakah menurutmu negara ini cukup adil dalam memperlakukan warganya? Orang-orang yang memiliki uang banyak walau ia penjahat atau koruptor bisa melenggang bebas. Sedangkan anakku dan teman-temannya yang berjuang untuk kemakmuran negara ini dilempari timah panas. Dipukul, disemprot dengan gas cair yang membuat kulit terasa panas dan gatal. Seakan-akan mereka penjahat. Padahal apa yang mereka lakukan untuk kebaikan bangsa ini. Negara ini.” Gadis yang berada di sebelah kanannya tidak menggeleng maupun mengangguk. Ia terdiam meresapi curahan hati ibu yang gelisah dengan keadaan tersebut.

“Seorang ibu dapat melakukan apapun untuk anaknya. Karena itu aku di sini, berjalan bersama kalian. Bersama-sama menuntut keadilan bagi semua, tidak hanya untuk anakku. Agar di masa mendatang tak ada lagi kejadian serupa.” Ibu itu menghela nafas dan mengelap peluh di dahi menggunakan tangannya yang mulai berkeriput. Gadis manis itu memberikan tisu kepadanya dan diterima dengan senyuman tulus.

“Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin negara ini yang berbaik hati memberikan keadilan untuk kita? Seperti kamu yang berbaik hati memberiku air di tengah panas matahari? Memberikanku tisu di tengah peluh membasahi tubuh? Bila ada yang berbaik hati, sungguh dimuliakan ia oleh Tuhan.” Gadis itu tersipu, tidak menyangka perbuatan yang wajar dilakukan itu ditanggapi istimewa oleh ibu yang tidak ia kenal.

Terus melangkah, mereka berjalan beriringan. Panas matahari makin menyengat kulit. Lembaga hukum terhormat hanya berjarak 10 meter lagi. Seorang anak muda berorasi dengan penuh semangat di depan gerbang lembaga hukum tersebut. Menuntut keadilan dengan menyelesaikan kasus delapan tahun lalu. Ia juga menuntut petinggi lembaga hukum terhormat itu untuk keluar. Terus menerus ia bersama mahasiswa lainnya berteriak-teriak. Dalam waktu setengah jam salah seorang petinggi lembaga hukum keluar. Mahasiswa yang berorasi melakukan pembicaraan dengan petinggi lembaga hukum, terpisahkan pagar besi yang kokoh dan tinggi. Ibu berambut kelabu tadi melihat dari kerumunan massa. Beberapa keluarga korban menghampiri mahasiswa yang terlibat pembicaraan.

Sayup-sayup terdengar pembicaraan itu ke telinga si Ibu. Kasus delapan tahun lalu bukanlah pelanggaran HAM berat dan pemerintah perlu membentuk suatu komisi kebenaran dan rekonsiliasi. Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikiran si Ibu. Kebenaran apalagi yang harus diselidiki? Bukankah suatu kebenaran yang sangat nyata tubuh puteranya tertembus timah panas dan timah panas itu berasal dari senjata militer pemerintah? Bukankah menyabut nyawa seseorang itu melanggar hak asasi manusia?

Dengan kekuatan yang tersisa dalam tubuh kecilnya, si Ibu menyeruak di antara kerumunan, maju ke depan pagar, mendorong mahasiswa tadi dan menatap tajam petinggi lembaga hukum. Ia mengambil sesuatu dalam tasnya yang besar. Telur dan tomat busuk Ia lempar ke tubuh petinggi lembaga hukum yang terhormat itu. Dan Ia juga melemparnya ke halaman gedung lembaga hukum. Puas dengan apa yang ia lakukan, ia masuk kembali ke dalam kerumunan massa. Ke arah gadis manis yang memberinya minum dan tisu.

“Kesabaran pun ada batasnya, Nak. Tidak selamanya aku dapat bersabar. Beruntung dia tidak aku lempar dengan timah panas. Telur dan tomat busuk rasanya cukup setimpal dengan lembaga hukum yang busuk ,” katanya. Gadis itu tersenyum tertahan melihat semua adegan tadi.

Jakarta, 20 Desember 2006

Posted in idealisme | Tagged: | 3 Comments »

PARA PELACUR KEHIDUPAN

Posted by legendabuana on May 30, 2008

Kata-kata itu saya temukan beberapa waktu lalu di profile Friendster seorang sahabat, Cornelia. Entah mengapa saya menyukai kata-kata tersebut. Para Pelacur Kehidupan.

Dalam KBBI alias Kamus Besar Bahasa Indonesia, pelacur memiliki arti wanita tuna susila. Wanita yang menjual dirinya. Tapi dalam pengertian saya, para pelacur kehidupan merupakan orang-orang yang menjual dirinya untuk kehidupannya. Pelacur alias wanita tuna susila merupakan bagian dari para pelacur kehidupan. Bahkan kita pun merupakan para pelacur kehidupan.

Di ibukota negara seperti Jakarta, banyak kaum urban yang menetap. Gegar budaya pun kerap terjadi. Alhasil, gaya hidup yang tinggi pun menjadi suatu harga diri. Uang menjadi Tuhan. Dalam pemahaman saya, saat ini fenomena ini sedang melanda kaum urban di Jakarta. Menjadi para pelacur kehidupan. Tidak hanya terjadi pada perempuan tetapi juga para lelaki.

Banyak kaum urban yang bekerja di gedung mewah yang bertempat di kawasan bisnis dengan bayaran yang tinggi. Bayaran tinggi untuk menunjang gaya hidup yang tinggi. Tingkat stress pun menjadi tinggi. Bayangkan saja, berangkat dan pulang kerja terkena macet. Bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Rutinitas menjadi bagian dan hasilnya pun kepenatan yang tak kunjung hilang. Bekerja hanya menjadi suatu rutinitas yang tak ada rasa cinta didalamnya. Tak ada perasaan senang dalam menjalaninya. Hanya demi materi yang telah menjadi Tuhan untuk memenuhi gaya hidup. Inilah pemahaman saya terhadap para pelacur kehidupan.

Pernah hal ini saya perbincangkan dengan Cornelia ketika kami online via YM. Dan saya mendapatkan sebuah cerita menarik dari sahabat saya itu. Bahwa ada seorang wanita tuna susila yang pernah ia temui dan, ini yang menarik, wanita tuna susila tersebut bekerja karena ia menyukai sex. Materi yang ia dapat adalah nilai tambah. Menurut saya, ia tidak termasuk ke dalam para pelacur kehidupan walau profesinya adalah pelacur.

Tentang pekerjaan yang disenangi dan kemudian saya perbincangkan dengan Bang Ully Debrur, sangat menyenangkan jika kita menjalani pekerjaan yang disukai. Artinya kita tidak akan pernah terjebak dengan rutinitas yang membuat penat. Jika kita menyenangi pekerjaan kita, hal yang bersifat materi adalah nilai plus dari pekerjaan kita. Hal yang bersifat materi maupun bukan adalah nilai tambah. Dan secara keseluruhan, itu akan menjadi gaya hidup kita. Kita memiliki gaya hidup kita sendiri tanpa terpaku dengan gaya hidup tinggi kota besar. Pada akhirnya kita pun tidak akan menjadi salah satu dari para pelacur kehidupan.

Jakarta, 23 Mei 2008

Posted in realisme | Tagged: | 10 Comments »

MAHAMERU DAN RINJANI

Posted by legendabuana on May 30, 2008

“Suatu kemarahan dalam diri yang tidak dapat aku kuasai

Entah karena apa, mungkin karena diriku sendiri

Kemarahan yang bercampur rasa kecewa amat dalam

Mungkin karena harapan semu yang sangat besar

Aku tahu yang aku harapkan itu tak mungkin

Dengan harapan semu, aku tak bisa menjalani hari-hari yang makin berat

Beban yang kupikul sendiri mengikis akal dan perasaan

Sehingga terkoyak logika yang kususun sendiri

Apapun itu namanya, aku merasa amat marah pada apa yang aku pikirkan, tapi tak dapat kujawab

Tak tahu aku jawabannya

Tak ada yang dapat meredam perasaanku

Semakin jauh kuberjalan semakin sakit dadaku

Dan pada akhirnya, aku hanya bisa… PASRAH!

Jakarta, 20 Mei 2004

Air mata yang saya tahan menetes di buku catatan Mahameru. Terasa betul penderitaannya dalam kemarahan yang ia rasakan. Tidak habis saya berpikir, kesendiriannya dalam berjuang tanpa pernah mengeluh. Dalam menghadapi hal-hal yang ia anggap tidak benar, ia selalu mencoba menegakkan apa yang menurutnya benar. Bukan mencoba. Mahameru memang selalu menegakkan apa yang ia anggap benar. Suatu kebenaran yang kadang kala diragukan orang-orang yang tidak mengerti dirinya. Dan apa yang ia tegakkan itu, tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik. Tetapi Mahameru tidak pernah mengeluh. Juga tidak pernah menyesalinya.

Tulisan terakhir dalam buku catatan Mahameru membuat saya makin meneteskan banyak air mata. Mahameru sosok yang sangat saya hormati, berjuang dalam kesendiriannya menentang sesuatu yang tidak benar. Tindakan-tindakannya dalam berjuang kerap membuat saya takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada dirinya. Tulisan-tulisannya selalu membuat ia diinterogasi penguasa-penguasa militer. Tetapi dia tidak pernah takut untuk terus berjuang. Hal itu makin membuat saya bertambah kagum pada dirinya.

Saya mengagumi serta menghormati Mahameru sebagai sosok berkarakter kuat dan juga berintelek. Kepekaan sosialnya yang tinggi membuatnya menjadi seorang pejuang yang idealis. Ketakutan-ketakutan saya terhadap dirinya yang kerap menyerempet bahaya dalam berjuang merupakan rasa peduli saya pada dirinya. Saya juga berusaha untuk selalu mendukung dan berusaha untuk mengerti dirinya. Walaupun berat dilakukan tetapi saya selalu berusaha karena saya teramat peduli kepadanya sehingga menumbuhkan rasa cinta di hati saya.

Cinta… bahkan sampai akhir hayatnya Mahameru tidak pernah membicarakan cinta kepada diri saya. Ia agak skeptis mengenai hal itu. Antinya untuk sebuah kata dan rasa yang ia sekap. Tetapi karena saya teramat menghormatinya… menghormati sikap dan pribadinya, maka saya juga tidak pernah menanyakan atau menyatakan cinta kepada Mahameru. Yang saya lakukan hanya membuktikan perasaan cinta saya dengan mendukung dan mengerti dirinya. Dan saya rasa Mahameru cukup puas dengan hal itu.

Saya tahu, bahwa ia butuh dimengerti dan didukung oleh seseorang dan saya-lah yang melakukan itu. Saya pun puas karena dengan hal tersebut saya menjadi orang yang paling dekat dengannya. Dan yang membuat saya lebih puas karena saya juga menjadi tempat bergantung baginya.

Saya menangis dalam mengenang Mahameru. Laki-laki yang saya cintai dan hormati. Meninggal dalam kesendirian yang menguasai keidealisannya. Pernah saya bertanya, “Apa kamu tidak takut berjuang sendiri?” Saya menanyakan itu karena melihat beberapa temannya sudah mulai lelah untuk terus berjuang, dan melihat Mahameru tetap berjuang. Ia tersenyum dan menjawab, ”Seorang idealis akan selalu berjuang sendiri dan ia harus siap untuk sendiri. Saya seorang idealis, karena itu saya akan terus berjuang sendiri dan saya siap untuk itu.”

Miris hatiku mengingat itu. Berbagai macam perasaan yang berkecamuk di dalam diri saya membuat saya tidak kuasa untuk terus mengeluarkan air mata. Rasa haru yang teramat sangat menyeruak apabila mengingat sesuatu yang ia perjuangkan dilakukan dengan ketulusan hati. Dan tak pernah ia berharap apa pun. Mahameru melakukannya dengan keikhlasan penuh.

“Rinjani, kenapa menangis?” tanya Mahameru suatu ketika saat ia bersiap berjuang bersama teman-temannya yang tersisa.

“Saya takut terjadi sesuatu pada dirimu. Saya juga takut kamu memperjuangkan sesuatu yang sia-sia,” jawabku, yang hanya berdiri di pintu sekretariat organisasi mahasiswa di mana Mahameru duduk sebagai ketua.

“Mungkin saya akan berjuang sendiri jika teman-teman yang lain lelah mengikuti keidealisan kami. Tetapi saya siap berjuang sendiri dengan keidealisan saya yang tidak akan sia-sia. Kalaupun sia-sia….” Ia tersenyum dan mengusap air mata di pipi saya.

“Saya puas karena saya berjuang dengan idealisme saya, di mana tersimpan rasa tulus, ikhlas dari seorang warga negara untuk tanah airnya. Jadi jangan menangis lagi. Dan jangan takut terjadi sesuatu pada diri saya, karena saya tidak akan mati semudah itu.” Mahameru mengusap kepalaku dan pergi meninggalkanku.

Setelah pembicaraan itu saya selalu berusaha untuk mengerti dirinya dengan mencari dan mempelajari makna perjuangan, idealisme, kebenaran, juga kehidupan. Saya selalu mencari agar dapat menyelami pikiran-pikiran Mahameru. Perjuangan dengan idealismenya dalam menegakkan kebenaran mungkin tujuan hidup Mahameru. Mahameru, saya, serta mahasiswa lain ataupun manusia di belahan dunia manapun yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, pasti akan menjadikan nilai-nilai itu suatu idealisme pada diri masing-masing. Dan akan berpengaruh pula pada kehidupan masing-masing.

Dengan pencarian yang saya lakukan itu, saya banyak mendapatkan pelajaran-pelajaran yang tertanam dalam hati dan pikiran saya. Secara pelan dan bertahap saya pun menjadi orang yang idealis seperti Mahameru. Banyak buku-buku yang saya baca serta saya pahami, dan hal itu membuat suatu pemikiran yang benar-benar mengubah saya menjadi perempuan yang matang dalam berpikir. Membuat saya sadar bahwa hidup yang saya jalani terdapat banyak ketidakadilan, terdapat banyak sesuatu yang tidak benar, terdapat banyak penderitaan, kesengsaraan. Dan hanya orang-orang yang sadar dan tidak menutup mata dengan hal itu yang harus memperbaikinya. Orang-orang tersebut adalah orang-orang yang idealis tetapi hanya sedikit jumlahnya. Selebihnya hanyalah orang-orang munafik yang menutup mata atas penderitaan, ketidakadilan. Serta menutup mata atas sesuatu yang tidak benar.

Mahameru mengubah saya menjadi lebih terbuka melihat dunia yang saya geluti. Mahameru juga mengubah saya menjadi lebih berani dalam bersikap dan mengeluarkan pendapat di tengah orang-orang yang menekan hak berpendapat. Dan saya tidak peduli dengan orang-orang itu. Saya seperti baru dilahirkan ketika untuk pertama kalinya dapat mengeluarkan kebebasan berpendapat dengan pemikiran yang saya pikirkan sendiri. Saya seperti mendapatkan kemerdekaan dan hal itu karena Mahameru.

Saya juga menjadi lebih mengerti dirinya dan lebih mendukung dia. Teman-teman saya banyak yang berpendapat bahwa saya sama seperti Mahameru. Seorang yang idealis. Dan keras kepala. Pendapat itu justru membuat saya bangga. Bukan karena saya sama seperti Mahameru, tetapi saya bangga karena pemikiran saya adalah keidealisan saya yang diakui teman-teman.

Kembali saya mengenang Mahameru yang meninggal dalam kesendirian yang menguasai keidealisannya. Kembali pula saya meneteskan air mata dalam mengenangnya. Sosok yang mengubah pemikiran saya dalam mengenal dunia. Sosok yang saya cintai. Saya kagumi. Sosok yang saya hormati.

Perjuangan Mahameru yang menurutnya tidak sia-sia karena ia tulus dalam berjuang. Tetapi pada kenyataannya negara ini tidak berubah keadaannya menjadi lebih baik, bahkan semakin buruk. Apakah pernah terlintas kekecewaan dalam diri Mahameru? Yang saya tahu dia tidak pernah kecewa apalagi menyerah. Mahameru pun selalu menekankan bahwa seorang idealis harus siap berjuang sendiri, harus siap kesepian dan menderita dalam berjuang. Kita juga tidak boleh kecewa dan berpikir bahwa perjuangan kita sia-sia, karena itu bisa melemahkan hati dan dapat menutup hati kita yang tulus dalam berjuang. Kita juga tidak boleh menyerah dalam berjuang karena kalau menyerah berarti kalah. Kata-kata Mahameru terus saya tanam di dalam hati sehingga membentuk kekuatan dalam diri. Membentuk suatu kepercayaan diri dalam menghadapi apa yang saya perjuangkan.

Tangis saya pun berhenti ketika mengingat kata-kata Mahameru bahwa kita tidak boleh menyerah dalam berjuang. Ironis sekali! Di buku catatan Mahameru yang ia tulis sehari sebelum meninggal dalam kesendirian yang menguasai keidealisannya, ia berkata, ”Dan pada akhirnya, aku hanya bisa…PASRAH!” PASRAH? PASRAH? Untuk pertama kalinya setelah sekian lama saya tidak mengerti Mahameru. Dia selalu menekankan bahwa orang tidak boleh menyerah. Ironis sekali ia menulis kata pasrah yang berarti menyerah. Tangis saya berhenti melihat tulisan “PASRAH”. Entah apa yang saya rasakan, jantung saya berdetak kencang sekali.

Tangis saya pun meledak lagi. Mahameru yang saya kagumi, yang saya cintai, yang saya hormati, yang mengubah pandangan hidup saya, yang mengubah cara berpikir saya, yang selalu berjuang dengan penuh keidealisan, yang berjuang dengan rasa tulus dan ikhlas, yang tidak pernah takut akan kesendirian, yang tidak pernah kecewa akan perjuangan yang akan sia-sia, yang tidak pernah menyerah; meninggal dalam kesendirian yang menguasai keidealisannya. Mahameru meninggal dalam… KEPASRAHAN yang menguasai jiwanya. o

Jakarta, 8 Juni 2004

*Pernah dimuat di harian Suara Pembaruan Minggu|15 September 2005*

Posted in idealisme | Tagged: | Leave a Comment »