Rumah itu berwarna putih. Secara keseluruhan berwarna putih. Pagarnya hingga keramik lantainya berwarna putih. Tidak terlalu besar, tetapi cukup besar untuk tempat tinggal keluarga beranak satu. Ditambah paviliun kecil yang juga berwarna putih di bagian belakang rumah serta halaman depan dan samping yang cukup luas. Rumah itu lebih dari cukup bagi keluarga kami.
Dibangun sejak tahun 1930-an, unsur-unsur arsitektur Belanda masih lekat di bangunan itu. Mulai dari bentuk atap limas hingga bentuk jendela serta pintunya. Nenekku lahir di situ. Ibuku lahir di situ. Aku pun lahir di situ. Pada saat nenek lahir, warnanya pun sudah putih. Nenek menikah, warna bangunan itu mulai kelabu. Dicat kembali, mungkin dengan permintaan nenek buyutku. Pada saat ibuku lahir warna bangunan itu kembali putih. Ibuku menikah, warna bangunannya jadi kelabu. Dengan permintaan nenekku, pada saat aku lahir, warna bangunan itu pun putih kembali.
Saat itu aku masih duduk di sekolah dasar, ketika ibuku memutuskan pindah ke rumah lain yang dekat dengan kantornya di daerah Blok M.
“Jauh dari kantorku, Bang,” serunya kepada ayahku, pada suatu malam ketika rasa kantukku belum datang. Aku bangun dan duduk di pinggir ranjang mendengarkan. Ayah dan ibuku di ruang tengah tepat di depan kamarku.
“Tapi rumah ini sudah jadi sanggar teaterku. Dekat dengan pusat kesenian. Kalau ada pertunjukan kan anak-anak juga cepat beristirahat,” kata ayahku pelan.
“Sudah, jadikan saja rumah ini sanggarmu. Kita pindah ke daerah Blok M,” seru ibuku.
“Carilah rumah yang kau mau dekat kantormu. Biar rumah ini jadi sanggar teaterku,” lanjut ayah.
“Rumah ini saja jadi sanggar teatermu. Paviliunnya kontrakkan saja, lumayan juga untuk dana kebersihan rumah, bagaimana?” tanya ibu setelah beberapa saat terdiam.
“Baiklah, kalau itu maumu,” ayah berkata pelan.
“Aku akan beli cat putih besok, kita cat paviliunnya supaya lebih bersih dan orang mau menyewa. Sudah mulai kelabu warna paviliun itu.”
Atau permintaan ibu, rumah itu pun dicat putih kembali, tetapi hanya paviliun belakang. Bukan karena aku akan menikah, tetapi untuk orang yang akan menyewa tempat itu.
***
Di hari Minggu, aku diajak ibu jalan-jalan ke daerah Blok M, makan Bakmi Boy, dan melihat-lihat rumah di daerah yang dekat dengan kantor ibu.
“Lihat, Gadis, lihat rumah itu,” seru ibu menunjuk rumah warna pastel dan halamannya kecil. “Bagus ya? Itu akan jadi rumah kita,” seru ibu senang.
Aku tidak suka melihatnya. Krem. Aku heran dengan selera ibu. Warna krem? Yang benar saja. Bagiku warna rumah yang sempurna adalah putih. Putih merupakan warna dasar dan aku bisa menaruh berbagai macam warna lain di dalamnya. Seperti rumah putihku. Aku bisa memasukkan bermacam barang berwarna-warni dan “warna” kenangan ke dalamnya tapi tetap menjadikan rumah itu apik. Aku selalu seperti itu, setiap kenangan selalu aku identikan dengan warna dan aku menyebutnya “warna kenangan”.
Warna krem pasti hanya warna-warna cokelat saja bisa masuk ke dalamnya. Aku tidak suka cokelat. Suram, bagiku. Ibuku menanyakan aku lagi, “Bagus kan rumahnya, Gadis?”
Aku hanya diam. Aku tak suka. Aku suka rumah putihku. Kemudian aku menggeleng.
“Kenapa, Gadis?”
Aku tetap diam dan melihat halamannya. “Dimana aku bisa bermain? Halamannya kecil. Aku tidak bisa berlari mengejar Pak Pong,” seruku menyebut nama anggota teater ayahku yang kerap mengajakku berlari sambil bermain bola. Pak Pong ramah dan menyenangkan. Badannya besar, langkahnya pun lebar. Aku berlari beberapa langkah, dia bisa menangkapku hanya dalam sekali langkah.
“Pak Pong ada di rumah Menteng, rumah itu jadi sanggar ayah. Rumah kita nanti di sini. Kamu tetap bisa berlarian di rumah Menteng, kok,” kata ibu.
“Tapi rumah ini berwarna krem, bukan putih,” seruku.
“Kita bisa mencatnya jadi putih.” Aku pun terdiam.
Beberapa minggu setelah aku dan ibu mengunjungi rumah itu, kami pindah. Lebih kecil dari rumah putihku. Lebih sepi pula. Hanya beberapa barang yang dipindahkan. Sekolahku pun pindah.
Sekian tahun aku tinggal di rumah krem itu. Warnanya pun tetap krem, tidak dicat putih seperti mauku. Terkadang aku datang ke rumah putihku dan melihat beberapa barang tempatnya berubah. Kamarku sudah tidak seperti dulu, berganti jadi ruang kostum. Halamannya yang besar jadi sempit sebab seniman-seniman artistik teater ayahku menjadikannya tempat kerja. Tadinya mereka bekerja di halaman paviliun, karena disewa mereka pindah ke halaman depan rumah putihku. Teater ayahku mengalami masa kejayaan ketika aku di sekolah menengah. Selama hampir dua minggu pertunjukan, bangku-bangku penonton selalu penuh. Ayahku pun makin sering berada di rumah putih itu. Sementara ibu tidak lagi bekerja tetapi tetap menulis cerita pendek di rumah krem.
Tahun berganti tahun dan teater ayah makin surut penonton sebab makin banyak bioskop. Orang lebih menyukai visual layar lebar ketimbang pertunjukan teater. Toko bukunya pun makin sedikit dikunjungi pelanggan. Orang lebih menyukai visual yang seakan hidup. Stasiun televisi juga makin banyak, menayangkan sinetron.
Aku di tingkat akhir kuliahku ketika teater ayah mulai ditinggalkan penonton dan anggota. Hanya tersisa Pak Pong yang membantu ayah di toko buku. Semakin sedikit pula orang membeli buku, padahal toko buku ayah berada di pusat kesenian. Cerita-cerita ibu pun semakin sedikit muncul di media sebab banyak penulis baru yang ceritanya lebih disukai.
“Kebutuhan sehari-hari makin mahal,” seru ibu ketika aku sedang mengerjakan skripsiku di ruang tengah. Aku lirik ayah. Beliau mengangguk sambil menghisap rokok dalam-dalam.
“Baiknya bagaimana, Yah?” tanya ibu. Dari nadanya terdengar ibu sedikit histeris. Panik. Baru kali ini selama hidup kami, keuangan keluarga berada pada masa krisis.
“Kebutuhan sehari-hari, pengeluaran bulanan, uang kuliah Gadis, hidup kita ke depannya, bagaimana, Yah?” tanya ibu lagi. Aku terdiam. Aku belum berencana bekerja untuk membantu ayah dan ibu sebab fokusku masih tertuju pada skripsi.
“Aku jual rumah itu, ya?” ibu minta persetujuan ayah.
“Apa memang tidak ada jalan lain? Rumah itu warisan orang tuamu,” seru ayah.
“Habis, bagaimana lagi? Tulisanku kadang dimuat kadang tidak. Toko bukumu, sepi. Kebutuhan hidup tidak bisa menunggu sampai kita dapat uang.”
“Rumah di Menteng mau Ibu jual? Kenapa tidak dikontrakan saja?” tanyaku.
“Kalau dikontrakkan, harus dirapikan dulu, Gadis. Uang darimana untuk merapikan?”
Aku terdiam.
“Lagipula, sudah ada yang mau beli rumah itu. Bagaimana, Yah?” Ibu selalu bertanya “Bagaimana?” sementara dia sebenarnya tahu yang harus di lakukan. Ya, ia lakukan, bukan ayah atau aku. Walau ayah memberi cara lain ibu tetap melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.
“Terserah,”sahut ayah seraya bangkit, masuk ke kamar.
“Gadis?” ibu bertanya padaku.
“Di rumah itu terdapat banyak kenangan, Bu. Apakah tidak ada jalan lain?” tanyaku.
“Jalan lain apa? Berhutang? Ibu tidak mau ada hutang,” seru ibu. Aku terdiam dan seperti ayah, aku berkata, “Terserah ibu”.
***
Wangi cat menyebar ke seluruh ruangan. Rumah putihku, dicat kembali sebab warnanya sudah kelabu. Rumah itu dicat kembali untuk menjadikannya cerah. Putih kembali. Rumah itu dicat kembali bukan karena aku akan menikah atau melahirkan anakku. Rumah itu dicat kembali karena akan dijual untuk kebutuhan hidup kami.
Warna kenangan itu putih. Dan aku menatap rumah putih itu untuk terakhir kalinya. Aku rasa ibu tidak memiliki perasaan akan “warna kenangan” itu. Tetapi apa yang aku rasakan tiba-tiba menguap entah ke mana, ketika kami akan meninggalkan rumah itu setelah memberikan kunci kepada pemilik baru, dan ibu berkata, “Rumah itu kenangan yang putih.” Dan airmatanya menetes ke pipi. Walau ditutupinya, ibu pasti memiliki perasaan yang sama denganku. Warna kenangan itu adalah putih.
Jakarta, 11 Februari 2009